Macam Beladiri Dunia

Lain-Lain

All Self Devence :

A) Sejarah TaeKwonDo
Sejarah TaeKwonDo di Korea

Masa Pertengahan

Pada Dinasti Koryo ( 918 sampai 1392 Masehi ) yang mana penyatuan Semenanjung Korea setelah Shilla, Taekkyon berkembang sangat sistematis dan merupakan mata ujian penting untuk seleksi ketentaraan. Teknik Taekkyon tumbuh menjadi senjata yang efektif untuk membunuh. Pada permulaan Dinasti Koryo, kemampuan beladiri menjadi kualifikasi untuk merekrut personel ketentaraan sebab kerajaan membutuhkan kemampuan pertahanan yang kuat setelah penaklukan seluruh semenanjung Korea. Kemampuan dalam beladiri Taekkyon sangat menentukan pangkat seseorang dalam ketentaraan. Raja – raja pada dinasti Koryo sangat tertarik pada kontes Taekkyon yang disebut “Subakhui”, yang populer juga dimasyarakat dan dijadikan ajang perekrutan tentara. Namun pada akhir pemerintahan Dinasti Koryo ketika penggunaan senjata api mulai dikenal , membuat dukungan terhadap kemajuan beladiri berkurang jauh.

Masa Modern

Pada masa modern Korea , saat Dinasti Chosun ( Yi ) pada tahun 1392 sampai 1910, Kerajaan Korea dan Jaman penjajahan Jepang sampai tahun 1945, Subakhui dan Taekkyon, sebutan Taekwondo pada saat itu mengalami kemunduran dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah yang memodernisasi tentaranya dengan senjata api. Dinasti Yi yang didirikan dalam ideologi Konfusius , lebih mementingkan kegiatan kebudayaan daripada seni beladiri. Kemudian , saat raja Jungjo setelah invasi oleh Jepang pada tahun 1952, pemerintah kerajaan membangun kembali pertahanan yang kuat dengan memperkuat latihan ketentaraan dan praktek seni beladiri. Seputar periode ini, terbit sebuah buku tentang ilustrasi seni bela diri yang diber judul Muyedobo – Tonji, yang memuat gambar – gambar dan ilustrasi yang mirip / menyerupai bentuk / sikap ( Poomse ) dan Gerakan Dasar ( Basic Movement ) Taekwondo sekarang, namun tentunya hal ini tak dapat diperbandingkan begitu saja dengan Taekwondo saat ini yang telah dimodernisasi dengan penelitian yang berdasarkan ilmu pengetahuan modern ( Scientific Studies). Akan tetapi , saat penjajahan Jepang semua kesenian rakyat dilarang termasuk Taekkyon, untuk menekan rakyat Korea. Seni beladiri Taekkyon hanya diajarkan secara sembunyi oleh para master beladiri sampai masa kemerdekaan pada tahun 1945.

Masa Sekarang

Seiring dengan kemerdekaan Korea dari penjajahan Jepang, konsep baru tentang kebudayaan dan tradisi mulai bangkit. Banyak para ahli seni beladiri mendirikan sekolah / perguruan beladiri . Dengan meningkatnya populasi dan hubungan kerjasama yang baik antar perguruan beladiri, akhirnya diputuskan menyatukan berbagai nama seni beladiri mereka dengan sebutan : Tae Kwon Do, pada tahun 1954. Pada 16 September 1961 sempat berubah menjadi Taesoodo namun kembali menjadi Taekwondo dengan organisasi nasionalnya bernama Korea Taekwondo Association ( KTA ) pada tanggal 5 Agustus 1965, dan menjadi anggota Korean Sport Council. Pada era tahun 1965 sampai 1970 an , KTA banyak menyelenggarakan berbagai acara pertandingan dan demonstrasi untuk berbagai kalangan pada skala nasional. Taekwondo berkembang dan menyebar dipelbagai kalangan, hingga diakui sebagai disiplin / program resmi oleh Pertahanan Nasional Korea , menjadi olahraga wajib bagi tentara dan polisi.

Tentara Korea yang berpartisipasi dalam perang Vietnam dibekali keahlian Taekwondo, pada saat itulah Taekwondo mendapatkan perhatian besar dari dunia. Nilai lebih ini menjadikan Taekwondo dinyatakan sebagai olahraga nasional Korea. Pada tahun 1972, Kukkiwon didirikan, sebagai markas besar Taekwondo, hal ini menjadi penting bagi pengembangan Taekwondo keseluruh dunia. Kejuaran dunia Taekwondo yang pertama diadakan pada tahun 1973 di Kuk Ki Won,Seoul ,Korea Selatan, sampai saat ini kejuaraan dunia rutin dilaksanakan setiap 2 tahun sekali. Disamping itu , untuk meningkatkan kualitas Instruktur Taekwondo diseluruh dunia, Kukkiwon membuka Taekwondo Academy, yang mulai tahun 1998 telah membuka Program pelatihannya bagi Instruktur Taekwondo dari seluruh dunia. Kuk Ki Won, sebagai markas besar Taekwondo Dunia, disinilah pusat penelitian dan pengembangan Taekwondo, Pelatihan para Instruktur , sekretariat promosi ujian tingkat internasional. Pada 28 Mei 1973, The World Taekwondo Federation ( WTF ) didirikan, dan sekarang telah mempunyai 156 negara anggota dan Taekwondo telah dipraktekan oleh lebih dari 50 juta orang diseluruh penjuru dunia, dan angka ini masih terus bertambah seiring perkembangan Taekwondo yang makin maju dan populer. Taekwondo telah dipertandingkan diberbagai pertandingan multi even diseluruh dunia , dan Taekwondo telah dipertandingkan sebagai ekshibisi pada Olympic Games 1988 Seoul dan telah dipertandingkan sebagai cabang olahraga resmi di Olympic Games 2000, Sydney.

B) Sejarah Tentang Kempo

Sejarah Shorinji Kempo

Akibat Perang Boxer

Shorinji kempo sendiri mengalami perkembangan pesat di daratan Cina. Pengikutnya semakin banyak dan pengaruhnya semakin besar dalam masyarakat Cina. Di tahun 1900 – 1901, di Cina meletus perlawanan rakyat menentang masuknya Kolonialisme Barat. Pemberontakan di awal abad ke 20 itu akhirnya menjadi gerakan nasional yang disokong Ratu Tze Shi, yang juga ingin membersihkan tanah airnya dari penjajahan Barat.Kolonalisme Barat akhirnya dapat mematahkan perlawanan rakyat Cina dengan menggunakan peralatan perang mutakhir. Sementara rakyat Cina kebanyakan hanya melawan dengan mengandalkan tangan dan kaki saja. perang yang menelan jutaan korban itu terkenal dengan sebutan “Perang Boxer”. Penjajah mengejar dan membunuh pengikut Dharma Taishi, organisasinya dilarang, kuil-kuil Shorinji Kempo dirusak, dibakar dan dihancurkan.

Bikshu-bikshu yang sempat meloloskan diri ke arah timur dan selatan, lalu mengajarkan aliran Shorinji Kempo kepada pedagang-pedagang dari Okinawan, Taiwan dan Muangthai. Karena tidak teroganisasinya kesatuan, maka penyebaran Shorinji Kempo mulai membentuk seni bela diri baru.

Mereka melarikan diri ke Muangthai dengan hanya menguasai teknik GOHO (memukul, menendang dan menangkis) mempengaruhi perkembangan bela diri yang ada di negeri tersebut. Munculah apa disebut Thai Boxing. Ajaran Shorinji Kempo, terutama teknik GOHO, juga mempengaruhi seni bela diri yang ada di Okinawa, Jepang. Maka di Okinawa timbullah seni bela diri yang dinamakan OKINANAWATE yang kemudian dkenal dengan nama KARATE.

Mereka yang melarikan diri ke pulau-pulau Jepang lainnya dan menguasai teknik JUHO (lunak) juga mempengaruhi seni bela diri yang ada di daerah-daerah tersebut. Kemudian muncullah seni bela diri JU-JIT-SU, Ju berarti halus-lenting dan fleksibel. Disamping itu lahir pula seni bela diri AIKIDO dan JUDO. Setelah menghilang beberapa waktu lamanya, kempo mulai bangkit kembali setelah perang dunia II, aliran-aliran seni bela diri lainnya tetap bersumber dari Shorinji Kempo sebagai aliran seni beladiri yang tertua.

Perkembangan Kempo Setelah Perang Dunia II

Shorinji Kempo baru bangkit kembali di Jepang setelah usainya Perang Dunia II. Dalam waktu yang relatif singkat seni bela diri ini menyebar luas, bukan saja di Jepang tetapi diseluruh dunia. Seorang pemuda Jepang yang bernama SO DOSHIN dikirim ke Cina dalam pasukan ekspedisi tentara Jepang ke Manchuria pada tahun 1928. Tetapi ia tidak sepaham dengan cara-cara penjajahan Jepang, kemudian melarikan diri dari induk pasukannya dan mengembara di daratan Cina.Dalam pengembaraannya ia bertemu dengan pendeta Budha dan akhirnya ia dibawa ke kuil Siaw Liem Sie, yang sudah diperbaiki oleh penerus-penerus Dharma Taishi.
Di kuil ini SO DOSHIN mempelajari ilmu Shorinji Kempo langsung dibawah asuhan Mahaguru (sihang) ke-20 yaitu WEN TAY SUN. Karena kesetiaannya dan penguasaannya yang sempurna terhadap Shorinji Kempo, maka SO DOSHIN diberi penghargaan tertinggi menjadi Maha Guru ke – 21 dan ia memperoleh ijin untuk meninggalkan kuil Shorinji untuk meneruskan ajarannya di daratan Jepang.
Tahun 1945, SO DOSHIN kembali ke Jepang dan membuka DOJO (tempat latihan) tersendiri. Ia memilih kota TODATSU, yang terletak di propinsi Kagawa di pulau Shikoku, yang kemudian terkenal sebagai pusat Shorinji Kempo. Banyak sekali yang datang ke DOJOnya untuk menjadi murid di sana, bukan saja dari daerah sekitarnya tetapi juga dari daerah-daerah lainnya, bahkan dari luar Jepang (terutama mahasiswa asing yang belajar di Jepang). SO DOSHIN menggembleng murid-muridnya dengan disiplin yang keras seperti yang dialaminya sendiri. Namun di balik penggemlengan fisik dan mental itu, Guru Besar Shorinji Kempo ini tetap menempatkan seni beladiri ini sebagia pengayom hati dan jiwa dengan penuh rasa damai dan welas asih bagi para pengikutnya.

Sebab itulah lambang organisasi Shorinji Kempo menggunakan lambang agama Budha, yaitu “Manji”, semacam tanda swastika yang berputar ke kiri, yang berarti “kasih sayang dan kekuatan” yang sesuai dengan doktrin Shorinji.

Dalam tindakan sehari-hari sering diartikan sebagai berikut :
“Dimana ada kekuatan harus ada kebijaksanaan dan kebijaksanaan harus disertai

Sejarah Perkembangan Kempo Di Indonesia

Shorinji Kempo Sejak akhir tahun 1959, pemerintah Jepang menerima mahasiwa dan pemuda Indonesia untuk belajar dan latihan sebagai salah satu bentuk pembayaran pampasan perang. Sejak itu secara bergelombang dari tahun ke tahun sampai tahun 1965, ratusan mahasiswa dan pemuda Indonesia mendapat kesempatan belajar di Jepang. Tidak sedikit di antara mereka itu memanfaatkan waktu senggang dan liburannya untuk belajar serta memperdalam seni beladiri seperti Karate, Judo, Ju Jit Su dan juga Kempo.

Sepulangnya di tanah air, mereka bukan saja menggondol ijazah sesuai dengan bidang studinya tetapi juga memperoleh tambahan berupa penguasaan seni bela diri seperti tersebut di atas.

Pada tahun 1964, dalam suatu acara kesenian yang dipertunjukkan mahasiswa Indonesia untuk menyambut tamu-tamu dari tanah airnya, seorang pemuda yang bernama UTIN SAHRAS mendemonstrasikan kebolehannya bermain Kempo. Ia datang di Jepang pada tahun 1960 dan tinggal di Tokyo sebagai Trainee Pampasan.
Apa yang didemonstrasikannya itu menarik minat pemuda dan mahasiswa Indonesia lainnya, diantaranya Indra Kartasasmita dan Ginanjar Kartasasmita serta beberapa orang lainnya. Mereka lalu datang ke pusat Shorinji Kempo di kota Tadotsu untuk menimba langsung seni bela diri itu dari Sihangnya.

Untuk meneruskan warisan seni bela diri itu seperti apa yang mereka peroleh di Jepang, ketiga pemuda itu, yaitu Utin Sahras (almarhum), Indra Kartasasmita dan Ginanjar Kartasasmita, bertekad melahirkan dan membentuk suatu wadah yang bernama PERKEMI (Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia), dan resmi dibentuk pada tanggal 2 Februari 1966. Kini PERKEMI telah melahirkan ribuan kenshi yang tersebar diseluruh Indonesia.

Selain itu merupakan salah satu organisasi induk yang bernaung di bawah KONI Pusat, PERKEMI juga menjadi anggota penuh dari Federasi Kempo se-Dunia atau WOSKO (World Shorinji Kempo Organization), yang berpusat di kuil Shorinji Kempo di kota Tadotsu, Jepang.

Sejak tahun 1966 sampai tahun 1976, PB. PERKEMI mengadakan pemilihan pengurus setiap dua tahun sekali. Tapi sejak tahun 1976 sampai sekarang masa bakti pengurus berlangsung selama empat tahun.

Sejak didirikannya pada tanggal 2 Februari 1996, PB. PERKEMI telah banyak melakukan kegiatan yang sifatnya lokal, nasional dan internasional. Tahun 1970 telah diselenggarakan Kejuaraan Nasional Kempo yang pertama di Jakarta, dan sampai sekarang masih terus berlanjut. Begitu juga dengan Kejuaraan antar Perguruan Tinggi, dimana diadakan pertama kalinya pada tahun 1971 yang sampai sekarang berjalan terus setiap dua tahun sekali.

Selain itu sejak PON IX / 1977 di Jakarta, Kempo termasuk salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan.

Falsafah Shorinji Kempo

Karena seni bela diri kempo waktu itu menjadi sebagian dari latihan bagi para calon Bikshu, dengan sendirinya ilmu itu harus mempunyai dasar falsafah yang kuat. Dengan dilandasi agama Budha, yaitu tidak membunuh dan menyakiti, maka semua KENSHI (pemain Kempo) dilarang menyerang terlebih dahulu sebelum diserang. Hal ini menjadi doktrin Kempo, bahwa “perangilah dirimu sendiri sebelum memerangi orang lain”. Berdasarkan doktrin ini mempengaruhi pula susunan beladiri ini, sehingga gerakan teknik selalu dimulai dengan mengelak/menangkis serangan dahulu, baru kemudian membalas. Selanjutnya disesuaikan menurut kebutuhan yakni menurut keadaan serangan lawan.Dharma selalu mengajarkan bahwa disamping dilarang menyerang juga tidak selalu setiap serangan dibalas dengan kekerasan. Sehingga dalam ilmu Kempo itu lahirlah apa yang berbentuk mengelak saja. Cukup menekukkan bagian-bagian badan lawan, kemudian mengunci dan bila terpaksa barulah dilakukan penghancuran titik-titik lemah lawan, berupa tendangan, sikutan, pukulan dan sebagainya. Bentuk yang pertama dikenal sebagai JUHO dan yang berikutnya sebagai GOHO.

Setiap kenshi diharuskan menguasai teknik GOHO (keras) dan JUHO (lunak), artinya tidak dibenarkan apabila hanya mementingkan pukulan dan tendangan saja dengan melupakan bantingan dan lipatan-lipatan.

C) Sejarah Tentang Aikido

Aikido,Sejarah

Aikido

Fokus : Bertarung

Negara asal : Jepang

Pencipta : Morihei Ueshiba

Seni pendahulu : aiki-jūjutsu; judo; jujutsu; kenjutsu; sōjutsu

Aikido adalah salah satu seni beladiri asal Jepang yang diciptakan oleh Morihei Ueshiba berasal dari Daito Ryu Aiki-Jujutsu. Daito Ryu Aiki-Jujutsu diciptakan pada era modernisasi Jepang yang berlangsung sekitar tahun 1800-an. Beladiri ini merupakan kombinasi dari ilmu pedang Kenjutsu dan Jujutsu yang juga merupakan bentuk seni beladiri tradisional Jepang. Pengaruh Kenjutsu tampak dalam pengaturan gerakan gerakan atau langkah langkah kaki. Sedangkan pengaruh Jujutsu tampak dalam penggunaan teknik kuncian dan lemparan.

Kata ” Aikido” berasal dari tiga huruf kanji:

  • ai – bergabung, menyelaraskan
  • ki – roh, hidup energi
  • – jalan, cara

Seni beladiri ini diciptakan dengan menekankan harmonisasi dan keselarasan antara energi ki individu dengan ki alam semesta. Aikido juga menekankan pada prinsip kelembutan dan bagaimana untuk mengasihi serta membimbing lawan. Prinsip ini diterapkan pada gerakan-gerakannya yang tidak menangkis serangan lawan atau melawan kekuatan dengan kekuatan tetapi “mengarahkan” serangan lawan untuk kemudian menaklukkan lawan tanpa ada niat untuk mencederai lawan. Berbeda dengan beladiri pada umumnya yang lebih mengutamakan pada latihan kekuatan fisik dan stamina, Aikido lebih mendasarkan latihannya pada penguasaan diri dan kesempurnaan teknik. Teknik teknik yang digunakan dalam Aikido kebanyakan berupa teknik elakan, kuncian,lemparan, bantingan. Sementara teknik teknik pukulan maupun tendangan dalam praktiknya jarang digunakan.Falsafah falsafah yang mendasari Aikido, yaitu kasih dan konsep mengenai ki inilah yang membuat Aikido menjadi suatu seni beladiri yang unik.

Dalam Aikido ini juga tidak mengenal sistem kompetisi atau pertandingan, seperti beladiri-beladiri lainnya. Namun sistem kompetisinya lebih bersifat embukai (peragaan teknik).

Sistem tingkatan yang harus dilalui oleh seorang praktisi Aikido hampir sama dengan yang digunakan oleh seni beladiri asal Jepang lainnya, yaitu sistem Kyu untuk tingkat dasar dan Shodan untuk tingkat mahir. Secara singkat, praktisi yang berada di tingkat kyu 6 sampai kyu 4 menggunakan tanda berupa sabuk yang berwarna putih. Sementara praktisi yang mencapai tingkatan kyu 3 sampai 1 menggunakan sabuk berwarna cokelat. Tingkatan selanjutnya adalah Shodan. Praktisi yang mencapai tingkatan ini ditandai dengan sabuk yang berwarna hitam serta aksesoris tambahan berupa celana panjang bernama Hakama. Celana seperti ini biasa dipakai oleh para samurai pada zaman dahulu.

Hingga saat ini Aikido juga banyak memiliki banyak cabang-cabang “teknik” atau “style” yang juga memperkaya teknik-teknik yang tidak meninggalkan teknik dasarnya. Misalnya aliran Nisyo yang lebih menekankan style teknik-tekniknya kepada pedang kayu (boken) dan tongkat/stik (jo). Juga aliran Iwama yang lebih menekankan teknik-tekniknya kepada kecepatan dalam mengatasi serangan lawan (nage).

Diantara tehnik-tehniknya adalah

Irimi Nage

Irimi Nage dalam bahasa Inggris diartikan sebagai “entering throws” dan dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai “Teknik Lemparan Masuk dan Menyusup”. Irimi merupakan salah satu pilar teknik Aikido yang memberikan suatu gambaran bagaimana teknik beladiri itu menyambut serangan lawan dengan tanpa bergeming atau mundur. Teknik ini tidak pula bersifat menahan atau memblokade tenaga serang lawan baik berupa pukulan, tendangan atau lainnya. Tetapi teknik ini secara fisik masuk dan menyatu dengan penyerangnya dan secara spirit ia mengambil inisiatif awal ketika niat penyerang sudah timbul. Teknik tampak sederhana dan terkesan mudah, tetapi justru di dalam teknik ini kedalaman pemahaman dalam spirit (semangat) “Aiki” atau harmonisasi “Ki” (semangat) dapat diujikan. Teknik ini ternyata merupakan teknik terlama dalam penyempurnaannya dan juga makin sederhana kelihatannya.

Suwari Waza

Suwari Waza adalah cara pembelaan diri dari posisi duduk. Dari segi konsep pembelaan diri, semua tehnik bela diri Aikido yang dilakukan dengan berdiri bisa pula dilakukan dalam posisi duduk. Cara pembelaan diri seperti ini sangat berguna ketika seorang praktisi bela diri tidak dalam keadaan siap berdiri ketika serangan terjadi.

Sankyo

Sankyo adalah tehnik kuncian dasar ke tiga dalam Aikido. Tehnik ini memberi rasa sakit pada pangkal lengan dan lengan, atau sekaligus pada jari-jari dengan memuntir lengan ke arah dalam, dengan sudut siku 90 derajat. Saat tehnik ini di eksekusi, tangan penyerang terkunci dengan rasa sakit yang kuat, sehingga memudahkan jalan bagi pembela diri untuk melumpuhkan penyerang. Dalam rekaman tersebut, gerakan kuncian tangan pembela diri dibantu dengan pergerakan pinggul dan kaki yang melingkar berputar kearah belakang. gerak pinggul dan kaki dalam menetralisasi serangan dalam aikido sama pentingnya dengan olah gerak tangan.

Stick Dissarming

Setiap senjata mempunyai karakteristik penyerangan tertentu. Ini menyangkut bagaimana sebuah senjata digunakan, mencakup arah, tenaga, dan tehnik penyerangan. tongkat pendek cenderung digunakan untuk memukul dengan sabetan. karena sabetan dilakukan dengan arah kesamping membentuk lintasan kurva melingkar, maka tehnik yang rasional untuk menangkap serangan adalah dengan berpadu mengikuti lintasan kibasan tongkat, dan kemudian meneruskan dengan gerakan sirkuler menjadi tehnik lemparan. Cara ini selain efektif, juga mengurangi resiko tubrukan antara tubuh pembela diri dengan tongkat. efek sentrifugal serangan dimanfaatkan tenaganya untuk membantu pembela diri melempar penyerang.

Tanto Tori ( Knife Disarming )

Pelumpuhan serangan bersenjata memerlukan pengetahuan tentang arah serangan, anatomi senjata maupun anatomi anggota tubuh penyerang yang dipakai untuk menyerang. Serangan pisau terdiri dari faktor ujung tajam dan sisi tajam pisau di sertai arah tusukan atau bacokan. dari segi aplikasi, tehnik aikido tidak tertumpu pada pisau sebagai sumber satu-satunya serangan, melainkan melumpuhkan mekanisme penyebab gerak serangan – yaitu anggota tubuh penyerang berupa tangan dan lengan beserta seluruh anatominya. Dengan melumpuhkan tangan dan lengan dengan tehnik kuncian tertentu, maka dengan sendirinya pisau menjadi barang yang tidak membahayakan.

Tanto Tori 1 Knife Disarming

Hal tersulit untuk melumpuhkan senjata pisau adalah membaca lintasan senjata sewaktu digunakan. ini menyangkut taktik yang akan digunakan untuk berpadu dengan serangan, sehingga serangan tertangkap dan kemudian di kembalikan pada penyerang. Ini adalah Starting Point pembelaan diri sebelum pembela diri mempunyai kesempatan atau celah untuk menggunakan tehnik bela dirinya.Tanto Tori.

Sejarah Aikido Sep 24, ’07 12:51 PM
for everyone

Aikido adalah seni beladiri yang berasal dari Jepang yang dikembangkan oleh “O Sensei” Morihei Ueshiba (karena jasa jasanya ia disebut O Sensei yang berarti Guru Besar).

Gerakan gerakan yang digunakan dalam Aikido merupakan gabungan dari beberapa gerakan seni beladiri jepang kuno seperti Kenjutsu, Jujitsu,

dan beberapa beladiri jepang kuno lainnya.

Aikido tidak berfokus pada bagaimana menyerang lawan dengan cara memukul atau menendang,

tetapi Aikido lebih berfokus tentang bagaimana cara menggunakan teknik aikido untuk menangkap, mengendalikan, serta mengarahkan tenaga dari serangan lawan agar tidak mencederai atau mencelakai kita.

Di dalam Aikido diajarkan beberapa teknik yang meliputi kuncian, lemparan, mematahkan persendian lawan maupun menetralkan serangan agresif dari lawan.

Seni beladiri Aikido ini dapat diikuti semua orang baik pria, wanita, tua maupun muda, dan sangat efektif untuk membela diri terhadap serangan satu orang lawan maupun sekelompok orang.

Aikido juga mengajarkan tentang bagaimana menyatukan antara pikiran, gerakan tubuh, dan hati untuk mencapai suatu keseimbangan yang solid sehingga akan menciptakan suatu pengendalian emosi yang mengarah kepada perdamaian.

Aikido dapat diterjemahkan kedalam bahasa inggris menjadi “The Way of Harmony of the Spirit” yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mempunyai arti “Cara atau Jalan Menuju Keselarasan Jiwa”

** Macam-Macam Aliran Beladiri Dunia**

Berikut ini beberapa nama aliran beladiri yang berkembang di beberapa negara di dunia

  • Australia
    Zen Do Kai
  • Brittany
    Gouren
  • Brazil
    Brazilian Jiu-Jitsu,Capoeira,Vale tudo
  • Burma(Myanmar)
    Bando,Lethwei
  • Cambodia
    Bokator,Pradal Serey
  • Canada
    Okichitaw
  • China
    Baguazhang,Bājíquán,Changquan,Fanziquan,Hung Ga,Liuhebafa,
    Northern Praying Mantis,Southern Praying Mantis,
    Sanshou,Shaolin Kung Fu,
    Shuai Jiao, 

    Tai chi chuan,Wing Chun,Wudang Kung Fu,Wushu,XingyiquanZui Quan

  • Egypt
    Tahtib
  • France
    Canne de combat,Kinomichi,Savate
  • Germany
    German school of fencing
  • Georgia
    Khridoli
  • Greece
    Pankration
  • Iceland
    Glima
  • Indonesia
    Pencak Silat
  • India
    Dravidian martial arts,Gatka,Kalarippayattu,Malla-yuddha,Silambam,Vajra Mushti,Pehlwani
  • Iran
    Kung Fu To’a,Varzesh-e Pahlavani
  • Israel
    Krav Maga
  • Japan
    Aikido,Battōjutsu,Hojōjutsu,Iaidō,Iaijutsu,Jōdō,Judo,Jujutsu,Jūkendō,
    Juttejutsu,Karate,Kendo,Kenpō,
    Kenjutsu,Kyūdō,Kyūjutsu,Naginatajutsu,Ninjutsu,Shurikenjutsu,Sōjutsu,Sumo
  • Korea
    Gwon-gyokdo,Haidong Gumdo,Hapkido,Hwa Rang Do,Kuk Sool Won,Soo Bahk Do,Ssireum,Subak,Taekkyeon,Taekwondo,Tang Soo Do
  • Malaysia
    Silat Melayu
  • New Zealand
    Mau r�kau
  • Nigeria
    Dambe
  • Pakistan
    Pehlwani,Malakhra
  • Philippines
    Eskrima, Modern Arnis Sikaran,Yawyan,Panantukan
  • Portugal
    Jogo do Pau
  • Russia
    Fistfight,Sambo,Systema
  • Ryukyu Kingdom
    Karate Okinawan kobudÅŤ
  • Serbia
    Svebor,Real Aikido
  • Sri Lanka
    Dravidian martial arts
  • Switzerland
    Schwingen
  • Somalia
    Istunka
  • Spain
    Spanish school of swordsmanship,Lucha Canaria,Juego del Palo,Yawara-Jitsu
  • Thailand
    Muay Thai
  • Turkey
    YaÄźlı GüreÅź
  • United Kingdom
    Bartitsu,Defendu,Singlestick
  • United States of America
    Chun Kuk Do,Jeet Kune Do,Kajukenbo,Marine Corps Martial Arts Program,Modern Army Combatives,Toso Kune Do,Collegiate Wrestling
  • Uzbekistan
    Kurash
  • Vietnam
    Vovinam ·Nhat NamNo

aliran yang bersifat umum Archery,Boxing ,Fencing ,Kickboxing ,Silat ,Stick fighting ,Wrestlin

D) Sejarah Tentang Jiu-jutsu

Jujutsu (bahasa Jepang: 柔術, jūjutsu; juga jujitsu, ju jutsu, ju jitsu, atau jiu jitsu) adalah nama dari beberapa macam aliran beladiri dari Jepang. Tidaklah betul jika dikatakan bahwa Ju-Jitsu mengacu pada satu macam beladiri saja.

Jujutsu pada dasarnya adalah bentuk-bentuk pembelaan diri yang bersifat defensif dan memanfaatkan “Yawara-gi” atau teknik-teknik yang bersifat fleksibel, dimana serangan dari lawan tidak dihadapi dengan kekuatan, melainkan dengan cara “menipu” lawan agar daya serangan tersebut dapat digunakan untuk mengalahkan dirinya sendiri. Dari seni beladiri Jujutsu ini, lahirlah beberapa seni beladiri lainnya yang mempunyai konsep defensif serupa, yaitu Aikido dan Judo, keduanya juga berasal dari Jepang.

Jujutsu terdiri atas bermacam-macam aliran (Ryuha), namun pada garis besarnya terbagi atas dua “gaya”, yaitu tradisional dan modern. Gerakan dari kedua macam “gaya” Jujutsu ini adalah hampir sama, namun jurus-jurus Jujutsu modern sudah disesuaikan dengan situasi pembelaan diri di zaman modern, sedangkan jurus-jurus Jujutsu tradisional biasanya mencerminkan situasi pembelaan diri di saat aliran Jujutsu yang bersangkutan diciptakan. Sebagai contoh, Jujutsu yang diciptakan di zaman Sengoku Jidai (sebelum Shogun Tokugawa berkuasa) menekankan pada pertarungan di medan perang dengan memakai baju besi (disebut Yoroi Kumi Uchi), sedangkan yang diciptakan di zaman Edo (sesudah Shogun Tokugawa berkuasa) menekankan pada beladiri dengan memakai pakaian sehari-hari (Suhada Jujutsu).

Teknik-teknik Jujutsu pada garis besarnya terdiri atas atemi waza (menyerang bagian yang lemah dari tubuh lawan), kansetsu waza/gyakudori (mengunci persendian lawan) dan nage waza (menjatuhkan lawan). Setiap aliran Jujutsu memiliki caranya sendiri untuk melakukan teknik-teknik tersebut diatas. Teknik-teknik tersebut lahir dari metode pembelaan diri kaum Samurai (prajurit perang zaman dahulu) di saat mereka kehilangan pedangnya, atau tidak ingin menggunakan pedangnya (misalnya karena tidak ingin melukai atau membunuh lawan).

Aliran Jujutsu yang tertua di Jepang adalah Takenouchi-ryu yang didirikan tahun 1532 oleh Pangeran Takenouchi Hisamori. Aliran-aliran lain yang terkenal antara lain adalah Shindo Yoshin-ryu yang didirikan oleh Matsuoka Katsunosuke pada tahun 1864, Daito-ryu yang didirikan oleh Takeda Sokaku pada tahun 1892, Hakko-ryu yang didirikan Okuyama Ryuho pada tahun 1942, dan banyak aliran lainnya.

Jujutsu Tradisional dan Non-Tradisional

Di Indonesia, ada beberapa perguruan Jujutsu/Ju-Jitsu yang cukup populer. Di berbagai kota besar dapat dijumpai perguruan-perguruan Jujutsu/Ju-Jitsu, antara lain PORBIKAWA (Persatuan Olahraga Beladiri Ishikawa) yang didirikan oleh Murid Tunggal Master Yoshen Ishikawa yaitu Bp. Tan Sing Tjay (Soetikno)pada tahun 1949 dengan nama :Ishikawa Jiu Jitsu Club. Perguruan Jiujitsu Club Indonesia (JCI) yang didirikan oleh Bp. Ferry Sonneville pada tahun 1953, perguruan Institut Ju-Jitsu Indonesia (IJI) dengan pendiri-pendirinya: Drs. Firman Sitompul (DAN X) dan Prof Irjen Pol Drs. DPM. Sitompul, SH., MH (DAN X) pada tahun 1982, perguruan Goshinbudo Jujutsu Indonesia (GBI) yang didirikan oleh Bp. Ir. C.A. Taman M.Eng, Nanadan Renshi-Shihan dan Bp. Ben Haryo S.Psi, M.Si, Godan-Shihan pada tahun 1990-an, perguruan Take Sogo Budo yang didirikan oleh Bp. Hero Pranoto pada tahun 1995, dan perguruan Samurai Jujutsu Indonesia (SJJI) yang didirikan oleh Bp. Budi Martadi atau Efer martadi pada tahun 2000.

Perguruan PORBIKAWA, JCI, IJI dan Take Sogo Budo telah mengembangkan berbagai teknik beladiri baru yang disesuaikan dengan bangsa Indonesia, misalnya dengan mengkombinasikan teknik-teknik dari beladiri lain kedalam silabusnya dan menciptakan teknik-teknik baru yang lebih sesuai dengan situasi pembelaan diri di Indonesia. Sehingga disebut sebagai perguruan yang independen dan tidak terikat dengan tradisi dari negara asal Jujutsu (Jepang).

Pendekatan yang berbeda diambil oleh Perguruan Goshinbudo Jujutsu Indonesia (GBI) berafiliasi dengan JKF-Wadokai (beraliran Wado) dan Sekai Dentokan Renmei (beraliran Hakko-ryu) [1] sedangkan Samurai Jujutsu Indonesia (SJJI) berafiliasi dengan Ninpo Bujinkan Indonesia [2]. Kedua perguruan diatas beraliran Jujutsu tradisional/murni, karena gerakannya didasarkan pada teknik-teknik Jujutsu Jepang sesuai aslinya, tanpa perubahan atau inovasi lokal dari anggota-anggota yang ada di Indonesia. Di perguruan GBI misalnya, diajarkan waza (teknik) yang berasal dari Hakko-ryu Jujutsu, Wado-ryu dan Yoshin-ryu Jujutsu, Sedangkan di perguruan SJJI, diajarkan teknik dari Hontai Takagi Yoshin-ryu Jujutsu, Asayama Ichiden-ryu Jujutsu dan beberapa aliran lainnya. Karena itu kedua perguruan ini disebut sebagai Jujutsu tradisional atau “ortodoks”.

Ciri khas Jujutsu tradisional antara lain adalah tidak memiliki format pertandingan/kompetisi, serta masih menjalin hubungan dengan hombu dojo (dojo induk) yang ada di negara asal Jujutsu, yaitu Jepang. Sedangkan Jujutsu modern (seperti Gracie Jiu-Jitsu dari Brazil) biasanya menekankan pada pertandingan/kompetisi dan sudah tidak memiliki hubungan keorganisasian dengan negara asalnya (Jepang).

Beberapa orang ahli Jujutsu di luar Jepang ada yang mengembangkan aliran seni beladirinya sendiri, yang kemudian diberi nama Jujutsu untuk menjelaskan bahwa walaupun aliran tersebut diciptakan diluar Jepang, namun awalnya berasal dari beladiri Jepang. Beladiri Ketsugo Ju-Jitsu ( Jujutsu) misalnya, diciptakan sendiri oleh Prof. Harold Brosious dari USA setelah mempelajari Jujutsu Jepang dan melakukan berbagai pengembangan. Demikian juga dengan Small Circle Ju-Jitsu yang diciptakan oleh Prof. Wally Jay.

Perguruan Jujutsu di Indonesia

Ada banyak organisasi Jiu-Jitsu (Jujutsu) di Indonesia, dimana yang tertua adalah Jiujitsu Club Indonesia (JCI) yang didirikan oleh alm. Bp. Ferry Soneville pada tahun 1950. Bp. Soneville juga dibantu oleh Bp. M.A. Affendi dan beberapa ahli beladiri lainnya saat merintis perguruan beliau. Perguruan ini sampai sekarang (2007) masih aktif dibawah pimpinan Bp. Prayitno, seorang pebeladiri senior yang sempat tinggal lama di Australia dan belajar dibawah bimbingan Mr. Jan de Jong, seorang murid langsung dari grandmaster Minoru Mochizuki.

Sebelum kemerdekaan Indonesia, yaitu pada masa penjajahanxcb Belanda, tepatnya tahun 1920an, di Jawa Tengah ada tercatat perguruan Tsutsumi Hozan-ryu Jujutsu yang diasuh oleh keluarga Saito (Mr. Jan de Jong tercatat sebagai anggota perguruan ini), dan perguruan Jujutsu jalan Kranggan Surabaya yang diasuh oleh Mr. Isuki Watanabe. Namun kedua perguruan ini tidak aktif lagi semenjak perang dunia ke II, walaupun masih ada murid-murid perguruan tersebut yang tetap setia mengajarkan Jujutsu diluar Indonesia.

Selepas perang dunia ke II, beberapa tokoh Judo yang juga menguasai Jujutsu mengajarkan beladiri Jujutsu sebagai bagian dari teknik self-defense yang diajarkan kepada murid-murid Judo. Diantara guru-guru tersebut adalah Mr. Seichi Makino dan Mr. Dick Schilder, keduanya mengajarkan Jujutsu di Pulau Jawa.

Perguruan Jujutsu era-70 sampai sekarang

Pada era 1970an, beberapa orang pemuda Indonesia yang dulu berlatih di luar negeri dan kembali ke Indonesia turut meramaikan khasanah kekayaan seni beladiri Jujutsu di Indonesia, antara lain adalah Bapak C.A. Taman yang kemudian mendirikan perguruan Wadokai pada tahun 1972 dan turut membidani kelahiran perguruan Goshinbudo Jujutsu Indonesia (GBI) pada tahun 1997. C.A. Taman adalah satu-satunya putra bangsa Indonesia yang sempat berlatih langsung dengan grandmaster Hironori Otsuka, sang pewaris ke 4 dari aliran Shindo Yoshin-ryu Jujutsu dan pendiri aliran Wado-ryu Karate. Ben Haryo, yang sekarang menjadi instruktur kepala (wakil guru besar) untuk GBI, adalah murid langsung beliau. Selain Ben Haryo, orang lain yang berjasa kepada perkembangan GBI adalah Saleh Jusuf, seorang ahli beladiri yang lama tinggal di Negeri Belanda, dan semasa tinggal disana sempat mempelajari Judo dari Mr. Willem Ruska (juara Olympiade), Jujutsu dari Mr. John Phillips dan Sambo (gulat Rusia) dari Mr. Chris Doelman.

GBI di Indonesia dikenal sebagai organisasi “kosmopolitan” karena sering menerima murid dari kalangan orang asing, dan berafiliasi dengan banyak guru besar Jujutsu yang berada di luar negeri. Nama-nama seperti Prof. George Kirby (American Jujutsu Association, USA), Prof. Harold Brosious (Ketsugo Jujutsu USA) dan Col. Roy Hobbs (Sekai Dentokan Renmei) masih tercatat sebagai anggota dewan penasehat GBI. Aliran Dentokan Aiki Jujutsu yang diajarkan oleh Col. Roy Hobbs, disebarkan di Indonesia oleh Bp. Ben Haryo, dan diajarkan sebagai salah satu aliran Jujutsu yang berada dalam ruang lingkup GBI Club. Pada bulan Maret 2009, Col. Roy Hobbs mengutus Mr. Andy Roosen (DAN-5) untuk mengunjungi markas GBI di Jakarta dan melakukan seminar kecil untuk beladiri praktis (Goshin Jutsu dan Aiki Jujutsu), latihan gabungan, penyeragaman teknik dan perbandingan hasil riset, sekaligus merayakan ulang tahun GBI dan meresmikan GBI sebagai Dentokan Indonesia, dibawah pimpinan Ben Haryo sebagai pelatih resmi pertama di Indonesia, dan tercatat dalam sejarah sebagai murid pertama Col. Roy Hobbs di Asia Tenggara. Col. Hobbs sendiri mempelajari seni beladiri Aiki Jujutsu tersebut dari guru besar Okuyama Ryuho (dari aliran Hakko-ryu) dan Irie Yasuhiro (dari aliran Kokodo-ryu) di Jepang pada tahun 1980an-1990an sampai dinobatkan sebagai Shihan (Master Instructor) oleh guru besar Ryuho Okuyama dan Menkyo Kaiden (sudah menamatkan seluruh pelajaran dalam perguruan) oleh Irie Yasuhiro.

PORBIKAWA-KARATEDO INDONESIA Selain nama-nama diatas, tidak dapat dilupakan keberadaan perguruan PORBIKAWA (Persatuan Olah Raga Beladiri Ishikawa) yang didirikan oleh murid langsung dari Master Yoshen Ishikawa, yaitu Bp. Tan Sing Tjay (Soetikno) pada tahun 1949 dengan nama perguruannya : ” Ishikawa Jiu jitsu Club ” di Surabaya. Selain Soetikno belajar ilmu tsb.diatas, memang sejak masa kanak-kanaknya telah menggemari ilmu silat ( Kun Tao ) sejak usianya baru 10 tahun, ia telah pula ikut-ikut belajar ilmu silat Kun Tao tsb dari 2 orang guru Kun Tao-nya dari aliran-aliran yang berbeda.

Menurut Soetikno, Ilmu Silat atau Ilmu beladiri tidaklah sempurna apabila orang hanya mampu membela diri dengan salah satu jenis aliran saja, oleh karena dalam suatu perkelahian tidak bakal hanya terjadi pukul-memukul atau bergumul belaka, melainkan akan terjadi segala bentuk gerakan tehnik perlawanannya, apakah itu pukulan, tendangan maupun pergumulan dsb.

Sejak berkembang pesatnya di tahun 1963, maka club tersebut diubah namanya untuk menyesuaikan dengan isinya yang ada saat itu, maka dinamailah PORBIKAWA dari singkatan:Persatuan Olah Raga Beladiri Ishikawa, adalah pencantuman nama gurunya dengan mengingat jasa-jasanya yang pernah menganjurkan agar Soetikno belajar tehnik beladiri yang lain selain Jiu Jitsu, agar Soetikno lebih mendapat pandangan luas dalam bidang seni beladiri, karena ilmu yang manapun saja pasti akan terus berkembang tanpa hentinya seirama dengan kemajuan jaman.

Pada tahun 1972, PORBIKAWA mendapat undangan dari konggres PORKI (Belum FORKI) di Jakarta dan telah hadir 24 Aliran seni beladiri Karate se-Indonesia. Kongres itu telah berhasil membentuk suatu wadah besar Bernama Federasi OlahRaga Karate-Do Indonesia (FORKI)dan menampung seluruh aspirasi aliran dan PORBIKAWA berubah menjadi PORBIKAWA KARATE-DO INDONESIA hingga sekarang ini. Perguruan ini sampai sekarang masih eksis, dan berpusat di Surabaya.

Perguruan Jujutsu lainnya yang masih eksis di Indonesia adalah Take Sogo Budo yang dipimpin Hero Pranoto, dan KYUURAI yang dipimpin oleh Sensei Darmawan.Perguruan Kyuurai Jujitsu dirintis pertama kali di Gelanggang Generasi Muda Bandung tahun 2000. Berkembang di Universitas Katolik Parahyangan Bandung dirintis oleh Renshi Ichi-Dan Yosafat Tunjung, Bulungan, Jakarta Selatan, dirintis oleh Sempai Tagor Ricardo, Sempai Beverly Charles, dan Sempai Ira Hutabarat ,dikembangkan di Batamindo-Batam Kep.Riau dirintis oleh DR John Sulistiawan,bersama dengan Renshi Ichi-Dan Khufran Hakim Noor dan Rizka Billitania.Aliran Kyuurai menitik beratkan pada pemahaman dan filosofi gerak koshi no mawari yang langka.Dan sistem pengobatan yang berdasarkan pada Kokyu-ho dan pengaturan pola makanan dengan buah-buahan dan sayuran.http//www.jujitsu-kyuurai@blogspot.com

Selain itu tidak boleh dilupakan bahwa aliran Kushin-ryu Jujutsu yang diajarkan oleh Mahaguru Matsuzaki Horyu juga diajarkan sebagai bagian dari silabus perguruan Kushin-ryu M Karatedo Indonesia, oleh murid-murid beliau yang berkebangsaan Indonesia, yaitu Bp. Buchori dan Bp. Hambali

Dari tinjauan diatas dapat kita lihat bahwa di Indonesia ada cukup banyak perguruan seni beladiri Jujutsu dengan berbagai alirannya.

Seni beladiri Jujutsu di Indonesia belum mencapai kemajuan yang pesat dan mencapai popularitas seperti dialami oleh beladiri lainnya, karena di Indonesia belum ada wadah yang dapat menjadi ajang silaturahmi dan kerjasama semua perguruan Jujutsu yang ada, tidak seperti Pencak Silat yang dapat bersatu lewat IPSI nya dan Karatedo yang dapat bersatu lewat FORKI. Jika perguruan-perguruan Jujutsu yang berbeda-beda aliran di Indonesia dapat mencapai kata sepakat untuk membentuk suatu wadah persatuan dan kerjasama, dimana semua perguruan bisa duduk sebagai mitra yang sejajar dan saling menghormati, maka perkembangan beladiri Jujutsu di Indonesia tentu tidak akan kalah kemajuannya dengan olahraga beladiri Jepang lainnya.

Salah satu perguruan Jujutsu di Indonesia yang cukup sukses dan berhasil memiliki anggota dalam jumlah besar adalah dari aliran Kyushin Ryu. Jiu-Jitsu aliran “Kyushin Ryu” yang kabarnya masuk ke Indonesia pada masa pergolakan Perang Dunia II (1942) di bawa oleh seorang tentara Jepang yang bernama Ishikawa. Karena itu Jiu-jitsu Indonesia (skrg. IJI-Institut Jiu-Jitsu Indonesia) dikenal dengan aliran I Kyushin Ryu.

Ishikawa kemudian mewariskan ilmunya kepada R. Sutopo (seorang ahli Silat dari BANTAR ANGIN Ponorogo) yang kemudian diturunkan kepada kelima muridnya yaitu Drs. Firman Sitompul(Dan X),Prof. Irjen(Pol)Drs. DPM Sitompul, SH, MH(Dan X), Drs. Heru Nurcahyo (Dan VIII), Drs. Bambang Supriyanto (Dan VI), dan Drs. Heru Winoto (Dan V). Kelima murid inilah yang menjadi cikal bakal tumbuh dan berkembangnya Jiu-Jitsu aliran IJI di Indonesia. Salah satu penerusnya adalah Drg. Poul DH Sitompul, M.M (Dan IV) yang langsung belajar dari kedua pamannya (Drs. Firman Sitompul, Dan X dan Prof. Irjen. Drs DPM Sitompul, SH., MH., Dan X)Perguruan IJI hanya mengajarkan aliran Ju-Jitsu hasil karya Raden Sutopo dan tidak mengajarkan aliran Ju-Jitsu lainnya. Sedangkan ilmu warisan dari Master Ishikawa yang sesuai bentuk aslinya diajarkan di perguruan PORBIKAWA yang sekarang masih eksis di Surabaya.

Untuk mengembangkan Jiu-Jitsu hasil karya Bp. Sutopo ini ke seluruh Indonesia maka kemudian pusat pengembangan Ju-Jitsu dipindahkan ke Jakarta. Di sinilah dibentuk suatu organisasi resmi dan berbadan hukum yang bernama ” Institut Jiu-Jitsu Indonesia ” disingkat ” IJI “, tepatnya tanggal 8 Desember 1981.

Pada tahun itu juga saat diadakan demonstrasi bela diri Jiu-Jitsu aliran IJI di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta, Jiu-Jitsu Indonesia aliran IJI berhasil mendapatkan surat penghargaan dari staf Kedutaan Besar Jepang, Mr. Keiji Iwasaki & Mr. Yuji Hamada.

Hingga saat ini Jiu-Jitsu aliran IJI telah masuk di POLRI dan juga di berbagai kesatuan militer seperti KOPASSUS, KOSTRAD, PASPAMPRES, MARINIR dll. Jiu-Jitsu juga dikembangkan di sekolah-sekolah, instansi-instansi pemerintah maupun swasta dan juga di perguruan tinggi.

Menurut para praktisi Jiu-Jitsu aliran IJI ini, Secarah harfiah kata Jiu atau Ju didalam IJI berarti lentur atau fleksibel dan kata Jitsu atau Jutsu berarti teknik atau cara/metode. Maka Ju-Jitsu berarti bela diri yang fleksibel. Jiu-Jitsu IJI karena merupakan kombinasi bermacam-macam teknik dari berbagai sumber, maka ajarannya pun beragam; ada teknik keras ada juga teknik lembut/halus, ada teknik menyerang ada teknik bertahan, ada teknik menggunakan kekuatan fisik ada pula dengan tenaga dalam dan pernafasan, serta banyak teknik tangan kosong dan teknik menggunakan senjata. Apalagi para anggota IJI jika sudah mencapai sabuk hitam maka dianjurkan untuk meriset/mengembangkan sendiri teknik-teknik dasar IJI, termasuk juga dapat mengambil teknik dari beladiri lain, sehingga memperkaya perbendaharaan teknik di IJI.

Intinya Jiu-Jitsu versi IJI menghalalkan segala cara agar dapat menguasai lawan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Jiu-Jitsu versi IJI adalah teknik bertarung bebas, jadi bukanlah sport. Akan tetapi dalam masa modern ini Jiu-Jitsu IJI juga mulai marak menggiatkan Sport Jiu-Jitsu sehingga muncul banyak sekali even-even pertandingan Ju-Jitsu IJI yang berskala Nasional. Oleh karena itu, IJI adalah pelopor pertandingan Sport Ju-Jitsu di Indonesia, yaitu pertandingan internal IJI sendiri (tidak diikuti oleh perguruan lain) dengan peraturan yang hanya berlaku untuk anggota IJI.

Adalah lazim bagi perguruan-perguruan Jujutsu yang independen untuk membuat peraturan pertandingan sendiri, karena belum ada badan dunia yang secara aklamasi dipilih oleh semua perguruan Jujutsu untuk mensyahkan peraturan yang disepakati bersama. Bahkan di negara-negara besar di dunia Internasional menggunakan standar nasionalnya masing-masing, misalnya di Amerika antara lain menggunakan standar American Jujutsu Association [www.americanjujitsuassociation.org] sedangkan di Eropa antara lain menggunakan standard European Budo Council [3]. Namun sejak tahun 1998 sudah mulai ada kemajuan yang signifikan dengan berdirinya Ju-Jitsu International Federation (JJIF).

Ju-Jitsu International Federation (JJIF)

Sejak tahun 1980an sudah ada wacana untuk menjadikan Jujutsu/Ju-Jitsu sebagai sebuah cabang olahraga Olympiade. Oleh karena itu, pada tahun 1998, atas prakarsa persatuan-persatuan di Eropa berdirilah Ju-Jitsu International Federation (JJIF) [4] sebagai badan dunia yang mengatur dan meregulasi cabang olahraga Sport Ju-Jitsu. Perlu dicatat bahwa JJIF hanya berwewenang atas pertandingan Sport Ju-Jitsu saja dan tidak punya wewenang atas seni beladiri Jujutsu secara keseluruhan.

JJIF adalah anggota dari International World Games Association (IWGA) dan General Association of International Sport Federations (GAISF), serta sedang memperjuangkan agar Sport Ju-Jitsu versi JJIF ini dapat menjadi cabang olahraga Olympiade. JJIF didukung terutama di Eropa oleh negara-negara besar seperti Denmark, Sweden dan Jerman, sedangkan di Asia didukung terutama oleh Korea Selatan dan Pakistan. Pada tahun 2009, Sport Ju-Jitsu akan menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di 1st Asian Martial Arts Games yang telah dilangsungkan pada tanggal 25 April sampai 5 Mei 2009 di Bangkok, Thailand, serta menjadi cabang eksibisi pada Asian Indoor Games yang dilangsungkan bulan November 2009.

E) Sejarah Tentang Silat

Pencak silat atau silat (berkelahi dengan menggunakan teknik pertahanan diri) ialah seni bela diri Asia yang berakar dari budaya Melayu. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura tapi bisa pula ditemukan dalam berbagai variasi di berbagai negara sesuai dengan penyebaran suku Melayu, seperti di Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, saat ini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh.

Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa), adalah nama organisasi yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam untuk mewadahi federasi-federasi pencak silat di berbagai negara

Sejarah

Tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid. Karena hal itulah catatan tertulis mengenai asal mula silat sulit ditemukan. Kebanyakan sejarah silat dikisahkan melalui legenda yang beragam dari satu daerah ke daerah lain. Seperti asal mula silat aliran Cimande yang mengisahkan tentang seorang perempuan yang menyaksikan pertarungan antara harimau dan monyet dan ia mencontoh gerakan tarung hewan tersebut. Asal mula ilmu bela diri di Indonesia kemungkinan berkembang dari keterampilan suku-suku asli Indonesia dalam berburu dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan tombak. Seperti yang kini ditemui dalam tradisi suku Nias yang hingga abad ke-20 relatif tidak tersentuh pengaruh luar.

Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas,[1] yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua franca bahasa Melayu di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lainnya juga mengembangkan sebentuk silat tradisional mereka sendiri. Dalam Bahasa Minangkabau, silat itu sama dengan silek. Sheikh Shamsuddin (2005)[2] berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat. Bahkan sesungguhnya tidak hanya itu. Hal ini dapat dimaklumi karena memang kebudayaan Melayu (termasuk Pencak Silat) adalah kebudayaan yang terbuka yang mana sejak awal kebudayaan Melayu telah beradaptasi dengan berbagai kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, Arab, Turki, dan lainnya. Kebudayaan-kebudayaan itu kemudian berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan penduduk asli. Maka kiranya historis pencak silat itu lahir bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu. Sehingga, setiap daerah umumnya memiliki tokoh persilatan yang dibanggakan. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat.[3] Hal seperti itu juga yang terjadi di Jawa, yang membanggakan Gajah Mada.

Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14 di Nusantara. Catatan historis ini dinilai otentik dalam sejarah perkembangan pencak silat yang pengaruhnya masih dapat kita lihat hingga saat ini. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau-surau. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual. [2]

Silat berkembang di Indonesia dan Malaysia (termasuk Brunei dan Singapura) dan memiliki akar sejarah yang sama sebagai cara perlawanan terhadap penjajah asing. [3] . Setelah zaman kemerdekaan, silat berkembang menjadi ilmu bela diri formal. Organisasi silat nasional dibentuk seperti Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Indonesia, Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA) di Malaysia, Persekutuan Silat Singapore (PERSIS) di Singapura, dan Persekutuan Silat Brunei Darussalam (PERSIB) di Brunei. Telah tumbuh pula puluhan perguruan-perguruan silat di Amerika Serikat dan Eropa. Silat kini telah secara resmi masuk sebagai cabang olah raga dalam pertandingan internasional, khususnya dipertandingkan dalam SEA Games.

Istilah dalam Pencak Silat

 

Silat Betawi memperagakan teknik melucuti golok.

Sikap dan Gerak

Pencak silat ialah sistem yang terdiri atas sikap (posisi) dan gerak-gerik (pergerakan). Ketika seorang pesilat bergerak ketika bertarung, sikap dan gerakannya berubah mengikuti perubahan posisi lawan secara berkelanjutan. Segera setelah menemukan kelemahan pertahanan lawan, maka pesilat akan mencoba mengalahkan lawan dengan suatu serangan yang cepat.

Langkah

Ciri khas dari Silat adalah penggunaan langkah. Langkah ini penting di dalam permainan silat yang baik dan benar. Ada beberapa pola langkah yang dikenali, contohnya langkah tiga dan langkah empat.

Teknik atau Buah

Pencak Silat memiliki macam yang banyak dari teknik bertahan dan menyerang. Secara tradisional istilah teknik ini dapat disamakan dengan buah. Pesilat biasa menggunakan tangan, siku, lengan, kaki, lutut dan telapak kaki dalam serangan. Teknik umum termasuk tendangan, pukulan, sandungan, sapuan, mengunci, melempar, menahan, mematahkan tulang sendi, dan lain-lain.

Jurus

Pesilat berlatih dengan jurus-jurus. Jurus ialah rangkaian gerakan dasar untuk tubuh bagian atas dan bawah, yang digunakan sebagai panduan untuk menguasai penggunaan tehnik-tehnik lanjutan pencak silat (buah), saat dilakukan untuk berlatih secara tunggal atau berpasangan. Penggunaan langkah, atau gerakan kecil tubuh, mengajarkan penggunaan pengaturan kaki. Saat digabungkan, itulah Dasar Pasan, atau aliran seluruh tubuh.

Aspek dan bentuk

 

Kesenian Randai dari Sumatra Barat memakai silek (silat) sebagai unsur tariannya.

Terdapat 4 aspek utama dalam pencak silat, yaitu:

  1. Aspek Mental Spiritual: Pencak silat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang. Para pendekar dan maha guru pencak silat zaman dahulu seringkali harus melewati tahapan semadi, tapa, atau aspek kebatinan lain untuk mencapai tingkat tertinggi keilmuannya.
  2. Aspek Seni Budaya: Budaya dan permainan “seni” pencak silat ialah salah satu aspek yang sangat penting. Istilah Pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional.
  3. Aspek Bela Diri: Kepercayaan dan ketekunan diri ialah sangat penting dalam menguasai ilmu bela diri dalam pencak silat. Istilah silat, cenderung menekankan pada aspek kemampuan teknis bela diri pencak silat.
  4. Aspek Olah Raga: Ini berarti bahwa aspek fisik dalam pencak silat ialah penting. Pesilat mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh. Kompetisi ialah bagian aspek ini. Aspek olah raga meliputi pertandingan dan demonstrasi bentuk-bentuk jurus, baik untuk tunggal, ganda atau regu.

Bentuk pencak silat dan padepokannya (tempat berlatihnya) berbeda satu sama lain, sesuai dengan aspek-aspek yang ditekankan. Banyak aliran yang menemukan asalnya dari pengamatan atas perkelahian binatang liar. Silat-silat harimau dan monyet ialah contoh dari aliran-aliran tersebut. Adapula yang berpendapat bahwa aspek bela diri dan olah raga, baik fisik maupun pernapasan, adalah awal dari pengembangan silat. Aspek olah raga dan aspek bela diri inilah yang telah membuat pencak silat menjadi terkenal di Eropa.

Bagaimanapun, banyak yang berpendapat bahwa pokok-pokok dari pencak silat terhilangkan, atau dipermudah, saat pencak silat bergabung pada dunia olah raga. Oleh karena itu, sebagian praktisi silat tetap memfokuskan pada bentuk tradisional atau spiritual dari pencak silat, dan tidak mengikuti keanggotaan dan peraturan yang ditempuh oleh Persilat, sebagai organisasi pengatur pencak silat sedunia.

Tingkat kemahiran

Secara ringkas, murid silat atau pesilat dibagi menjadi beberapa tahap atau tingkat kemahiran, yaitu:

  1. Pemula, diajari semua yang tahap dasar seperti kuda-kuda,teknik tendangan, pukulan, tangkisan, elakan,tangkapan, bantingan, olah tubuh, maupun rangkaian jurus dasar perguruan dan jurus standar IPSI
  2. Menengah, ditahap ini, pesilat lebih difokuskan pada aplikasi semua gerakan dasar, pemahaman, variasi, dan disini akan mulai terlihat minat dan bakat pesilat, dan akan disalurkan kepada masing-masing cabang, misalnya Olahraga & Seni Budaya.
  3. Pelatih, hasil dari kemampuan yang matang berdasarkan pengalaman di tahap pemula, dan menengah akan membuat pesilat melangkah ke tahap selanjutnya, dimana mereka akan diberikan teknik – teknik beladiri perguruan, dimana teknik ini hanya diberikan kepada orang yang memang dipercaya, dan mampu secara teknik maupun moral, karena biasanya teknik beladiri merupakan teknik tempur yang sangat efektif dalam melumpuhkan lawan / sangat mematikan .
  4. Pendekar, merupakan pesilat yang telah diakui oleh para sesepuh perguruan, mereka akan mewarisi ilmu-ilmu rahasia tingkat tinggi.

Pencak Silat di dunia

 

Pesilat Vietnam memperagakan permainan golok.

Pencak Silat telah berkembang pesat selama abad ke-20 dan telah menjadi olah raga kompetisi di bawah penguasaan dan peraturan Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa, atau The International Pencak Silat Federation). Pencak silat sedang dipromosikan oleh Persilat di beberapa negara di seluruh 5 benua, dengan tujuan membuat pencak silat menjadi olahraga Olimpiade. Persilat mempromosikan Pencak Silat sebagai kompetisi olah raga internasional. Hanya anggota yang diakui Persilat yang diizinkan berpartisipasi pada kompetisi internasional.

Kini, beberapa federasi pencak silat nasional Eropa bersama dengan Persilat telah mendirikan Federasi Pencak Silat Eropa. Pada 1986 Kejuaraan Dunia Pencak Silat pertama di luar Asia, mengambil tempat di Wina, Austria.

Pada tahun 2002 Pencak Silat diperkenalkan sebagai bagian program pertunjukan di Asian Games di Busan, Korea Selatan untuk pertama kalinya. Kejuaraan Dunia terakhir ialah pada 2002 mengambil tempat di Penang, Malaysia pada Desember 2002.

Selain dari upaya Persilat yang membuat pencak silat sebagai pertandingan olahraga, masih ada banyak aliran-aliran tua tradisional yang mengembangkan pencak silat dengan nama Silek dan Silat di berbagai belahan dunia. Diperkirakan ada ratusan aliran (gaya) dan ribuan perguruan.

Padepokan Pencak Silat Indonesia

 

Pintu Gerbang Padepokan Pencak Silat

Padepokan adalah istilah Jawa yang berarti sebuah kompleks perumahan dengan areal cukup luas yang disediakan untuk belajar dan mengajar pengetahuan dan keterampilan tertentu. Padepokan yang disediakan untuk belajar dan mengajar Pencak Silat dinamakan Padepokan Pencak Silat. Di Minangkabau, Sumatera Barat, tempat belajar silat dinamakan sasaran silek yang biasanya hampir dimiliki oleh setiap nagari pada masa dahulunya.

Padepokan Pencak Silat Indonesia (PnPSI) adalah padepokan berskala nasional dan internasional yang berlokasi di di tas lahan yang luasnya sekitar 5,2 hektar di kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Luas total bangunannya sekitar 8.700 m2 dan luas total selasar-selasarnya sekitar 5.000 m2. Padepokan ini secara resmi dibuka oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1997.

Padepokan Pencak Silat Indonesia (PnPSI) mempunyai sekurang-kurangnya 5 fungsi, yakni :

  1. Sebagai pusat informasi, pendidikan, penyajian dan promosi berbagai hal yang menyangkut Pencak Silat.
  2. Sebagai pusat berbagai kegiatan yang berhubu-ngan dengan upaya pelestarian, pengembangan, penyebaran dan pening-katan citra Pencak Silat dan nilai-nilainya.
  3. Sebagai sarana untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan masyarakat Pencak Silat Indonesia.
  4. Sebagai sarana untuk mempererat persahabatan diantara masyarakat Pencak Silat di berbagai negara.
  5. Sebagai sarana untuk memasyarakatkan 2 kode etik manusia Pencak Silat, yakni : Prasetya Pesilat Indonesia dan Ikrar Pesilat.

F) Sejarah Tentang Kungfu

Kungfu
Kungfu (atau Gungfu) adalah seni beladiri Cina. Seringkali diartika juga dengan istilah Chuan Fa dan Wushu. Sebagian orang percaya bahwa semua jurus-jurus Kung Fu berdasarkan pada teknik-teknik latihan yang diajarkan oleh Bodhidharma, yaitu seorang pendeta India yang melakukan perjalanan ke Candi Shaolin pada tahun 526 M. Akan tetapi beberapa catatan Cina kuno memperlihatkan berbagai macam variasi Kung Fu jauh sebelum saat Bodhidharma datang ke Cina, catatan sejarah memperlihatkan berbagai gerakan hewan yang diaplikasikan di dalam seni beladiri Cina.
Ada beberapa jurus Kung Fu yang sangat terkenal yaitu Shaolin, Hung Gar, Choy Li Fut, monyet, cakar elang, burung bangau, tinjuan mabuk, tinjuan jarak jauh, pukulan selatan, belalang sembah, tai chi chuan dan wing chun. Bukan suatu hal yang mengejutkan bila terdapat banyak sekali teknik dan prinsip yang diajarkan dalam setiap aliran Kungfu. Beberapa jurus, terutama yang berasal dari China selatan menekankan pada teknik tangan sedangkan yang berasal dari China Utara menekankan pada teknik kaki

G) Sejarah Tentang Muay Yhai

Muay Thai
Muay Thai atau Thai Boxing adalah seni beladiri dari Thailand. Seni beladiri ini sangat sederhana dan praktis : tendangan roundhouse (melingkar) yang bertenaga, sikutan, gerakan lutut yang menikam dan pukulan dasar ala Tinju. Muay Thai sangat digemari oleh anak muda di Thailand merupakan olahraga yang digelar di atas ring, selain itu juga Muay Thai memiliki nomor aplikasi pertahanan diri. Olahraga ini sangat populer di Thailand selama satu dekade selanjutnya menyebar ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.
Peneliti beladiri menyebutkan bahwa Muay Thai merupakan bagian dari keterampilan beladiri tangan kosong yang berasal dari Thai dengan nama Krabi Krabong. Kedua seni beladiri tersebut telah berusia kurang lebih 1000 tahun. Para ahli sejarah mengatakan bahwa catatan sejarah menceritakan bagaimana keahlian itu digunakan di dalam perang dengan Vietnam dan Burma.

TOMOI @ MUAY THAI Apr 12, ’06 4:35 AM
untuk

Ini saya postingkan serba sedikit tentang seni bela diri Tomoi-Muay Thai (Tinju Siam)atas permintaan saudara Mohd Fazli yang ingin tahu tentang seni ini. Sebenarnya tidak banyak yg saya tahu tentang seni bela diri ini, hanya pernah mendengar cerita dari sahabat yang berasal dari utara Malaysia. Pernah juga saya beberapa kali ke selatan Thailand (Yala dan Narathiwat), saya lihat banyak perguruan-perguruan Pencak Silat dan juga Tomoi. Ini serba sedikit yang saya tahu tentang Tinju Siam *selain dari nama-nama yang sinonim dengan SIAM.

> Beras SIAM

>Kucing SIAM

>Durian SIAM

>Kembar SIAM

>Perempuan SIAM

Tomoi atau lebih dikenali sebagai Muay Thai (Tinju Siam) amat terkenal dikalangan masyarakat Melayu di negeri Kelantan juga di Kedah. Tomoi di Thailand berbeza-beza mengikut daerah-daerah tertentu. Selatan Thailand dikenali dengan nama Muay Chaiya, aslinya berasal dari daerah Surathani. Kelainan Muay Chaiya gerakannya rendah seperti membongkok tetapi padat dan padu. Kedua-dua lutut (knee) di rapatkan (bent) dan seluruh sendi (joint) dihalakan kedepan bersedia menghalang pukulan yang datang.Ada kalanya meraka membongkok dan hanya berdiri menggunakan sebelah kaki. Sebelah kaki lagi bersedia untuk menghalang (blocking) atau melepaskan pukulan (strikes). Muay Chaiya adalah seni Tomoi yang tersohor kerana kepakarannya munggunakan setiap sendi dalam menghalang (blocking) pukulan-pukulan pihak lawan, pada masa yang sama bersedia melepaskan pukulan-pukulan yang keras ,iya dikenali dengan nama Pukulan Buah Durian(Durien Style) Kesimpulannya Muay Chai persis buah durian “ Digolek pun luka! Mengolek pun Luka”. Tomoi selatan Thailand (Muay Chaiya) sehingga kini digeruni kerana kelicikan dan kekerasan buah pukulannya. Selain dari Tomoi, masyarakat Melayu di selatan Thailand juga mengamalkan seni beladiri turun-menurun iaitu Pencak Silat. Dikatakan juga Tomoi (Muay Chaiya)yang berasal dari selatan Thailand banyak dipengaruhi oleh buah pukulan Pencak Silat. Tomoi dari Selatan Thailand juga mirip kepada Pencak Silat kerana didalamnya terdapat bunga-tarian, buah-pukulan dan juga sering dipertontonkan bersama alunan musik (serunai, gong dan gendang).

Wilayah selatan Thailand banyak melahirkan jaguh-jaguh dalam seni bela diri Tomoi ini. Kerana arus kemodenan seni Tomoi telah di tokok-tambah; generasi sekarang lebih mengenali Kickboxing dari Tomoi. Pada hal Tomoi adalah lebih keras dan lebih merbahaya.

*Tomoi bukanlah seni bela diri yang ganas atau violence seperti mana yang kita lihat sesuai dengan slogannya “The best revenge is no revenge”


Sebelumnya: Negeri Sembilan Traditional Dishes II
Selanjutnya : Scenic Bridge…It’s all over!
H) Sejarah Tentang Kick Boxing

Kickboxing
Kickboxing adalah olahraga beladiri modern yang mengkombinasikan teknik Tinju dan teknik tendangan dari seni beladiri Asia. Kickboxing adalah olahraga yang digelar di atas ring dan menggunakan sistem ronde. Kickboxing dalam perkembangannya mengangkat nama-nama yang kini menjadi seorang bintang di tahun 1970-an dan 1980-an, termasuk Bill Superfoot Wallace, Benny The Jet Urquidez, Kathy Long, Don The DragonWilson, dan Dennis Alexio.

I) Sejarah Tentang Kuk Sool

Kuk Sool adalah seni beladiri Korea yang didirikan pada tahun 1958 oleh Suh Inhyuk. Organisai induknya bernama Kuk Sool Won Korea didirikan oleh Suh pada tahun 1961. Suh mengatakan bahwa ia melakukan perjalanan keliling Korea ketika masih remaja dan mempelajari seni beladiri tradisional dari berbagai guru. Jurus-jurusnya meliputi Koong Joong Mu Sool (seni beladiri istana) dan Sado Mu Sool (seni beladiri turun temurun). Kemudian Suh mengombinasikan semua teknik-teknik tersebut menjadi sebuah seni beladiri yang diberi nama Kuk Sool yang berarti keterampilan nasional.
Kuk Sool adalah satu dari sistem beladiri yang menyeluruh yang ada di dunia. Teknik-teknik Kuk Sool mencakup tendangan, pukulan, pukulan telapak tangan, lemparan, penguncian, tekanan, mematahkan dan ki (tenaga dalam) yaitu latihan teknik pernafasan. Senjata yang digunakan dalam latihan biasanya adalah pedang panjang, pedang pendek, tongkat, tongkat pendek, kipas dan tali.

J) Sejarah Tentang Ninjutsu

Ninjutsu adalah seni beladiri Ksatria Ninja Jepang. Seni beladiri itu berkembang selama periode feodal Jepang (abad 13 hingga abad 17). Pada saat itu kegiatan mata-mata dan pembunuhan terhadap panglima perang sering terjadi dan ini dilakukan oleh Ninja. Pada tahun 1970-an dan 1980-an Ninjutsu dipopulerkan ke Amerika Serikat oleh Masaaki Hatsumi dan Stephen K. Hayes
Ninjutsu mencakup teknik tangan kosong (biasa disebut taijutsu termasuk tinjuan, tendangan, dan cengkraman), ada juga teknik-teknik yang menggunakan senjata seperti pedang, pisau belati, anak panah dan rantai serta bintang yang dilemparkan (shuriken). Ninja melakukan aktifitasnya secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Menunggang kuda, menggunakan bahan peledak, berenang, memanjat dinding, penggunaan racun dan latihan lainnya merupakan penunjang dalam tugasnya, adapun latihan-latihannya ditekankan pada teknik-teknik modern.

K) Sejarah Tentang Pa Kua Chang

Pa Kua Chang (atau bisa diucapkan Baguazhang) adalah salah satu dari 3 seni beladiri yang ada di Cina. Diciptakan sekitar akhir abad ke-18 berdasarkan pada 8 Trigram yang ada dalam teks klasik I Ching yang berusia 800 tahun. di Cina, Pa Kua Chang seringkali diajarkan bersama dengan Hsing I Chuan karena kedua seni beladiri tersebut saling melengkapi satu sama lain.
Gerakan-gerakan yang ada dalam Pa Kua Chang dititikberatkan pada lingkaran berlawanan dengan prinsip Yin dan Yang. Beberapa teknik penyerangan tampak seperti tidak langsung dan sangat lembut tetapi sangat efektif sebagai teknik untuk mempertahankan diri. Karena seni beladiri ini berdasarkan pada hakekat perubahan, maka para murid dapat mempelajarinya secara terus menerus untuk membiasakan diri dalam merespon serangan dalam situasi mempertahankan diri.


L) Sejarah Tentang Sambo

Sambo disebut juga Sombo adalah seni berperang modern Rusia, beladiri ini menitikberatkan pada teknik melempar , menjatuhkan, dan mengunci. Beberapa ahli menyebutkan bahwa Sambo banyak dipengaruhi oleh seni beladiri Armenia yang disebut Khok dan ada juga orang yang mengatakan bahwa Sambo ini diambil dari teknik wrestling masyarakat setempat dan Judo. Sambo ini terbagi ke dalam 2 variasi yaitu teknik mencengkram (bukan mencekik) serta pertarungan Sambo yang meliputi bergulat dan memukul. Para praktisi mengenakan pakaian unik (disebut Kurtka) yang seringkali digunakan untuk meraih dan melemparkan tubuh lawan.

M) Sejarah Tentang Savate

Savate yang dikenal dengan Tinju Perancis adalah seni beladiri Perancis yang menitikberatkan pada pertarungan kaki dan perkelahian yang berkembang semenjak abad 19. Savate menitikberatkan pada tendangan yang diarahkan ke titik-titik vital tubuh manusia. Sedangkan teknik tangannya sangat mirip dengan Tinju. Beberapa tendangan dirancang sedemikian rupa untuk dipadukan dengan pukulan.

N) Sejarah Tentang Kapoera

Capoeira merupakan sebuah olah raga bela diri yang dikembangkan oleh para budak Afrika di Brasil pada sekitar tahun 1500-an. Gerakan dalam capoeira menyerupai tarian dan bertitik berat pada tendangan. Pertarungan dalam capoeira biasanya diiringi oleh musik dan disebut Jogo. Capoeira sering dikritik karena banyak orang meragukan keampuhannya dalam pertarungan sungguhan, dibanding seni bela diri lainnya seperti Karate atau Taekwondo.

Capoeira adalah sebuah sistem bela diri tradisional yang didirikan di Brazil oleh budak-budak Afrika yang dibawa oleh orang-orang Portugis ke Brazil untuk bekerja di perkebunan-perkebunan besar. Pada zaman dahulu mereka melalukan latihan dengan diiringi oleh alat-alat musik tradisional, seperti berimbau (sebuah lengkungan kayu dengan tali senar yang dipukul dengan sebuah kayu kecil untuk menggetarkannya) dan atabaque (gendang besar), dan ini juga lebih mudah bagi mereka untuk menyembunyikan latihan mereka dalam berbagai macam aktivitas seperti kesenangan dalam pesta yang dilakukan oleh para budak di tempat tinggal mereka yang bernama senzala. Ketika seorang budak melarikan diri ia akan dikejar oleh “pemburu” profesional bersenjata yang bernama capitães-do-mato (kapten hutan).

Capoeira sangat erat dengan perjalanan sejarah bangsa Brasil, sejarah perbudakan. Pada abad ke 15 dan 16 budak-budak didatangkan dari Afrika bagian barat. Budak-budak berkulit legam ini menjadi salah satu komponen produksi produk perkebunan negeri Brasil yang saat itu dijajah bangsa Portugis.

Mereka diperlakukan tidak manusiawi oleh orang-orang Portugis itu. Seperti hewan ternak, badan mereka diberi tanda dengan cap besi panas. Pada masa itu
mereka merupakan “komoditas yang berharga” serupa dengan kopi, gula, vanila.

Kekangan belenggu menumbuhkan hasrat untuk bebas. Mereka kemudian mengembangkan teknik bela diri untuk kepentingan membebaskan diri. Latihan
dilakukan sembunyi-sembunyi, dan sarana penyamaran yang paling baik adalah tarian. Karena di Afrika tarian adalah bentuk ekspresi yang paling popular,
maka para budak berlatih teknik serangan dan elakan Capoeira diiringi dengan musik, nyanyian, dan tarian.

Invasi Belanda pada 1624-1630 sempat mengacaukan perkebunan dan industri gula di Brasil. Peluang itu dimanfaatkan untuk melarikan diri ke dalam hutan
dan membentuk perkampungan. Perkampungan ini dikenal dengan nama Quilombos. Struktur politik dan sosial perkampungan ini mirip dengan suku-suku di
Afrika. Kampung ini dipimpin oleh seorang yang ditunjuk karena keberanian dan kemampuannya dalam menghadapi musuh.

Begitu Belanda hengkang dari Brasil, para pemilik budak mengirimkan pasukan bersenjata ke hutan-hutan untuk menangkapi budak-budak dan menghancurkan
perkampungan mereka. Para budak menyadari mereka kalah dalam persenjataan, mereka pun mengembangkan sistem bela diri yang mampu melawan senjata. Sistem bela diri ini disebut Capoeira de Angola.

Capoeira sendiri adalah nama tanaman semak belukar di sekitar mereka dan Angola adalah nama negara yang diyakini sebagai asal kelompok budak pertama
yang datang ke Brasil. Hingga kini Capoeira terbagi kedalam dua aliran besar, Capoeira de Angola dan Capoeira Regional. Masing-masing memiliki karakteristik sendiri.

Pada tahun 1890 Capoeira dilarang oleh pemerintah. Hingga akhirnya pada tahun 1928 Manoel dos Reis Machado (Master Bimba) memperkenalkan EoLuta
Regional Baiana. Sebuah campuran antara Capoeira de Angola dengan Batuque (Capoeira jalanan). Belakangan aliran ini terus berkembang dan dikenal
dengan Capoeira Regional. Kini Capoeira tak lagi dikenal sekedar sebagai sistem bela diri. Capoeira kemudian diakui sebagai aset nasional berupa
tarian, olahraga, permainan sekaligus sebuah ekspresi seni akan kemerdekaan.

Biasanya capoeira adalah satu-satunya bela diri yang dipakai oleh budak tersebut untuk mempertahankan diri. Pertarungan mereka biasanya terjadi di tempat lapang dalam hutan yang dalam bahasa tupi-guarani (salah satu bahasa pribumi di Brazil) disebut caá-puêra – beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa inilah asal dari nama seni bela diri tersebut. Mereka yang sempat melarikan diri berkumpul di desa-desa yang dipagari yang bernama quilombo, di tempat yang susah dicapai. Quilombo yang paling penting adalah Palmares yang mana penduduknya pernah sampai berjumlah sepuluh ribu dan bertahan hingga kurang lebih selama enam puluh tahun melawan kekuasaan yang mau menginvasi mereka. Ketua mereka yang paling terkenal bernama Zumbi. Ketika hukum untuk menghilangkan perbudakan muncul dan Brazil mulai mengimport pekerja buruh kulit putih dari negara-negara seperti Portugal, Spanyol dan Italia untuk bekerja di pertanian, banyak orang negro terpaksa berpindah tempat tinggal ke kota-kota, dan karena banyak dari mereka yang tidak mempunyai pekerjaan mulai menjadi penjahat.

Jika diperhatikan, teknik bela diri Capoeira sangat sedikit menggunakan tangan. Menurut perkiraan hal ini disebabkan oleh tangan-tangan para budak di belenggu rantai. Karena itu Capoeira banyak mengembangkan teknik-teknik menggunakan kaki. Fu Kiau, ilmuwan Kongo, berpandangan lain. Menurut dia, tradisi kuno di Afrika menganggap tangan seharusnya digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang baik, sementara kaki sebaliknya. Menurut pepatah kuno Kongo, Mooko mu tunga, malu mu diatikisa (tangan untuk membangun, kaki untuk menghancurkan).

Capoeira, yang sudah menjadi urban dan mulai dipelajari oleh orang-orang kulit putih, di kota-kota seperti Rio de Janeiro, Salvador da Bahia dan Recife, mulai dilihat oleh publik sebagai permainan para penjahat dan orang-orang jalanan, maka muncul hukum untuk melarang Capoeira. Sepertinya pada waktu itulah mereka mulai menggunakan pisau cukur dalam pertarungannya, ini merupakan pengaruh dari pemain capoeira yang berasal dari Portugal dan menyanyikan fado (musik tradisional Portugis yang mirip dengan keroncong). Pada waktu itu juga beberapa sektor yang rasis dari kaum elit Brazil berteriak melawan pengaruh Afrika dalam kebudayaan negara, dan ingin “memutihkan” negara mereka.

Setelah kurang lebih setengah abad berada dalam klandestin, dan orang-orang mepelajarinya di jalan-jalan tersembunyi dan di halaman-halaman belakang rumah, Manuel dos Reis Machado, Sang Guru (Mestre) Bimba, mengadakan sebuah pertunjukan untuk Getúlio Vargas, presiden Brazil pada waktu itu, dan ini merupakan permulaan yang baru untuk capoeira. Mulai didirikan akademi-akademi, agar publik dapat mempelajari permainan capoeira. Nama-nama yang paling penting pada masa itu adalah Vicente Ferreira Pastinha (Sang Guru Pastinha), yang mengajarkan aliran “Angola”, yang sangat tradisional, dan Mestre Bimba, yang mendirikan aliran dengan beberapa inovasi yang ia namakan “Regional”.

Sejak masa itu hingga masa sekarang capoeira melewati sebuah perjalanan yang panjang. Saat ini capoeira dipelajari hampir di seluruh dunia, dari Portugal sampai ke Norwegia, dari Amerika Serikat sampai ke Australia, dari Indonesia sampai ke Jepang. Di Indonesia capoeira sudah mulai dikenal banyak orang, disamping kelompok yang ada di Yogyakarta, juga terdapat beberapa kelompok di Jakarta. Banyak pemain yang yang berminat mempelajari capoeira karena lingkungannya yang santai dan gembira, tidak sama dengan disiplin keras yang biasanya terdapat dalam sistem bela diri dari Timur. Seperti yang pernah dikatakan oleh seorang penulis besar dari Brazil Jorge Amado, ini “pertarungan yang paling indah di seluruh dunia, karena ini juga sebuah tarian”.

Dalam capoeira teknik gerakan dasar dimulai dari “ginga” dan bukan dari posisi berhenti yang merupakan karateristik dari karate, taekwondo, pencak silat, wushu kung fu, dll…; ginga adalah gerakan-gerakan tubuh yang berkelanjutan dan bertujuan untuk mencari waktu yang tepat untuk menyerang atau mempertahankan diri, yang sering kali adalah menghindarkan diri dari serangan.Gerakan dasar Capoeira yang dinamai ginga ini mirip sama orang lagi menari, tapi ini sebenarnya sejenis kuda – kuda.Yang namanya kuda – kuda kalau dilakukan tidak sempurna sudah pasti gampang diserang lawan. Tapi yang unik jadi kuda – kuda pada Capoeira ini selain berguna untuk bertahan dari serangan lawan sekaligus sebagai ancang – ancang untuk menyerang.

Dalam roda para pemain capoeira mengetes diri mereka, lewat permainan pertandingan, di tengah lingkaran yang dibuat oleh para pemain musik dengan alat-alat musik Afrika dan menyanyikan bermacam-macam lagu, dan pemain lainnya bertepuk tangan dan menyanyikan bagian refrein. Lirik lagu-lagu itu tentang sejarah kesenian tersebut, guru besar pada waktu dulu dan sekarang, tentang hidup dalam masa perbudakan, dan perlawanan mencapai kemerdekaan. Gaya bermain musik mempunyai perbedaan ritme untuk bermacam-macam permainan capoeira, ada yang perlahan dan ada juga yang cepat.

Capoeira tidak saja menjadi sebuah kebudayaan, tetapi juga sebuah olahraga nasional Brazil, dan para guru dari negara tersebut membuat capoeira menjadi terus menerus lebih internasional, mengajar di kelompok-kelompok mahasiswa, bermacam-macam fitness center, organisasi-organisasi kecil, dll. Siswa-siswa mereka belajar menyanyikan lagu-lagu Capoeira dengan bahasa Portugis – “Capoeira é prá homi, / mininu e mulhé…” (Capoeira untuk laki-laki, / anak-anak dan perempuan).

Di Indonesia, sama seperti di negara-negara yang lain, kemungkinan Capoeira akan semakin berkembang.
Beberapa gerakan dalam Capoeira:

1. Ginga
2. Handstand
3. Backflip
4. Headspin
5. Handstand Whirling
6. Flare

Flare, Headspin, Windmill harus bisa ke kiri dan ke kanan

Dengan musik dan olah gerak yang dinamis memang bikin Capoeira jadi sesuatu yang enak dinikmati. Makanya tak heranlah kalau Capofest digelar disebuah pusat pertokoan di Jakarta mulai tanggal 23 hingga 27 Juli 2009 selalu mengundang orang untuk nonton.
Festival ini diselenggarakan International Sinha Bahia de Capoeira (ISBC) sebuah perguruan Capoeira bersertifikat international bekerjasama dengan Kedutaan Besar Publik Brazil di Indonesia

Tempat latihan capoeira ini di jakarta yang saya tahu:

Sinha Bahia de Capoeira Class:
1. Mediterania Tanjun Duren
Clarck Hatch
Senin 20.00 – Selesai

2. Vila Melati Mas Sports Club BSD
Selasa 20.00 – Selesai

3. Ruang Gulat Pintu 4 Senayan
Kamis 20.00 – Selesai
Sabtu 16.00 – 18.00

4. Body Life Grande Blok M
Minggu 11.30 – 13.00

5. SMUK2 BPK Penabur Pintu Air Jakarta
Jumat 15.00 – 16.30

Per bulan Rp 150.000 (4xLatihan)
Atau
Rp 200.000 /months 8x latihan

O) Sejarah Beladiri Sumo

Sumo (相撲, sumō?) adalah olahraga saling dorong antara dua orang pesumo yang berbadan gemuk sampai salah seorang didorong keluar dari lingkaran atau terjatuh dengan bagian badan selain telapak kaki menyentuh tanah di bagian dalam lingkaran. Pesumo (rikishi) perlu berbadan besar dan gemuk karena semakin tambun seorang pegulat sumo semakin besar pula kemungkinannya untuk menang.

Sumo adalah olahraga asli Jepang dan sudah dipertandingkan sejak berabad-abad yang lalu. Di beberapa negara tetangga Jepang seperti Mongolia dan Korea juga terdapat olahraga gulat tradisional yang mirip-mirip dengan sumo.

Sumo memiliki berbagai upacara dan tradisi unik seperti menyebarkan garam sepanjang pertandingan untuk mengusir bala.

Penentuan pemenang

Pemenang pertandingan ditentukan berdasarkan dua peraturan sederhana:

  1. Pegulat yang lebih dulu menyentuh tanah dengan bagian badan selain telapak kaki adalah pegulat yang kalah.
  2. Pegulat yang lebih dulu menginjak tanah di luar lingkaran adalah pegulat yang kalah.

Pada kesempatan yang jarang terjadi, pegulat yang kebetulan menyentuh tanah lebih dulu ada kemungkinkan dimenangkan oleh wasit dengan syarat kedua pegulat menyentuh tanah pada sekitar saat yang bersamaan dan pegulat yang baru menyentuh tanah kemudian dianggap tidak ada harapan untuk memenangkan pertandingan dari pegulat lawan yang lebih kuat. Pegulat yang kalah dalam kesempatan ini disebut shinitai (orang mati).

Selain itu, ada beberapa peraturan lagi yang bisa dipakai untuk menentukan pemenang. Pegulat yang menggunakan teknik yang tidak sah (kinjite) secara otomatis dinyatakan kalah. Pegulat dengan mawashi (sabuk yang juga berfungsi sebagai celana) yang lepas sewaktu bertanding juga dinyatakan kalah. Pegulat yang tidak muncul sewaktu tiba gilirannya untuk bertanding juga dinyatakan kalah secara fusenpai. Setelah salah seorang pegulat dinyatakan sebagai pemenang, juri (gyoji) yang berada di luar ring mengumumkan kimarite (teknik yang digunakan oleh pegulat yang menang).

Pertandingan sumo selalu didahului oleh ritual yang panjang, walaupun pertandingannya sendiri sering hanya berlangsung beberapa detik. Pegulat yang kalah kuat bisa cepat sekali terdorong keluar dari lingkaran atau terjatuh, sedangkan pertandingan yang seimbang bisa berlangsung sampai beberapa menit. Pegulat sumo yang mempunyai lingkar perut besar dan tubuh yang gemuk mempunyai kemungkinan besar untuk menang, walaupun kadang-kadang pegulat yang lebih kecil tapi memiliki teknik luar biasa bisa mengalahkan pegulat yang lebih gemuk.

Ring sumo (dohyō)

 

Dohyō pada turnamen sumo di Osaka

Pertandingan sumo berlangsung di atas ring bernama dohyō (土俵) yang dibuat dari campuran tanah liat yang dikeraskan dengan pasir yang disebarkan di atasnya. Dohyō dibongkar setelah pertandingan selesai dan dohyō yang baru harus selalu dibangun untuk setiap turnamen. Pembangunan dohyō untuk keperluan turnamen atau latihan menjadi tanggung jawab penyelenggara (yobidashi).

Lingkaran tempat pertandingan berlangsung mempunyai diameter 4,55 meter dan dikelilingi oleh karung beras yang disebut tawara (俵). Ukuran karung beras sekitar 1/3 ukuran karung beras standar yang sebagian dipendam di dalam tanah liat yang membentuk gundukan dohyō. Sedikit di luar lingkaran diletakkan empat buah tawara yang di zaman dulu dimaksudkan untuk menyerap air hujan sewaktu turnamen sumo masih diselenggarakan di tempat terbuka.

Di tengah-tengah lingkaran terdapat dua garis putih yang disebut shikiri-sen (仕切り線). Kedua pegulat (rikishi) yang bertarung harus berada di belakang garis shikiri-sen sebelum pertandingan dimulai.

Bagian luar sekeliling lingkaran disebut janome yang dilapisi pasir halus untuk membentuk permukaan yang mulus. Pegulat yang terdorong ke luar lingkaran atau terjatuh pasti menimbulkan tanda pada permukaan janome akibat terkena injakan kaki atau anggota tubuh yang lain. Yobidashi harus memastikan permukaan janome berada dalam keadaan mulus sebelum pertandingan yang lain dimulai.

Asal-usul sumo

 

Pertandingan sumo di zaman Edo

Sama halnya seperti berbagai jenis olahraga gulat yang ada di seluruh dunia, sumo sudah dikenal di Jepang sejak zaman prasejarah. Pada literatur klasik Jepang abad ke-8 Masehi, bentuk awal sumo dikenal dengan sebutan Sumai. Sumo dalam bentuk yang dikenal sekarang ini mungkin berbeda dengan “sumo” di zaman dulu. Pegulat sering bertarung sampai mati karena jumlah peraturan yang ada masih sedikit.

Penguasa Jepang di abad ke-16 yang bernama Oda Nobunaga sering menyelenggarakan turnamen sumo. Bentuk ring sumo seperti yang dikenal sekarang ini berasal dari zaman Oda Nobunaga. Dibandingkan dengan mawashi pada zaman sekarang yang dibuat dari kain bagus yang kaku, pegulat sumo di masa Oda Nobunaga masih memakai penutup tubuh bagian bawah dari kain kasar yang longgar. Di zaman Edo, pegulat sumo bertanding dengan mengenakan mawashi bermotif indah dan gagah yang disebut kesho mawashi. Di zaman sekarang kesho mawashi hanya dikenakan pegulat sumo pada saat berparade di atas dohyō di awal pembukaan turnamen.

Sumo sering dikaitkan dengan ritual dalam agama Shinto. Sampai sekarang ini, di beberapa kuil Shinto masih diselenggarakan pertarungan antara pegulat sumo dengan Kami.

Pegulat sumo profesional

 

Pegulat sumo berparade di atas dohyō mengelilingi gyoji (wasit) dalam upacara sebelum pertandingan

Pertunjukan hiburan yang menampilkan pertandingan pegulat sumo profesional (大相撲 Ōzumō) sudah dimulai sejak zaman Edo. Pegulat sumo pada masa itu konon berasal dari samurai atau ronin yang membutuhkan sumber penghasilan alternatif.

Di zaman sekarang, pegulat sumo profesional diatur oleh Asosiasi Sumo Jepang (Nihon Sumō Kyōkai). Anggota asosiasi terdiri dari Oyakata yang semuanya merupakan mantan pegulat sumo. Oyakata adalah pimpinan pusat latihan (heya) tempat bernaung para pegulat sumo profesional. Peraturan asosiasi menetapkan bahwa perekrutan calon dan pelatihan pegulat sumo hanya berhak dilakukan oleh Oyakata. Di Jepang saat ini terdapat sekitar 54 pusat latihan sumo (heya) tempat bernaung sekitar 700 pegulat sumo.

Sumo mempunyai sistem peringkat yang sangat terinci berdasarkan prestasi dalam pertandingan. Sistem peringkat dalam sumo sudah digunakan beratus-ratus tahun sejak zaman Edo. Peringkat pegulat bisa naik atau bisa turun bergantung pada hasil pertandingan yang diikuti. Banzuke adalah nama untuk peringkat pegulat sumo yang diterbitkan 2 minggu sebelum turnamen sumo dibuka.

Peringkat pegulat sumo terdiri dari: Makuuchi (dengan jumlah tetap 42 pegulat), Juryo (dengan jumlah tetap 28 pegulat), Makushita (dengan jumlah tetap 120 pegulat), Sandanme (dengan jumlah tetap 200 pegulat), Jonidan (sekitar 230 pegulat), dan Jonokuchi (sekitar 80 pegulat). Pegulat sumo yang baru direkrut terdaftar dalam peringkat paling bawah (Jonokuchi) dan dapat naik peringkat secara perlahan-lahan ke peringkat Makuuchi bila berprestasi.

 

Banzuke (daftar peringkat pegulat sumo)

Pegulat yang digolongkan dalam dua peringkat paling atas (Makuchi dan Juryo) disebut sekitori dan hanya pegulat peringkat sekitori yang berhak mendapat gaji. Pegulat peringkat bawah dianggap sebagai pegulat magang dan hanya menerima uang saku sekadarnya sebagai imbalan melakukan berbagai macam pekerjaan di pusat latihan. Pegulat sumo baru yang diambil dari juara turnamen antar universitas ada kalanya mendapat perlakuan istimewa dan dimasukkan ke dalam peringkat Makushita dan bukan peringkat Jonokuchi.

Peringkat Makuuchi yang merupakan peringkat teratas dibagi-bagi lagi menjadi berbagai golongan pegulat. Mayoritas pegulat berada dalam golongan Maegashira dan diberi peringkat berdasarkan nomor urut 1 sampai 16 atau 17. Setiap peringkat dibagi menjadi dua kubu: kubu Timur dan kubu Barat. Kubu Timur dianggap lebih prestisius dari kubu Barat, sehingga kedudukan pegulat berperingkat Maegashira-2-Timur berada di atas pegulat berperingkat Maegashira-2-Barat. Di atas kelas Maegashira terdapat kelompok para juara atau pemegang gelar yang disebut golongan sanyaku yang secara berturut-turut disebut komusubi, sekiwake, ozeki, hingga peringkat paling atas yang disebut yokozuna.

Yokozuna atau juara umum adalah pegulat sumo yang tampil secara reguler di dalam turnamen dan memenangkan juara divisi teratas di akhir turnamen. Kriteria agar pegulat bisa naik peringkat juga sangat ketat. Seorang ozeki harus menjadi juara dua turnamen secara berturut-turut (atau yang setara) agar bisa dinaikkan peringkatnya menjadi yokozuna. Keputusan akhir dalam menaikkan peringkat pegulat sumo berada di tangan asosiasi. Seorang ozeki juga bisa dinaikkan peringkatnya secara istimewa dengan persyaratan menang sebanyak 33 kali melawan sekiwake atau komusubi dalam 3 turnamen terakhir.

Musashimaru dan pasangan TakanohanaWakanohana III yang merupakan satu-satunya pasangan kakak beradik yang pernah mencapai posisi puncak sebagai yokozuna. Chiyonofuji adalah yokozuna yang mengundurkan diri di awal tahun 1990-an setelah memenangkan 31 turnamen. Kemenangan Chiyonofuji dalam 31 turnamen merupakan prestasi luar biasa karena setara dengan jumlah kemenangan dua orang yokozuna (Akebono dan Takanohana) yang dijadikan satu. Pegulat yang sudah menjadi yokozuna tidak bisa lagi diturunkan peringkatnya dan hanya diharapkan untuk mundur kalau prestasinya tidak bisa lagi memenuhi standar seorang yokozuna.

Pegulat sumo menggunakan nama alias yang disebut shikona (しこ名) yang mungkin ada hubungannya atau tidak berhubungan sama sekali dengan nama asli pegulat. Pegulat sumo biasanya tidak mempunyai pilihan banyak dalam memilih shikona karena nama biasanya sudah dipersiapkan sebelumnya oleh pelatih, oyakata, atau perusahaan yang menjadi sponsor. Di dalam perjalanan kariernya, pegulat sumo bisa saja beberapa kali berganti shikona.

Turnamen sumo profesional hanya diselenggarakan di Jepang walaupun pegulat sumo profesional sebagian besar berasal dari luar negeri. Takamiyama, Konishiki dan Akebono adalah nama tiga orang pegulat sumo profesional kelahiran Hawaii yang sukses di Jepang. Takamiyama adalah orang asing pertama yang berhasil menjadi juara divisi paling atas di awal tahun 1970-an. Jejak Takamiyama diikuti oleh Konishiki yang berhasil memenangkan divisi paling atas dalam 3 kali turnamen. Konishiki merupakan orang asing pertama yang berhasil mencapai peringkat Ozeki. Pada tahun 1993, Akebono adalah orang asing pertama dalam sejarah sumo yang berhasil menjadi Yokuzuna.

 

Asashoryu, seorang pesumo yokozuna

Orang asing kedua yang berhasil menjadi yokozuna di akhir tahun 1990-an adalah orang Samoa kelahiran Hawaii bernama Musashimaru. Pada saat ini, gelar yokozuna dipegang Asashoryu yang kelahiran Mongolia. Asashoryu merupakan pimpinan kelompok kecil pegulat sumo asal Mongolia yang berhasil masuk peringkat sekitori. Pegulat asing dari negara-negara Eropa Timur juga banyak yang sukses sebagai pegulat sumo peringkat atas. Pada tahun 2005, Kotooshu dari Bulgaria berhasil menjadi pegulat sumo pertama dari Eropa Timur yang berhasil menjadi ozeki.

Pegulat sumo peringkat atas mengadakan pertandingan eksebisi di luar negeri setiap dua tahun sekali. Pada bulan Oktober 2005 dilakukan pertandingan eksebisi di Las Vegas. Pertandingan eksebisi umumnya dimaksudkan sebagai pertunjukan dan promosi olahraga sumo.

Pegulat sumo profesional harus berjenis kelamin laki-laki berdasarkan tradisi turun temurun sejak berabad-abad yang lalu. Peraturan asosiasi sumo yang sering menjadi kontroversi adalah peraturan yang tidak mengizinkan wanita naik ke atas dohyō karena dikuatirkan bisa mengotori dohyō yang dianggap suci. Berdasarkan peraturan ini, Fusae Ota sewaktu menjadi Gubernur Prefektur Osaka tidak dibolehkan naik ke atas dohyō karena ia seorang wanita. Hadiah dari Gubernur Osaka untuk pemenang turnamen sumo di Osaka diserahkan oleh pria yang diutus dari kantor gubernur.

Turnamen sumo profesional

 

Arena sumo Ryogoku di Tokyo sewaktu turnamen bulan Mei 2001

Peringkat pegulat sumo profesional ditentukan oleh enam turnamen Grand Sumo (honbasho) yang diselenggarakan 6 kali dalam setahun. Turnamen bulan Januari, Mei dan September dilakukan di Arena Sumo (Kokugikan) di Ryogoku Tokyo, turnamen bulan Maret di Osaka, sedangkan turnamen bulan Juli di Nagoya dan turnamen bulan November di Fukuoka.

Setiap turnamen selalu dimulai pada hari Minggu yang berlangsung selama 15 hari dan ditutup juga pada hari Minggu. Pengecualian jadwal turnamen pernah terjadi ketika Kaisar Hirohito wafat pada hari Sabtu, 7 Januari 1989, satu hari sebelum dimulainya turnamen bulan Januari. Turnamen kemudian dijadwal ulang, dimulai dan berakhir pada hari Senin.

Pegulat yang menempati peringkat sekitori harus bertanding satu kali dalam satu hari, sedangkan pegulat berperingkat lebih rendah bertanding sebanyak 7 kali (1 pertandingan setiap 2 hari).

Pada hari-hari pelaksanaan turnamen, jadwal acara dibuat sedemikian rupa sehingga pertandingan antara pegulat sumo peringkat atas selalu merupakan puncak acara sekaligus pertandingan penutup pada hari itu. Pertandingan dimulai di pagi hari bagi pegulat sumo peringkat paling bawah (Jonokuchi) dan diakhiri sekitar jam 18:00 sore dengan pertarungan antara Yokozuna atau Ozeki (jika Yokozune tidak hadir). Pegulat yang memenangkan pertandingan paling banyak selama 15 hari menjadi juara turnamen. Pertandingan tambahan diadakan antar dua orang pegulat yang mempunyai jumlah kemenangan yang berimbang dan pemenang pertandingan menjadi juara turnamen.

Pegulat sumo (rikishi) berperingkat Makuuchi tiba di gelanggang sumo pada siang hari dan memasuki ruang ganti. Ruang ganti dibagi menjadi ruang ganti kubu Timur dan ruang ganti kubu Barat. Ruang ganti dibuat terpisah agar pegulat tidak saling bertemu muka sebelum pertandingan. Pegulat lalu membuka baju dan menggantinya dengan semacam celemek dari kain sutra yang disebut kesho mawashi dengan hiasan bordiran indah. Pegulat harus mengenakan kesho mawashi sewaktu mengikuti upacara memasuki ring yang disebut dohyōiri. Prosesi yang diikuti para pegulat berlangsung dari ruang ganti masing-masing kubu menuju ke ring. Pada hari-hari penyelenggaraan turnamen, upacara dohyōiri dilakukan sebanyak 4 kali, 2 kali untuk pegulat kelas Juryo dan 2 kali untuk pegulat kelas Makuuchi. Pada upacara dohyōiri, nama-nama pegulat diumumkan satu-persatu ke hadapan penonton, dimulai dari pegulat berperingkat paling rendah hingga pegulat berperingkat paling tinggi. Setelah pegulat dengan peringkat tertinggi diumumkan, para pegulat membentuk lingkaran mengelilingi wasit untuk mengikuti ritual dan berakhir dengan kembalinya para pegulat ke ruang ganti masing-masing. Yokozuna mempunyai ritual dohyōiri tersendiri yang diadakan secara terpisah dari pegulat kelas yang lebih rendah.

 

Bendera berwarna-warni pada turnamen sumo

Pegulat yang sudah sampai di ruang ganti menanggalkan kesho mawashi untuk menggantinya dengan mawashi sambil menunggu saat bertanding. Pegulat memasuki arena sebelum waktu pertandingan yang dijadwalkan dan harus duduk di pinggir ring menanti giliran bertanding sejak dua pertandingan sebelumnya masih berlangsung. Pada saat giliran bertanding tiba, yobidashi memanggil nama kedua pegulat yang akan bertarung. Pertandingan dipimpin oleh wasit yang disebut gyoji. Pada saat berada di atas dohyō, pegulat mempertontonkan serangkaian gerakan ritual berupa hentakan kaki dan tepukan tangan yang dilakukan sambil menghadap ke penonton. Pegulat juga harus mencuci mulut dengan air yang disebut chikara mizu (air kuat). Sejumlah garam kemudian dilemparkan kedua pegulat ke dalam dohyō sebagai simbol penolak bala dan agar tidak terjadi cedera sewaktu bertanding. Setelah itu, kedua pegulat melakukan ritual singkat berupa saling berhadapan dan mengambil posisi seperti setengah mau berjongkok (posisi tachiai) untuk “mengukur” kekuatan lawan. Pada kesempatan pertama “mengukur” kekuatan lawan, kedua pegulat tidak perlu mengambil posisi tachiai tapi bisa dengan saling melototkan mata sebelum kembali ke sudut masing-masing. Ritual mengukur kekuatan lawan bisa berlangsung berkali-kali (sekitar 4 kali atau lebih pada pegulat kelas atas). Wasit (gyoji) lalu menyatakan ritual saling mengukur kekuatan lawan harus diakhiri dan pertarungan harus segera dimulai. Waktu yang dibutuhkan masing-masing pegulat untuk melakukan ritual “menakut-nakuti lawan” sambil mempersiapkan diri sendiri secara mental adalah sekitar 4 menit, tapi pegulat peringkat rendah biasanya langsung diminta untuk segera bertanding.

Pada kesempatan mengukur kekuatan lawan (tachiai), kedua pegulat harus maju secara bersamaan. Wasit (gyoji) bisa meminta kedua pengulat untuk mengulangi tachiai jika prosedur belum dianggap benar. Pada saat pertandingan berakhir, wasit mengacungkan gunbai (kipas perang) ke arah pegulat yang menang. Kedua pegulat harus kembali pada posisi awal untuk saling membungkuk sebelum pertandingan dinyatakan selesai. Jika pertandingan diselenggarakan atas bantuan sponsor, pegulat yang menang biasanya menerima hadiah uang dalam amplop yang diserahkan oleh wasit. Wasit mempunyai kewajiban untuk segera mengumumkan sang pemenang walaupun pertandingan mungkin berakhir seri. Pertandingan sumo hampir tidak pernah berakhir dengan hasil seri. Pada semua pertandingan sumo diperlukan 5 orang juri (shimpan) yang berada di sekeliling ring. Juri dapat saja mempertanyakan keputusan wasit. Jika juri meragukan keputusan yang diambil wasit, juri dan wasit bertemu di tengah ring untuk mengadakan perundingan yang disebut mono ii (secara harafiah berarti “omong-omong”) untuk menentukan pegulat yang menang. Hasil perundingan dapat berupa penangguhan atau pembatalan keputusan wasit dan bahkan perintah untuk melakukan pertandingan ulang yang disebut torinaoshi.

Berbeda dengan ritual yang dilakukan kedua pegulat untuk “mengukur” kekuatan lawan yang memakan waktu lama, pertarungan antara kedua pegulat berlangsung sangat singkat dan biasanya tidak lebih dari satu menit atau bahkan hanya berlangsung beberapa detik. Jarang sekali ada pertarungan yang bisa berlangsung bermenit-menit karena wasit biasanya akan memisahkan kedua pegulat untuk beristirahat minum yang disebut mizuiri. Kedua pegulat setelah beristirahat sejenak akan kembali ke posisi terakhir sebelum wasit datang memisahkan. Wasit berkewajiban untuk membetulkan posisi akhir kedua pegulat jika posisi masih dianggap belum benar. Jika pertandingan masih belum bisa menentukan pihak yang menang sedangkan pertarungan sudah berlangsung bermenit-menit, wasit akan memisahkan lagi kedua pegulat untuk istirahat minum tahap kedua. Setelah istirahat sejenak, kedua pegulat akan memulai lagi pertarungan dari awal.

Hari terakhir turnamen disebut senshuraku (secara harafiah berarti “kegembiraan 1.000 musim gugur”) sebagai bentuk suka cita atas keberhasilan pemenang dalam turnamen. Nama yang gemerlap untuk hari puncak turnamen berasal dari kata yang digunakan penulis drama Zeami Motokiyo. Pegulat yang memenangkan kejuaraan divisi atas (makuuchi) mendapat hadiah Piala Kaisar. Selain itu, juara juga menerima berbagai hadiah dari para sponsor. Hadiah yang diberikan umumnya berupa barang-barang seni dan makanan dalam jumlah banyak, misalnya piala ukuran besar, piring berhias, berkarung-karung beras, daging sapi yang mahal, ikan yang berukuran sangat besar, atau jamur shiitake dalam jumlah banyak.

Dalam jangka waktu 15 hari, peringkat pegulat sumo bisa naik atau bisa turun yang ditentukan menurut hasil turnamen. Pegulat yang memiliki kachikoshi berarti pegulat lebih banyak menang daripada kalah, sedangkan makekoshi berarti pegulat lebih banyak kalah daripada menang. Pada divisi Makuuchi, kachikoshi berarti skor 8 kali menang (bisa juga lebih) dan 7 kali kalah, sedangkan makekoshi berarti skor 7 kali kalah (bisa juga lebih) dan 8 kali menang. Pegulat yang berhasil memperoleh kachikoshi dinaikkan peringkatnya jauh ke atas kalau memiliki skor kachikoshi yang bagus, sebaliknya pegulat dengan makekoshi sudah pasti turun peringkat. Pegulat dikatakan berada dalam peringkat sanyaku kalau skor kachikoshi yang dimilikinya masih belum cukup untuk naik tingkat. Pegulat yang berada di divisi atas harus berhasil menang 9, 10 atau 11 kali dari 15 kali pertandingan agar peringkatnya bisa naik, sedangkan kenaikan peringkat Ozeki and Yokozuna memiliki peraturan sendiri.

Pegulat divisi atas yang belum menyandang gelar Ozeki atau Yokozuna tapi berhasil menyelesaikan turnamen dengan kachikoshi juga dianggap berhak mendapat tiga penghargaan (sanshō) yang terdiri dari penghargaan untuk keterampilan teknik (ginōshō), penghargaan untuk semangat bertarung (kantōshō) dan penghargaan (shukunshō) atas prestasi mengalahkan Yokozuna dan Ōzeki.

Kehidupan pegulat sumo profesional

Sepanjang perjalanan kariernya, pegulat sumo profesional terikat dengan serangkaian peraturan yang rumit. Asosiasi sumo mengatur segala segi kehidupan pribadi para pegulat terutama yang berkaitan dengan kehidupan pegulat di dalam suatu komunitas.

Penampilan pegulat sumo dengan gaya rambut klimis dan baju tradisional Jepang membuat pegulat sumo bisa mudah dikenali bila tampil di hadapan publik. Pada saat diangkat menjadi pegulat sumo, rambut pegulat sumo harus dipanjangkan agar bisa ditata seperti model rambut samurai zaman Edo yang disebut chonmage (rambut disanggul pada bagian atas kepala).

Pakaian dan aksesori yang dikenakan juga bergantung pada peringkat sang pegulat. Pegulat kelas Jonidan dan kelas di bawahnya hanya boleh mengenakan yukata sepanjang tahun termasuk di musim dingin. Sandal yang digunakan juga harus sandal dari kayu yang disebut geta. Pegulat divisi Makushita dan Sandanme boleh mengenakan mantel pendek untuk melapis yukata dan boleh mengenakan sandal bagus yang disebut zōri. Pegulat yang sudah termasuk kelas sekitori diizinkan untuk mengenakan mantel sutera sesuai dengan selera dan model rambut juga sudah makin bergaya dengan sanggul yang disebut o-ichō.

Pegulat sumo menjalani kehidupan sehari-hari di pusat latihan dengan latihan yang keras. Pegulat junior harus bangun paling awal sekitar jam 05:00 pagi untuk berlatih, sedangkan pegulat kelas sekitori boleh bangun sekitar jam 07:00 pagi. Pada saat pegulat kelas sekitori sedang berlatih, pegulat junior harus melakukan banyak pekerjaan seperti membersihkan rumah, memasak makan siang, menyiapkan air mandi, sampai menyediakan handuk bagi pegulat kelas sekitori yang mau mandi. Kesempatan mandi juga dibuat bergilir dengan kesempatan pertama mandi berendam diberikan untuk pegulat yang paling senior, diikuti pegulat kelas lebih rendah sampai pegulat paling junior yang mendapat giliran mandi berendam paling akhir. Begitu pula halnya dalam soal makan, pegulat senior selalu mendapat giliran makan lebih dulu.

Pegulat sumo biasanya tidak dibolehkan untuk sarapan pagi dan diharapkan untuk tidur siang setelah makan banyak. Pada umumnya, lauk yang disiapkan untuk pegulat sumo berupa “sup tradisional sumo” (chankonabe) berisi berbagai macam ikan, daging, dan sayur-sayuran yang dimasak di dalam panci besar (nabe). Chankonabe dimakan bersama nasi sampai sekenyang-kenyangnya agar pegulat sumo bisa cepat menjadi gemuk. Bir juga merupakan minuman yang dianjurkan bagi pegulat sumo. Pola makan tinggi kalori tanpa sarapan pagi membuat berat badan pegulat sumo tetap gemuk atau kalau bisa makin bertambah gemuk lagi supaya bisa menang dalam pertandingan.

Di petang hari, pegulat junior masih harus melakukan pekerjaan bersih-bersih dan pekerjaan lainnya sementara pegulat kelas sekitori sudah boleh bersantai, termasuk menghadiri acara-acara seperti acara temu penggemar. Pegulat yang masih muda seringkali masih harus pergi ke sekolah, walaupun kurikulum yang diikuti biasanya berbeda dengan anak sekolah biasa. Di malam hari, pegulat kelas sekitori boleh berjalan-jalan dengan para sponsor sementara pegulat junior harus tinggal di pusat latihan. Pegulat junior yang sudah ditunjuk sebagai kacung (tsukebito) oleh pegulat senior sering mendapat kesempatan menemani pegulat senior untuk berjalan-jalan. Pegulat senior boleh mengangkat kacung sebanyak mungkin dan pegulat junior menganggap pekerjaan sebagai kacung sebagai suatu kehormatan. Pegulat kelas sekitori hanya boleh membawa kacungnya yang paling senior ketika berjalan-jalan di luar.

Kehidupan pegulat Sumo dibagi dalam dua golongan besar: pegulat junior yang melayani dan pegulat senior yang dilayani. Pegulat kelas sekitori diberi kamar sendiri di pusat latihan dan jika sudah menikah boleh tinggal di apartemen sendiri sedangkan pegulat junior hanya dibolehkan tidur di asrama. Perlakukan pegulat senior terhadap pegulat sumo yang baru direkrut kabarnya sangat kejam sehingga banyak pegulat junior tidak tahan dan memutuskan untuk mengundurkan diri.

Pola hidup sumo bisa berakibat berbahaya bagi kesehatan pegulat sumo di kemudian hari. Pegulat sumo hanya mempunyai harapan hidup sampai sekitar umur 65 tahun (5-10 tahun lebih pendek dibandingkan rata-rata harapan hidup laki-laki Jepang). Pembela olahraga sumo mengatakan pegulat sumo memang makan lebih banyak dibandingkan orang biasa, tapi justru lebih sehat dibandingkan kebanyakan orang.

Gaji dan penghasilan

Berdasarkan data bulan Maret 2001, gaji bulanan pegulat kelas sekitori dalam mata uang Yen[1]:

Pegulat sumo kelas di bawahnya tidak menerima gaji dan hanya menerima uang saku yang jumlahnya kecil karena masih dianggap sebagai pegulat magang.

Selain gaji, pegulat sekitori juga menerima bonus tambahan mochikyukin yang diterima sebanyak 6 kali dalam setahun setiap mengikuti turnamen. Jumlah bonus mochikyukin bergantung pada prestasi kumulatif pegulat. Bonus mochikyukin terus bertambah besar setiap kali pegulat sumo mencetak kachikoshi. Semakin besar skor kachikoshi yang dicetak seorang pegulat makin besar pula kenaikan bonus yang diterima. Kenaikan bonus secara istimewa juga diberikan untuk pemenang kejuaraan Makuuchi, dengan bonus ekstra besar bagi juara yang memenangkan kejuaraan tanpa sekalipun kalah atau meraih penghargaan bintang emas (kinboshi) untuk Maegashira yang berhasil mengalahkan Yokozuna.

Pegulat sumo kelas Sanyaku juga menerima bonus tambahan pada setiap turnamen berdasarkan peringkatnya, tapi jumlahnya relatif kecil. Yokozuna menerima bonus tambahan setiap 2 kali turnamen yang dimaksudkan untuk membeli tali tambang baru yang dililitkan di pinggang pada saat upacara.

Pemenang setiap kejuaraan divisi menerima hadiah uang yang jumlahnya mulai 100 ribu yen untuk kemenangan di divisi Jonokuchi hingga 10 juta yen untuk kemenangan di divisi Makuuchi. Pegulat di divisi atas yang dinilai berprestasi luar biasa menurut dewan berhak mendapat 3 hadiah istimewa (sansho) yang masing-masing bernilai 2 juta yen.[2]

Pertandingan divisi atas biasanya didukung perusahaan-perusahaan yang menjadi sponsor. Pegulat sumo yang menjadi pemenang biasanya menerima uang tunai bebas pajak sekitar 30.000 yen dari masing-masing sponsor. Hadiah dari perusahaan yang menjadi sponsor disebut kenshokin. Perusahaan yang mau menjadi sponsor pada pertarungan antara Yokozuna dan Ozeki biasanya berjumlah sangat banyak, sedangkan pertandingan pegulat di bawahnya kadang-kadang tidak didukung sponsor sama sekali. Kadang-kadang ada juga perusahaan yang mau menjadi sponsor pertandingan antar pegulat sumo kelas bawah kalau ada pegulat sumo kelas bawah yang digemari masyarakat. Pegulat yang menang secara otomatis karena lawan tidak muncul fusensho sama sekali tidak akan mendapat hadiah.

Turnamen sumo sering dituduh penuh dengan kecurangan dan kemenangan yang sudah diatur sebelumnya (yaocho). Kecurigaan ini disebabkan hadiah dalam jumlah besar yang berpindah tangan sesuai dengan peringkat pegulat sumo. Ada penelitian yang dilakukan tahun 2000[3] yang mengambil objek kalangan pegulat sumo sebagai sebuah sistem tertutup untuk meneliti korupsi. Menurut hasil penelitian, 70% pegulat sumo yang sudah memiliki skor 7-7 sebelum hari terakhir turnamen akan menang di hari terakhir turnamen.

Barang kenang-kenangan

Barang kenang-kenangan (memorabilia) khas dan paling mahal dalam olah raga sumo adalah cap telapak tangan (tegata) pegulat sumo yang dibuat dengan tinta merah atau tinta hitam dan dibubuhi tanda tangan nama pegulat dengan gaya kaligrafi. Duplikat dari tegata yang merupakan hasil cetakan mesin dijual dengan harga terjangkau sebagai cenderamata. Tidak semua pegulat sumo boleh membuat tegata, melainkan hanya pegulat sumo kelas Juryo dan Makuuchi.

Penonton sumo yang membeli tiket barisan paling depan yang mahal juga mendapat paket kenang-kenangan dari penyelenggara turnamen. Piring dan gelas dengan tema pegulat sumo juga menjadi cenderamata yang laku dijual. Daftar peringkat pegulat sumo pengikut turnamen yang disebut banzuke juga bisa menjadi benda kenang-kenangan karena ditulis dengan gaya kaligrafi yang indah.

Pegulat sumo amatir

Turnamen amatir sering diselenggarakan di Jepang untuk pegulat sumo amatir dari sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Pertandingan pada tingkat amatir tidak menggunakan segala macam ritual seperti pertandingan sumo profesional. Pegulat sumo amatir yang ingin menjadi pegulat sumo profesional diharuskan berusia muda (23 tahun ke bawah). Pegulat sumo amatir yang menjadi juara antar perguruan tinggi mendapat perlakuan khusus sewaktu memasuki jenjang sumo profesional dalam bentuk langsung dimasukkan ke dalam peringkat Makushita (nomor tiga dari bawah). Peringkat khusus untuk juara sumo antar perguruan tinggi disebut Makushita Tsukedashi yang merupakan peringkat yang berada di antara peringkat Makushita 15 dan 16. Sebagian besar pegulat sumo kelas Makuuchi memasuki dunia sumo profesional dari juara turnamen antar perguruan tinggi.

Sumo bukan merupakan olahraga yang dipertandingkan di dalam Olimpiade. International Sumo Federation sedang berusaha memasyarakatkan sumo ke seluruh dunia dengan mengadakan turnamen sumo amatir dengan pembagian kelas menurut berat badan.

P) Sejarah Boxing(Tinju)

Sejarah Taiji Quan

Sejarah Tinju :

Kata Tinju adalah terjemahan dari kata Inggris “boxing” atau “Pugilism”. Kata Pugilism berasal dari kata latin, pugilatus atau pinjaman dari kata yunani Pugno, Pignis, Pugnare, yang menandakan segala sesuatu yang berbentuk kotak atau “Box” dalam bahasa Inggrisnya. Tinju Manusia, kalau terkepal, berbentuk seperti kotak. Kata Yunani pugno berarti tangan terkepal menjadi tinju, siap untuk pugnos, berkelahi, bertinju. Dalam mitologi, bapak dan Boxing adalah Poliux, saudara kembar dari Castor, putera legendaris dari Jupiter dan Leda.
Perkembanganya
Pertandingan tinju yang pertama tercatat dalam sejarah adalah antara lain melawan Abel. Kitab mahabrata juga mencatat pertandingan-pertandingan tinju, hal mana mendahului pencatatan cerita-cerita perkelahian di antara bangsa Yunani, Romawi, dan Mesir. Petinju terkenal pertama berkebangsaan Yunani bernama Theagenes dari Thaos yang menjadi juara Olympic Games 450 Masehi. Ia melakukan pertandingan sebanyak 1.406 kali dengan menggunakan cetus sarung tinju yang terbuat dari besi. Kebanyakan dari lawan-lawan itu tewas ketika bertarung melawannya.
Meskipun boxing terkenal berabad-abad lamanya sebagai suatu bentuk hiburan, namun seorang Inggris yang bernama James Ping adalah James Broughton, juara britania, yang juga merupakan orang pertama yang menggunakan sarung tinju. Peraturan dan sarung tinju ini di perkenalkan pada tanggal 10 Agustus 1973.

Taiji Quan (Shadow Boxing)

The word Taiji first appeared in Book of Changes of the Zhou Dynasty. The essay says: “Where there is Taiji, there is peace and harmony between the positive and the negative.” Taiji means supremacy, absoluteness, ex¬tremity and uniqueness. Taiji Quan takes its name for the implication of superiority. Taiji Quan got its name when Shanxi secular Wushu master Wang Zongyue used the philosophy of the positive and negative from the Book of Changes to explain the principles of the boxing.

There are different opinions on the origin of Taiji Quan. Some think it was created by Zhang Sanfeng of the Song Dynasty (961-1279) while others believe it was created by Han Gongyue and Cheng Lingxi in the Liang Dynasty (502-557). Still others say that it was created by either Xu Xuanping or Li Daozi of the Tang Dynasty (618-907). Yet all propositions cannot be proved from authenticate historical records. According to the research of Wushu historian Tang Hao, Taiji Quan was first exercised and practiced among the Chen family members at the Chenjia Valley which is located in Wenxian County in Henan Province. The earliest chore¬ographer of the Taiji boxing was Chen Wangting who was both a scholar and a martial artist. Chen combined his knowledge of ancient psychological exercises; the positive and negative philosophy describe in the Book of Changes and Chinese medical theory of passages and channels of blood, air flow and energy inside the human body with the exercises and practices of Wushu. He absorbed the strong points from various schools and styles of martial arts of the Ming Dynasty, especially the 32-move Qi Jiguang style of boxing (long-style boxing), to form the school of Taiji Quan.

After years of dissemination, many styles of Taiji Quan were created. The most popular and widespread , are the following five styles:

(1) Chen-style Taiji Quan
The Chen-style Taiji Quan falls into two categories —the old and new frames. The old frame was created by Chen Wangling himself. It had five routines which were also known as the 13-move boxing. Chen Wang-ting also developed a long-style boxing routine of 108 moves and a cannon boxing routine. It was then handed down to Chen Changxing and Chen Youben, boxers in the Chenjia Valley who were all proficient at the old frame. The present-day Chen-style boxing boasts of the old routine, the cannon routine and the new routine. The Chen-style Taiji boxing is the oldest form, all the other styles of Taiji Quan having derived from it either directly or indirectly.

(2) Yang-style Taiji Quan
The originator of the Yang-style Taiji boxing was Yang Luchan (1800-1873) from Yongnian in Hebei Province. Yang went to learn Taiji boxing from Chen Changxing in the Chenjia Valley as a boy. When grown up, he returned to his native town to teach the art. To suit the need of common people, Yang Luchan made some changes, and dropped some highly difficult moves, such as force irritating, broad jumps and foot thumping. His son shortened the routine which was further simplified by his grandson. The grandson’s form of the Yang-style Taiji boxing was later taken as the protocol of the Yang-style boxing. Because of its com¬fortable postures, simplicity and practicability, this form has become the most popular routine for exercise and practice.
The Yang-style Taiji boxing features agreeable movements and actions combining hardness, softness and naturalness. When practicing, practitioners should relax to form softness which transforms into hardness, thus combining the hard and the soft. The Yang-style Taiji Quan is divided into three sub routines, namely high-posture, middle-posture and low-posture routines, all with comfortable and agreeable movements and actions.

(3) Wu-style Taiji Quan
Wu-style Taiji boxing was created by Quan You (1834-1902) who lived at Daxing in Hebei Province (now under Beijing Municipality). Quan You was of the Manchu nationality of China. He learned Taiji Quan from Yang Luchan and later followed Yang’s second son Yang Banhou to study the short program. Quan You was known for his ability to soften his movements.
Quan’s son Jianquan changed his family name to Wu as he was brought up as a Han national. Wu Jianquan (1870-1942) inherited and disseminated a style of Taiji which is comfortable and upright. His style is continuous and ingenious and because his routine does not require jumps and leaps, it spread far and wide among common people. Since this style of Taiji Quan was disseminated by the Wu family, it became known as the Wu-style Taiji boxing.

Wu JianQuan (above)

Wang MaoZhai (above)

(4) Wu Yuxiang Style of Taiji Quan
Wu Yuxiang (1812-1880) was the creator of another style of the Taiji Quan. A Yongnian resident in Hebei, Wu Yuxiang learned the ABC’s of Taiji from fellow provincial Yang Luchan. In 1852, Wu Yuxiang went to work for his brother at Wuyang. On his way to Wuyang, he learned the new routine; of Taiji Quan from Chen Qingping and mastered it. At his brother’s home, Wu Yuxiang got hold of a transcript of Wang Zongyue’s On Taiji Quan. So upon returning home, Wu Yuxiang delved into the book and practiced the principles stipu¬lated in it. Wu eventually wrote Ten Essential Points of Martial Artists and Four-Word Poetic Secrets of Taiji: Apply, Cover, Combat and, Swallow, which have become the classics of Chinese Wushu writing. The Wu Yuxiang style of Taiji features compactness, slow movement, strict footwork and distinguishes be¬tween substantialness and insubsiantialness. The chest and abdomen are kept upright while the body is mov¬ing around. The outside movement of the body is initiated by the circulation of air flows inside the body and by inner adjustments of substantialness and insubstantialness. The two hands are in charge of their respective halves of the body, so one does not infringe upon the other.

jayaselalu
http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/message/273

Notes by HuangDi
Chen WanTing itu konon mengambil teknik berkelahi Ji QiGuang dan
seni pernafasan Taoism.

Ada satu pemikiran bahwa teknik awal TaiJi Quan itu berasal dari
Qing Cheng sect.

Teknik TaiJi quan Taoism itu sering disebut XUAN MEN TAIJI QUAN.
Salah satu pakarnya adalah Lie SuiBin dan Yu QuanDe.

Sejarah Pelindung Gigi

Pelindung gigi atau gum shield ditemukan oleh seorang dokter gigi yang juga penggemar tinju asal London, Jack Marles pada tahun 1902. Pada masa itu, pelindung gigi temuan drg. Marles hanya digunakan untuk mencegah luka di gusi atau mulut pada saat latihan. Petinju pertama yang tercatat menggunakan pelindung gigi dalam suatu pertandingan resmi adalah Ted “Kid” Lewis , petinju Inggris, juara dunia kelas welter tahun 1916-1918. Namun penggunaan pelindung gigi itu banyak mendapat tantangan dari berbagai pihak, termasuk pada tahun 1928, wasit memerintahkan untuk melepas pelindung gigi yang digunakan Lewis dan lawannya, Charley Bellanger. Lewis yang tidak setuju dengan keputusan wasit itu memutuskan mengundurkan diri, dan dinyatakan kalah diskualifikasi.

Sebelum pelindung gigi lazim dipakai dalam pertandingan tinju, banyak petinju masa itu yang menggunakan kulit jeruk di sela antara gusi dan bibir, sebagai peredam dan pencegah luka/pecahnya bibir akibat benturan dengan gigi saat wajahnya terkena hantaman pukulan lawan.

Jeffrey’s trivia collection

Tinju

Tinju

Pertandingan tinju profesional antara Ricardo Domínguez (kiri) melawan Rafael Ortíz
Nama lain English boxing, American Boxing, Western Boxing
Pertama dimainkan Yunani
Data lengkap
Dipertandingkan di Olimpiade Sejak 688 SM

Tinju adalah olahraga dan seni bela diri yang menampilkan dua orang partisipan dengan berat yang serupa bertanding satu sama lain dengan menggunakan tinju mereka dalam rangkaian pertandingan berinterval satu atau tiga menit yang disebut “ronde”. Baik dalam Olimpiade ataupun olahraga profesional, kedua petarung (disebut petinju) menghindari pukulan lawan mereka sambil berupaya mendaratkan pukulan mereka sendiri ke lawannya.

Nilai diberikan untuk pukulan yang bersih dan mantap ke bagian depan pinggang ke atas yang sah dari lawan, dengan pukulan ke kepala dan dada mendapat nilai lebih. Petinju dengan nilai yang lebih tinggi setelah sejumlah ronde yang direncanakan akan dinyatakan sebagai pemenang. Kemenangan juga dapat dicapai jika lawan dipukul jatuh dan tidak dapat bangkit sampai hitungan kesepuluh dari wasit (suatu Knockout atau KO) atau jika lawan dinyatakan tidak mampu melanjutkan pertandingan (suatu Technical Knockout atau TKO). Untuk keperluan rekor pertandingan, TKO dihitung sebagai KO.

Daftar isi

[sembunyikan]

Etimologi

Kata Tinju adalah terjemahan dari kata Inggris “boxing” atau “Pugilism”. Kata Pugilism berasal dari kata latin, pugilatus atau pinjaman dari kata yunani Pugno, Pignis, Pugnare, yang menandakan segala sesuatu yang berbentuk kotak atau “Box” dalam bahasa Inggrisnya. Tinju Manusia, kalau terkepal, berbentuk seperti kotak. Kata Yunani pugno berarti tangan terkepal menjadi tinju, siap untuk pugnos, berkelahi, bertinju. Dalam mitologi, bapak dan Boxing adalah Poliux, saudara kembar dari Castor, putera legendaris dari Jupiter dan Leda.

Sejarah

Pertandingan tinju yang pertama tercatat dalam sejarah adalah antara lain melawan Abel. Kitab mahabrata juga mencatat pertandingan-pertandingan tinju, hal mana mendahului pencatatan cerita-cerita perkelahian di antara bangsa Yunani, Romawi, dan Mesir. Petinju terkenal pertama berkebangsaan Yunani bernama Theagenes dari Thaos yang menjadi juara Olympic Games 450 Masehi. Ia melakukan pertandingan sebanyak 1.406 kali dengan menggunakan cetus sarung tinju yang terbuat dari besi. Kebanyakan dari lawan-lawan itu tewas ketika bertarung melawannya. Meskipun boxing terkenal berabad-abad lamanya sebagai suatu bentuk hiburan, namun seorang Inggris yang bernama James Ping adalah James Broughton, juara britania, yang juga merupakan orang pertama yang menggunakan sarung tinju. Peraturan dan sarung tinju ini di perkenalkan pada tanggal 10 Agustus 1973.

P) Sejarah Beladiri Wushu

Pada tahun 1938, salah seorang pemuda warga kota Mei Yin di Propinsi Kwantung, Tiongkok, berangkat meninggalkan kota kelahirannya menuju kota Batavia, yang sekarang Jakarta Raya. Di dalam dadanya yang lapang itu, tersembunyi suatu tekad yang bulat dan mantap untuk merantau ke negeri orang dan tidak akan kembali lagi ke negeri kelahirannya sama halnya dengan tekad yang diputuskan oleh pemuda-pemuda lainnya yang berasal dari daerahnya.

Mula-mula di Kota Jakarta, hidupnya ditantang dengan berbagai persoalan, kesukaran dan kesulitan yang disebabkan oleh keadaan lingkungan, budaya, bahasa, kebiasaan dan adapt istiadat. Namun dengan modal kemauan yang keras dan ketabahan hati yang penuh dengan kesabaran, akhirnya semua rintangan itu mulai luluh satu persatu.
Kawan-kawan yang sudah lama menetap di Kota Jakarta mengenal dan tahu benar bahwa pemuda itu yang tak lain dan tak bukan bernama TJONG A SENG, sejak 7 tahun telah belajar kung fu pada beberapa orang Guru antara lain: Tjong Soe In dari Pat Kwa, Tan Ki Sie dari Kwantung, Liaw Ngok King dari Shantung, dan Liau Chung Lie dari Siaw Liem. Beberapa tahun kemudian kawan-kawannya mengajak TJONG A SENG bergabung dalam perkumpulan kung fu dibawah satu yayasan yang bergerak dalam bidang social dan olah raga, bernama: “ Yayasan Budidharma Jakarta”.
Dalam perkumpulan kung fu terdapat beberapa aliran kung fu diantaranya aliran Pat Kwa dan aliran Nan Pe. Sebagaimana aliran yang diajarkan oleh Guru-gurunya semasa berada di Tiongkok, maka TJONG A SENG bersama kawan-kawannya tetap mengadakan latihan kung fu yang beraliran Nan Pe, sedangkan perkumpulan itu pengawasannya dipegang oleh Yap Soen Hok.
Pada tahun 1950, TJONG A SENG berhasil meraih gelar Sinshe dalam hal keahlian pengobatan cara tusuk jarum (akupuntur), totok, dan ahli nujum. Kemudian Liaw Fak Yen dan Tjong A Chien diajar memainkan Barong Say dan akhirnya oleh perkumpulan Barong Say mengangkat Sinshe TJONG A SENG selaku Ketua sampai tahun 1959. Sekitar tahun 1960-an, Yayasan Budidharma Jakarta membubarkan diri.
Pada tahun 1972, Sinshe TJONG A SENG mengangkat beberapa orang murid untuk belajar kung fu, diantaranya sdr. John J. Pandey dan sdr. Usman Achmad bertempat di Jln. Kwini No. 6, Senen, Jakarta Pusat. Pada tanggal 17 April 1974, atas saran sdr. Tan Yin Siu, anak sulung Sinshe Tan Wei Sin bertempat di Jln. Salemba Raya 33A, Jakarta Pusat mengusulkan kepada sdr. John J. Pandey untuk mendirikan suatu perguruan kung fu secara terbuka untuk umum. Pembicaraan selanjutnya diadakan di rumah kediaman Sinshe Tan Wei Sin, dan Sinshe Tan Wei Sin sendiri menyarankan agar maksud itu dibicarakan langsung dengan Sinshe TJONG A SENG.
Pada tanggal 20 April 1974, atas restu Sinshe TJONG A SENG, dibukalah suatu perguruan kung fu yang belum mempunyai nama, sambil membuka pendaftaran pertama untuk umum, sementara itu dibuatlah surat permohonan kepada pihak Departemen Pertanian di Jln. Salemba Raya 16, Jakarta Pusat untuk mendapatkan fasilitas tempat latihan namun permohonan dan maksud tersebut ditolak.
Pada tanggal 21 April 1974, bertempat di Jln. Kwini No. 6, Senen, Jakarta Pusat disusunlah suatu badan kepengurusan sementara yang bersifat formalitas, yaitu selaku Guru adalah Sinshe TJONG A SENG sendiri, Ketua Perguruan adalah sdr. Usman Achmad, Penulis adalah sdr. John J. Pandey, sedangkan Bendahara adalah sdri. Caroline.
Pada tanggal 23 April 1974, bertempat di Jln. Salemba Raya 33A, Jakarta Pusat oleh Ketua Perguruan dan Penulis, dibicarakanlah suatu nama perguruan yang permanent dan diilhami oleh gambar naga yang ada pada sebuah Kipas milik Sinshe TJONG A SENG. Setelah tersusun nama perguruan maka diajukanlah kepada Sinshe TJONG A SENG. Setelah disetujui dan disahkan oleh Sinshe TJONG A SENG maka terciptalah nama perguruan yaitu: “Perguruan Seni Ilmu Beladiri Silat Kung Fu Naga Mas”.
Pada tanggal 24 April 1974, oleh Pataud Sospol Hankam Jln. Salemba Raya 14, Jakarta Pusat menyetujui dan memberikan fasilitas tempat latihan untuk dijadikan pusat latihan kung fu. Seperti yang diutarakan pada pendahuluan, maka dengan surat keputusan Ketua Umum No. Kep. 01/KFNM/V/75 tanggal 2 Mei 1975, nama perguruan disederhanakan dan menjadi: “Perguruan Kung Fu Naga Mas”.

SEJARAH PERGURUAN KUNG FU NAGA MAS

PENDAHULUAN
Mulanya perguruan ini bernama Persatuan Seni Ilmu Beladiri Silat Kung Fu Naga Mas yang selanjutnya sesuai perkembangan zaman serta penyempurnaan organisasi perguruan dan atas dasar consensus bersama dalam Rapat Kerja Pengurus, tanggal 2 Mei 1975 dikeluarkan surat keputusan No. Kep. 01/KFNM/V/75 tentang nama perguruan ini menjadi Perguruan Kung Fu Naga Mas.
Sejak berdirinya perguruan ini, kegiatannya adalah memberikan latihan kung fu kepada kelompok masyarakat/perorangan karyawan, pelajar/mahasiswa pria dan wanita.
Sebelum dikemukakannya sejarah Perguruan Kung Fu Naga Mas, terlebih dahulu disampaikan pengertian kung fu menurut sejarahnya.

SEJARAH KUNG FU
Kung Fu adalah suatu seni beladiri dengan teknik pertahanan diri dan penyerangan atas lawan yang unit dari negeri Tiongkok. Asal mula dan sejarah kung fu pada umumnya dapat ditelusuri yaitu beribu-ribu tahun yang lalu di negeri Tiongkok dipraktekkan secara rahasia yang selanjutnya meluas dan merata ke daerah-daerah Timur dalam bentuk dan jenis yang bermacam-macam gerak tekniknya. Catatan-catatan tertulis tentang perkembangannya boleh dikata sudah tidak ada. Namun demikian, teori-teori umumnya menyatakan bahwa para Pendeta Budha yang pertama-tama menggunakan teknik mematahkan serangan lawan tanpa senjata (alat), dengan maksud untuk membela diri terhadap serangan dan gangguan para penjahat apabila para Pendeta tersebut sedang menjalankan misi agamanya. Lagi pula tidak diketahui dengan pasti teknik mana yang pertama kali digunakan akan tetapi yang jelas kebiasaan yang berlaku adalah spesialisasi bagi suatu teknik tertentu.
Disuatu daerah misalnya mempunyai kecakapan khusus membanting, di daerah yang lain mempunyai spesialisasi teknik menendang, sedangkan di daerah yang lainnya memakai teknik khusus memukul dengan tangan. Hal-hal tersebut mengakibatkan terdapatnya bagian-bagian yang disebut aliran-aliran kung fu.
Ada suatu cerita tradisional (legenda) tentang Pendeta Budha yang bernama Dharma yang menurut cerita tersebut Pendeta Dharma berasal dari suku Brahmana di sebelah selatan India. Pada suatu ketika, Pendeta Dharma pergi ke daratan Tiongkok kira-kira tahun 500 AD dan akhirnya tiba di daerah Liang. Di Ibukota Ching-Kang, ia memberikan pelajaran dan latihan-latihan pembelaan diri disamping pelajaran agama. Penguasa kerajaan setempat berminat untuk belajar terutama pelajaran agama dan ingin menyebarkan ajaran-ajaran Budha keseluruh daerah taklukan.
Pendeta Dharma selanjutnya meninggalkan daerah Liang dan menyeberangi sungai Yangtze menuju bagian utara Tiongkok dan tiba di negeri Wei dan menyendiri serta membangun sebuah Kuil yang kemudian disebut Kuil Siaw Liem (Siaw Liem Sie) di Shung-shan, propinsi Howan. Ia berdiam diri menyendiri (bertapa) selama waktu sembilan tahun sambil melakukan zen (meditasi) dengan cara duduk di atas sebuah batu karang yang besar. Pada saat itulah Pendeta Dharma menemukan rahasia-rahasia jasmani. Ia mengutarakan kepada murid-muridnya antara lain “semangat dan jasmani harus bersatu”, dan hal ini menjadi dasar dari kung fu.
Demikianlah kung fu mulai dipraktekkan oleh biarawan dan Imam-imam Tao Kinisha-Siaw Liem di propinsi Howan yang merupakan jantung daratan Tiongkok. Dalam biara Siaw Liem, murid-murid digembleng dengan cara melatih kung fu dan mempelajari seninya tentang hubungan aspek-aspek mental dan fisik. Kung fu bagi mereka bukan hanya merupakan suatu pengetahuan teknik membela diri tetapi juga merupakan suatu filsafat hidup. Kung fu mengandung ide-ide bagaimana memberi perlawanan yang mencelakakan lawan, melekuk-lekuk secara mudah dan ringan, meloncat dengan segala cara serta mengambil manfaat/keuntungan dari kekeliruan pelajaran dalam bentuk kehidupan.
Berkat ketekunan para murid Siaw Liem, kemampuan dan kemantapan serta keahlian mendidik para Imam Tao maka dalam Kuil Siaw Liem telah terbentuk Pendekar-pendekar yang kuat dan berdisiplin dalam keahlian membela diri dengan cara kung fu.
Namun dalam tahun 575 AD tentara kekaisaran menyerbu dan menghancurkan Kuil Siaw Liem serta membunuh sebagian biarawan dan Imam dengan tuduhan terdapat indikasi memberontak dan melawan kaisar.

ALIRAN-ALIRAN KUNG FU
Sejak hancurnya Kuil Siaw Liem maka aliran-aliran kung fu berkembang menjadi 2 (dua) aliran, yaitu yang disebut:
– A l i r a n K e r a s
– A l i r a n L e m b u t
Aliran Keras:
Aliran ini banyak berkembang di dan ke daerah Tiongkok bagian utara dan Mongolia, dengan cirri-ciri gerakan antara lain: serangan yang selalu ofensif dan agresif, sedangkan andalan atau keampuhannya ialah gerak kaki (tendangan), loncatan yang panjang dan cepat. Sifat dari aliran ini berpusat pada kecepatan dan koordinasi gerakan dan kekuatan fisik. Aliran ini lebih banyak menggunakan dan mengandalkan tenaga luar atau kekuatan jasmani.

Aliran Lembut:
Aliran ini banyak berkembang di daerah Tiongkok bagian Selatan dengan ciri-ciri gerakan antara lain pukulan selalu ringan dan lambat. Sasaran pukulan yang tiba-tiba diarahkan selalu ke mata, kemaluan, ulu hati, dan bagian leher. Sedangkan yang menjadi andalan atau keampuhan gerakan adalah pukulan, menggaruk atau mencakar serta cekikan. Sifat dari aliran ini berpusat pada kelembutan, kesatuan antara “jiwa dan badan” dan kekuatan harus diserasikan dengan gerak napas. Aliran ini lebih banyak mengandalkan pada kekuatan “dalam” atau “batin”.

Dari kedua aliran ini, sesuai dengan perkembangannya telah banyak mengkombinasikan aliran-aliran ini yang akhirnya disebut “Aliran Nan Pe” atau disebut juga “ Aliran Utara Selatan”.

PERGURUAN KUNG FU NAGA MAS
Pada tahun 1938, salah seorang pemuda warga kota Mei Yin di Propinsi Kwantung, Tiongkok, berangkat meninggalkan kota kelahirannya menuju kota Batavia, yang sekarang Jakarta Raya. Di dalam dadanya yang lapang itu, tersembunyi suatu tekad yang bulat dan mantap untuk merantau ke negeri orang dan tidak akan kembali lagi ke negeri kelahirannya sama halnya dengan tekad yang diputuskan oleh pemuda-pemuda lainnya yang berasal dari daerahnya.
Mula-mula di Kota Jakarta, hidupnya ditantang dengan berbagai persoalan, kesukaran dan kesulitan yang disebabkan oleh keadaan lingkungan, budaya, bahasa, kebiasaan dan adapt istiadat. Namun dengan modal kemauan yang keras dan ketabahan hati yang penuh dengan kesabaran, akhirnya semua rintangan itu mulai luluh satu persatu.
Kawan-kawan yang sudah lama menetap di Kota Jakarta mengenal dan tahu benar bahwa pemuda itu yang tak lain dan tak bukan bernama TJONG A SENG, sejak 7 tahun telah belajar kung fu pada beberapa orang Guru antara lain: Tjong Soe In dari Pat Kwa, Tan Ki Sie dari Kwantung, Liaw Ngok King dari Shantung, dan Liau Chung Lie dari Siaw Liem. Beberapa tahun kemudian kawan-kawannya mengajak TJONG A SENG bergabung dalam perkumpulan kung fu dibawah satu yayasan yang bergerak dalam bidang social dan olah raga, bernama: “ Yayasan Budidharma Jakarta”.
Dalam perkumpulan kung fu terdapat beberapa aliran kung fu diantaranya aliran Pat Kwa dan aliran Nan Pe. Sebagaimana aliran yang diajarkan oleh Guru-gurunya semasa berada di Tiongkok, maka TJONG A SENG bersama kawan-kawannya tetap mengadakan latihan kung fu yang beraliran Nan Pe, sedangkan perkumpulan itu pengawasannya dipegang oleh Yap Soen Hok.
Pada tahun 1950, TJONG A SENG berhasil meraih gelar Sinshe dalam hal keahlian pengobatan cara tusuk jarum (akupuntur), totok, dan ahli nujum. Kemudian Liaw Fak Yen dan Tjong A Chien diajar memainkan Barong Say dan akhirnya oleh perkumpulan Barong Say mengangkat Sinshe TJONG A SENG selaku Ketua sampai tahun 1959. Sekitar tahun 1960-an, Yayasan Budidharma Jakarta membubarkan diri.
Pada tahun 1972, Sinshe TJONG A SENG mengangkat beberapa orang murid untuk belajar kung fu, diantaranya sdr. John J. Pandey dan sdr. Usman Achmad bertempat di Jln. Kwini No. 6, Senen, Jakarta Pusat. Pada tanggal 17 April 1974, atas saran sdr. Tan Yin Siu, anak sulung Sinshe Tan Wei Sin bertempat di Jln. Salemba Raya 33A, Jakarta Pusat mengusulkan kepada sdr. John J. Pandey untuk mendirikan suatu perguruan kung fu secara terbuka untuk umum. Pembicaraan selanjutnya diadakan di rumah kediaman Sinshe Tan Wei Sin, dan Sinshe Tan Wei Sin sendiri menyarankan agar maksud itu dibicarakan langsung dengan Sinshe TJONG A SENG.
Pada tanggal 20 April 1974, atas restu Sinshe TJONG A SENG, dibukalah suatu perguruan kung fu yang belum mempunyai nama, sambil membuka pendaftaran pertama untuk umum, sementara itu dibuatlah surat permohonan kepada pihak Departemen Pertanian di Jln. Salemba Raya 16, Jakarta Pusat untuk mendapatkan fasilitas tempat latihan namun permohonan dan maksud tersebut ditolak.
Pada tanggal 21 April 1974, bertempat di Jln. Kwini No. 6, Senen, Jakarta Pusat disusunlah suatu badan kepengurusan sementara yang bersifat formalitas, yaitu selaku Guru adalah Sinshe TJONG A SENG sendiri, Ketua Perguruan adalah sdr. Usman Achmad, Penulis adalah sdr. John J. Pandey, sedangkan Bendahara adalah sdri. Caroline.
Pada tanggal 23 April 1974, bertempat di Jln. Salemba Raya 33A, Jakarta Pusat oleh Ketua Perguruan dan Penulis, dibicarakanlah suatu nama perguruan yang permanent dan diilhami oleh gambar naga yang ada pada sebuah Kipas milik Sinshe TJONG A SENG. Setelah tersusun nama perguruan maka diajukanlah kepada Sinshe TJONG A SENG. Setelah disetujui dan disahkan oleh Sinshe TJONG A SENG maka terciptalah nama perguruan yaitu: “Perguruan Seni Ilmu Beladiri Silat Kung Fu Naga Mas”.
Pada tanggal 24 April 1974, oleh Pataud Sospol Hankam Jln. Salemba Raya 14, Jakarta Pusat menyetujui dan memberikan fasilitas tempat latihan untuk dijadikan pusat latihan kung fu.
Seperti yang diutarakan pada pendahuluan, maka dengan surat keputusan Ketua Umum No. Kep. 01/KFNM/V/75 tanggal 2 Mei 1975, nama perguruan disederhanakan dan menjadi: “Perguruan Kung Fu Naga Mas”.
Pada tanggal 6 September 1984 bertempat di Jln. Belakang Klinik No. 23 Bukitduri, Tebet, Jakarta Selatan diadakan Musyawarah Besar (Mubes) Luar Biasa dan dalam keputusan antara lain mengubah nama perguruan yang disesuaikan dengan anjuran pemerintah, menjadi: “Perguruan Silat Naga Mas”.
Selama bernaung dalam Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), sangatlah terasa perkembangan Perguruan ini tidak menunjukkan kemajuan tetapi semakin lama semakin menurun baik kwalitas maupun kwantitas sehingga jati diri Naga Mas jarang terlihat jelas. Sejarah telah mencatat pengalaman pahit selama di IPSI. Apalagi ketika turnamen-turnamen yang diselenggarakan oleh IPSI, atlit-atlit Naga Mas hanya menjadi tumbal belaka. Mengapa tidak, begitu banyak atlit yang selayaknya mendapat gelar juara tetapi dengan rekayasa dan sebagainya mengakibatkan atlit-atlit Naga Mas cukup berpredikat peserta saja tanpa juara.
Dengan mencermati pengalaman-pengalaman di IPSI tersebut, maka Perguruan Kung Fu Naga Mas bersama-sama dengan beberapa Perguruan Kung Fu lainnya di Jakarta yang bernasib sama, berusaha keluar dari kemelut yang ada. Bagi Perguruan Kung Fu Naga Mas, sikap yang diambil adalah:
1. Mengembalikan jatidiri yang sebenarnya dari Perguruan Kung Fu Naga Mas.
2. Berusaha keluar dari keanggotaannya di IPSI.
3. Berusaha mendirikan organisasi sebagai tempat bernaung bagi seluruh Perguruan Kung Fu yang tersebar di tanah air.
Dengan diambilnmya sikap tersebut di atas, maka sejak tahun 1990 terjadilah “masa transisi”.
Pada masa transisi tersebut, para pengurus Perguruan Kung Fu yang ada di Jakarta implicit Kung Fu Naga Mas mendirikan organisasi dengan nama “SEBUSI” (seni Beladiri Utara Selatan Indonesia). Meski masih dibawah taktis IPSI, dengan berdirinya SEBUSI ini, maka mulai terlihat tanda-tanda dimana Perguruan Kung Fu mulai memisahkan diri dari keanggotaan di IPSI karena pada saat itu juga ternyata telah berdiri organisasi Kung Fu se ASIA dengan nama: ASIA CHINESE KUOSHU (KUNG FU) FEDERATION dengan pusat di Taiwan. Betapa bangganya SEBUSI ketika mendapat undangan dari KOREA BRANCH OF INTERNATIONAL CHINESE KUOSHU FEDERATION untuk mengikuti turnamen kung fu internasional di Korea Selatan pada bulan Oktober 1990. Meskipun masih dalam himpitan tetapi dengan tekad untuk mengibarkan panji kung fu di Indonesia maka SEBUSI mengirimkan atlit-atlitnya ke Korea Selatan implicit atlit-atlit kung fu Naga Mas.
Masih dalam masa transisi, suatu dinamika terjadi dengan pengurus IPSI ketika berdiri PERWUNA (Persatuan Wushu Nasional) pada bulan Desember 1990 dan menggelar pertandingan kung fu di GOR Lokasari, Jakarta dan Perguruan Kung Fu Naga Mas keluar sebagai juara umum. Selanjutnya pada tanggal 25 Februari 1992 di Surabaya digelar kejuaraan dunia kung fu professional dan Perguruan Kung Fu Naga Mas keluar sebagai juara umum. Akhirnya masa transisi berakhir ketika tanggal 10 November 1992 secara resmi berdiri organisasi WUSHU INDONESIA (WI) dan menjadi salah satu cabang olahraga resmi yang dikelola oleh KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). Selanjutnya dalam wadah Wushu Indonesia inilah seluruh perguruan kung fu di Indonesia bernaung termasuk Perguruan Kung Fu Naga Mas. Sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam organisasi Wushu Indonesia, Perguruan Kung Fu Naga Mas tetap terlibat aktif untuk mengibarkan panjinya dan akhirnya kemelut yang terjadi jauh sebelumnya sirna ditelan perkembangan zaman. Kini Perguruan Kung Fu Naga Mas senantiasa bersatu dengan kegiatan-kegiatan Wushu Indonesia baik di tingkat daerah, regional, nasional, dan dunia.
Demikianlah sejarah Perguruan Kung Fu Naga Mas, semoga tetap jaya.

Q) Sejarah Beladiri Judo

Judo (bahasa Jepang: 柔道 ) adalah seni bela diri, olahraga, dan filosofi yang berakar dari Jepang. Judo dikembangkan dari seni bela diri kuno Jepang yang disebut Jujutsu. Jujutsu yang merupakan seni bertahan dan menyerang menggunakan tangan kosong maupun senjata pendek, dikembangkan menjadi Judo oleh Kano Jigoro (嘉納治五郎) pada 1882. Olahraga ini menjadi model dari seni bela diri Jepang, gendai budo, dikembangkan dari sekolah (koryu) tua. Pemain judo disebut judoka atau pejudo. Judo sekarang merupakan sebuah cabang bela diri yang populer, bahkan telah menjadi cabang olahraga resmi Olimpiade.

Sebelum Judo

Pegulat sumo zaman dahulu kala menjatuhkan lawannya tanpa senjata. Hal ini menginspirasikan teknik-teknik bela diri jujutsu. Sumo pada awalnya hanya dinikmati kaum aristokrat sebagai ritual atau upacara keagamaan pada zaman Heian (abad ke-8 hingga abad ke-12).

Pada perkembangannya, Jepang memasuki masa-masa perang di mana kaum aristokrat digeser kedudukannya oleh kaum militer. Demikian pula olahraga yang sebelumnya hanya dijadikan hiburan, oleh kaum militer dijadikan untuk latihan para tentara. Pada masa inilah teknik jujutsu dikembangkan di medan pertempuran. Para prajurit bertempur tanpa senjata atau dengan senjata pendek. Teknik menjatuhkan lawan atau melumpuhkan lawan inilah yang dikenal dengan nama jujutsu.

Pada zaman Edo (abad ke-17 hingga abad ke-19) di mana keadaan Jepang relatif aman, jujutsu dikembangkan menjadi seni bela diri untuk melatih tubuh bagi masyarakat kelas ksatria. Gaya-gaya jujutsu yang berbeda-beda mulai muncul, antara lain Takenouchi, Susumihozan, Araki, Sekiguchi, Kito, dan Tenjinshin’yo.

Awal mula Judo

Jigoro Kano menambahkan gayanya sendiri pada banyak cabang jujutsu yang ia pelajari pada masa itu (termasuk Tenjinshiyo dan Kito). Pada tahun 1882 ia mendirikan sebuah dojo di Tokyo yang ia sebut Kodokan Judo. Dojo pertama ini didirikan di kuil Eisho ji, dengan jumlah murid sembilan orang.

Tujuan utama jujutsu adalah penguasaan teknik menyerang dan bertahan. Kano mengadaptasi tujuan ini, tapi lebih mengutamakan sistem pengajaran dan pembelajaran. Ia mengembangkan tiga target spesifik untuk judo: latihan fisik, pengembangan mental / roh.

R) Sejarah Beladiri Ninja

A. Sejarah
Shinobi atau Ninja( Seseorang yang bergerak secara rahasia ) adalah seorang pembunuh yang terlatih dalam seni ninjutsu jepang. Ninja, seperti samurai, mematuhi peraturan khas mereka sendiri, yang disebut ninpo. Menurut sebagian pengamat ninjutsu, keahlian seorang ninja bukanlah pembunuhan tetapi penyusupan. Ninja berasal dari bahasa Jepang yang berbunyi Nin yang artinya menyusup. Jadi, keahlian khusus seorang ninja adalah menyusup dengan atau tanpa suara. Kagetora, Naruto, Ninja Rantaro, adalah contoh kecil manga yang mengangkat ninja sebagai tema utamanya. Apa ninja itu? Sama seperti yang dikisahkan dalam berbagai cerita bahwa ninja itu penuh rahasia. Ninja biasanya segera dikaitkan dengan sosok yng terampil beladiri, ahli menyusup dan serba misterius seperti yang tampak di dalam film atau manga. Dalam kenyataannya penampilan ninja yang serba hitam ada benarnya, namun jika ada anggapan bahwa ninja identik dengan pembunuh brutal, berdarah dingin, pembuat onar, tukang sabotase, tidak demikian adanya.

Kata ninja terbentuk dari dua kata yaitu nin dan sha yang masing-masing artinya adalah tersembunyi dan orang. Jadi ninja adalah mata-mata profesional pada zaman feudal jepang. Sejarah ninja juga sangat sulit dilacak. Info mengenai keberadaan mereka tersimpan rapat-rapat dalam dokumen-dokumen rahasia. Ninja juga bisa diartikan sebagai nama yang diberikan kepada seseorang yang menguasai dan mendalami seni bela diri ninjutsu. Nin artinya pertahanan dan jutsu adalah seni atau cara. Kata ninja juga diambil dari kata ninpo. Po artinya adalah falsafah hidup atau dengan kata lain ninpo adalah falsafah tertinggi dari ilmu beladiri ninjutsu yang menjadi dasar kehidupan seorang ninja. Jadi ninja akan selalu waspada dan terintregasi pada prinsip ninpo.

Ninja dalah mata-mata profesionl di jaman ketika para samurai masih memegang kekuasaan tertinggi di pemerintahan jepang pada abad 12. Pada abad 14 pertarungan memperebutkan kekuasaan semakin memanas, informasi tentang aktifitas dan kekuatan lawan menjadi penting, dan para ninja pun semakin aktif. Para ninja dipanggil oleh daimyo untuk mengumpulkan informasi, merusak dan menghancurkan gudang persenjataan ataupun gudang makanan, serta untuk memimpin pasukan penyerbuan di malam hari.karena itu ninja memperoleh latiham khusus. Ninja tetap aktif sampai jaman edo (1600-1868), dimana akhirnya kekuasaan dibenahi oleh pemerintah di zaman edo.

B. Asal-usul Ninja
Kemunculan ninja pada tahun 522 berhubungan erat dengan masuknya seni nonuse ke Jepang. Seni nonuse inilah yang membuka jalan bagi lahirnya ninja. Seni nonuse atau yang biasa disebut seni bertindak diam-diam adalah suatu praktek keagamaan yang dilakukan oleh para pendeta yang pada saat itu bertugas memberikan info kepada orang-orang di pemerintahan. Sekitar tahun 645, pendeta-pendeta tersebut menyempurnakan kemampuan bela diri dan mulai menggunakan pengetahuan mereka tentang nonuse untuk melindungi diri dari intimidasi pemerintah pusat.

Pada tahun 794-1192, kehidupan masyarakat jepang mulai berkembang dan melahirkan kelas-kelas baru berdasarkan kekayaan. Keluarga kelas ini saling bertarung satu sama lain dalam usahanya menggulingkan kekaisaran. Kebutuhan keluarga akan pembunuh dan mata-mata semakin meningkat untuk memperebutkan kekuasaan. Karena itu permintaan akan para praktisi nonuse semakin meningkat. Inilah awal kelahiran ninja. Pada abad ke-16 ninja sudah dikenal dan eksis sebagai suatu keluarga atau klan di kota Iga atau Koga. Ninja pada saat itu merupakan profesi yang berhubungan erat dengan itelijen tingkat tinggi dalam pemerintah feodal para raja di jepang. Berdasarkan hal itu, masing-masing klan memiliki tradisi mengajarkan ilmu beladiri secara rahasia dalam keluarganya saja. Ilmu beladiri yang kemudian dikenal dengan nama ninjutsu. Dalah ilmu yang diwariskan dari leluhur mereka dan atas hasil penyempurnaan seni berperang selama puluhan generasi. Menurut para ahli sejarah hal itu telah berlangsung selama lebih dari 4 abad. Ilmu itu meliputi falsafah bushido, spionase, taktik perang komando, tenaga dalam, tenaga supranatural, dan berbagai jenis bela diri lain yang tumbuh dan berkembang menurut jaman.

Namun ada sebuah catatan sejarah yang mengatakan bahwa sekitar abad ke-9 terjadi eksodus dari cina ke jepang. Hal ini terjadi karena runtuhnya dinasti tang dan adanya pergolakan politik. Sehingga banyak pengungsi yang mencari perlindungan ke jepang.sebagian dari mereka adalah jendral besar, prajurit dan biksu. Mereka menetap di propinsi Iga, di tengah pulau honsu. Jendral tersebut antara lain Cho Gyokko, Ikai Cho Busho membawa pengetahuan mereka dan membaur dengan kebudayaan setempat. Strategi militer, filsafat kepercayaan, konsep kebudayaan, ilmu pengobatan tradisional, dan falsafah tradisional. Semuanya menyatu dengan kebiasaan setempat yang akhirnya membentuk ilmu yang bernama ninjutsu.

C. Bela diri Ninjutsu
Gerakan beladiri ninjutsu hanya tendangan, lemparan, patahan, dan serangan. Kemudian dilengkapi dengan teknik pertahanan diri seperti bantingan, rolling dan teknik bantu seperti meloloskan diri, mengendap, dan teknik khusus lainnya. Namun, dalam prakteknya ninja menghindari kontak langsung dengan lawannya, oleh karena itu berbagai alat lempar, lontar, tembak, dan penyamaran lebih sering digunakan. Berbeda dengan seni beladiri lain. Ninjutsu mengajarkan teknik spionase, sabotase, melumpuhkan lawan, dan menjatuhkan mental lawan. Ilmu tersebut digunakan untuk melindungi keluarga ninja mereka. Apa yang dilakukan ninja memang sulit dimengerti. Pada satu sisi harus bertempur untuk melindungi, di sisi lain ninja harus menerapkan “berperilaku kejam dan licik” saat menggunakan jurus untuk menghadapi lawan. Disisi lain ajaran ninpo memberi petunjuk bahwa salah satu tujuan ninjutsu adalah mengaktifkan indra keenam mereka. paduan intuisi dan kekuatan fisik pada jangka waktu yang lama memungkinkan para ninja untuk mengaktifkan indra keenamnya. Sehingga dapat mengenal orang lain dengan baik dan mengerti berbagai persoalan dalam berbagai disiplin ilmu.

Di dalam ninpo terdapat teknik beladiri tangan kosong (taijutsu), teknik pedang (kenjutsu), teknik bahan peledak dan senjata api (kajutsu), teknik hipnotis (saimonjutsu), dan teknik ilusi(genjutsu). Pada aliran togaku ryu dikenal adanya energi yang disebut kuji kiri. Prinsipnya adalah penggabungan antara kekuatan fisik dan mental. Penyaluran energi yang tepat dari tenaga kuji kiri dapat bersifat menghancurkan, namun disisi lain jika digunakan untuk olah pikir dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan yang pelik.

Ninjutsu akan sia-sia jika ninja tidak memiliki mental dan spiritual yang kuat. Untuk itu ninja harus menguasai kuji-in, yaitu kekuatan spiritual dan mental berdasarkan simbol yang terdapat di telapak tangan yang dipercaya menjadi saluran energi. Simbol di tangan di ambil dari praktek pada massa awal penyebaran agama budha. Kuji-in digunakan untuk membangun kepercayaan diri dan kekuatan seorang ninja. Kuji-in mampu meningkatkan kepekaan terhadap keadaan bahaya dan mendeteksi adanya kematian.

Dari 81 simbol yang ada, hanya 9 yang utama, yaitu rin(memberi kekuatan tubuh), hei (memberi kekuatan menyamarkan kehadiran seseorang), Toh (menyeimbangkan bagian padat dan cair pada tubuh), sha (kemampuan menyembuhkan), kai(memberi kontrol menyeluruh terhadap fungsi tubuh), jin(meningkatkan kekuatan telepati), retsu (memberi kekuatan telekinetik), zai (meningkatkan keselarasan terhadap alam), dan zen (memberi pencerahan pikiran dan pemahaman). Seorang ninja akan menjadi master sejati dengan menguasai simbol-simbol ini.

Walaupun terdapat banyak keluarga ninja di jepang, baru sekitar tahun enam puluhan keluarga ninja baru dapat di dekati oleh orang luar. Sejak ninja dinyatakan terlarang oleh shogun tokugawa pada abad 17. pada tahun 1950 larangan tersebut dicabut oleh pemerintah Jepang. Pada tahun 1960 televisi jepang menayangkan laporan dokumentasi dan sejarah ninja. Setelah itu salah satu aliran yang dapat membuka diri dan memperkenalkan ninja ke dunia luar adalah aliran togakure-ryu dengan pewaris dari generasi ke 34, masaaki hatsume,.yang profesi sehari-harinya adalah seorang tabib ahli penyembuhan dan pengobatan tulang. Pada tahun 1978 ninjutsu berhasil di publikasikan dan diajarkan ke amerika oleh stephen k. hayes. Sejak saat itu ninjutsu menjadi cabang beladiri yang paling banyak diminati.

D. Peralatan Ninja
Ninja diharuskan untuk bisa bertahan hidup di tengah alam, karena itu mereka menjadi terlatih secara alamiah untuk mampu membedakan tumbuhan yang bisa dimakan, tumbuhan racun, dan tumbuhan obat. Mereka memiliki metode cerdik untuk mengetahui waktu dan mata angin. Ninja menggunakan bintang sebagai alat navigasi mereka ketika menjalankan misi di malam hari.mereka juga mahir memasang perangkap, memasak hewan, membangun tempat berlindung, menemukan air dan membuat api.

Ninja memakai baju yang menutup tubuh mereka kecuali telapak tangan dan seputar mata. Baju ninja ini disebut shinobi shozoko. shinobi shozoko memiliki 3 warna. Baju warna hitam biasanya dipakai ketika melakukan misi di malam hari dan bisa juga sebagai tanda kematian yang nyata bagi sang target. Warna putih digunakan untuk misi di hari bersalju. Warna hijau sebagai kamuflase agar mereka tidak terlihat dalam lingkungan hutan.

Shinobi shozoko memiliki banyak kantong di dalam dan luarnya. Kantong ini digunakan untuk menyimpan peralatan kecil dan senjata yang mereka butuhkan, seperti racun, shuriken, pisau, bom asap dan lain-lain. Ninja juga membawa kotak P3K kecil tradisional, yang diisi dengan cairan dan minuman. Ninja juga memakai tabi yang mirip sepatu boot. Celah yang memisahkan jempol kaki dengan jari lainnya memudahkan ninja saat memanjat tali atau dinding.

Ninja wanita atau kunoichi yang biasanya bekerja dengan menggunakan kefemininan mereka ketika melakukan pendekatan pada sang target menggunakan manipulasi kejiwaan dan perang batin sebagai senjata mereka. mereka bisa mendekati target dan membunuhnya tanpa jejak. Kunoichi memiliki misi yang berbeda dengan ninja laki-laki. Mereka lebih sering dekat dengan target, sehingga mereka juga lebih sering menggunakan senjata jarak dekat seperti metsubishi, racun, golok, tali, dan tessen. Selain itu senjata-senjata tersebut juga praktis dibawa tanpa kelihatan.

Ninja memiliki senjata dalam berbagai jenis, bentuk, dan ukuran. Selain senjata standar seperti pedang, naginata, panah, dan pisau, ada pula tessen (kipas yang bila dikibaskan keluar racun), shobo, kyoketsu shogei, neko te, dan lain-lain. Peralatan canggih ninja lainnya adalah kaginawa(jangkar bertali) untuk memanjat dinding, ashiaro untuk membuat jejak kaki palsu agar tidak terlacak saat menjalankan misi, metsubishi(cangkang telur yang diisi dengan pasir dan serbuk logam, biasanya juga kotoran tikus) yang berfungsi untuk membutakan lawan.

E. Pelatihan Ninja
Pada saat anak-anak ninja telah dilatih untuk waspada dan dididik dalam kerahasiaan dan tradisi ilmu mereka. Pada umur 5-6 tahun mereka diperkenalkan dengan permainan ketangkasan dan keseimbangan tubuh. Anak-anak disuruh berjalan diatas papan titian yang sangat keci, mendaki papan yang terjal, dan melompati semak-semak yang berduri. Pada umur 9 tahun mereka dilatih untuk kelenturan otot. Anak-anak berlatih berguling dan meloncat. Setelah itu anak-anak diajarkan teknik memukul dan menendang pada target jerami yang di ikat. Setelah itu pelatihan meningkat ke seni bela diri tanpa senjata dan setelahnya dasar-dasar menggunakan pedang dan tongkat.

Pada masa remaja mereka diajari cara menggunakan senjata khusus. Melempar pisau, penyembunyian senjata, teknik tali, berenang, taktik bawah air, dan teknik menggunakan alam untuk mendapat informasai atau untuk menyembunyikan diri. Waktu mereka dihabiskan dalam ruang tertutup atau bergelantungan di pohon untuk membangun kesabaran, daya tahan, dan stamina. Terdapat pula latihan gerak tanpa suara dan lari jarak jauh. Mereka juga diajarkan teknik melompat dari pohon ke pohon atau atap ke atap.

Pada masa akir remaja ninja belajar menjadi aktor dan psikologi melalui tingkah laku mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Mereka mulai mengerti cara bekerja jiwa manusia, menggunakan kelemahan orang lain untuk keuntungan mereka. Mereka juga belajar membuat obat-obatan, mendapatkan jalan masuk rahasia ke dalam sebuah bangunan, cara memanjat dinding, melewati atap, mencuri di bawah rantai, mengikat musuh, cara kabur, dan menggambar peta, rute, petunjuk jalan, serta wajah.

Ada 18 tingkat ilmu dan seni berperang ninjutsu dari banyak keahlian yang dimiliki oleh ninja yang dapat dipelajari oleh umum pada saat ini. Selebihnya di luar keterampilan fisik dan penguasaan jiwa, para pendekar ini harus mempelajari latihan batin. Setelah menguasai level ini, ninja bisa sangat ahli dan bahkan dianggap sebagai orang bijak atau dukun, karena kemampuannya menyatu dengan alam dan siklus di sekitarnya.

Delapan belas keahlian tersebut adalah:
1. seishin teki kyoyo (pemurnian jiwa)
ninja aliran tokakure sangat mengandalkan pengenalan jati diri. Seorang ninja harus mengetahui dengan tepat komitmen dan motivasi hidupnya. Dengan pemahaman dan penghayatan terhadap proses pematangan seorang ninja bisa menjadi seorang pendekar yang bijak. Keterlibatan ninja dalam pertarungan dimotivasi oleh alasan untuk melindungi. Tidak dibenarkan jika alasannya semata-mata hanya karena uang.

2. tai jutsu (bertarung dengan tangan kosong)
paduan dari ilmu daken taijutsu(pukul, tendng, tangkis), ju taijutsu(gumul, mencekik, meloloskan dari kuncian), taihen jutsu(gerak tanpa suara, berguling, melompat, cara jatuh). Keterampilan ini di perlukan pada situasi terancam atau bertahan

3. ninja ken (pedang ninja)
pedang ninja adalah pedang pedek lurus bermata tunggal. Pedang adalah senjata utama ninja. Untuk menggunakan pedang dituntut dua keahlian utama yaitu ilmu menarik pedang (dg kecepatan namun halus gerakannya ) sekaligus mengayun untuk memotong.

4. bo jutsu (jurus tongkat dan bilah)
ada 2 jenis tongkat, tongkat panjang sekitar 2 meter(bo) dan tongkat pendek sekitar satu meter(hanbo). Ada lagi senjata dari bilah bambu yang bila di buka di dalamnya ada mata pedang yang sekilas tampak seperti tongkat biasa.

5. shuriken jutsu (senjata lempar)
ilmu lempar berupa lempeng baja dengan mata tajam bersisi empat seperti bintang(senban shuriken) atau paku lempar(bo shuriken). Senban shuriken dilempar dengan cara dipuntir agar bisa menancap dan memberi efek gergaji. Bo shuriken dilempar bersamaan beberapa buah sehingga terlihat seperti kilatan jarum.

6. yari jutsu(jurus tombak)
tombak digunakan untuk pertarungan jarak sedang untuk menangkis dan meredam serangan lawan.

7. naginata jutsu(jurus pedang bertongkat)
pedang pendek yang gagangnya dibuat panjang seukuran tombak. Digunakan ninja untuk memotong lawan yang berada dalam jarak sedang. Bisa digunakan untuk menyerang samurai dan merobohkan tentara berkuda.

8. kusari gama (jurus rantai dan bandul)
berupa rantai sepanjang 2-3 meter yang diberi bandul pada salah satu ujungnya. Pada ujung yang lain dikaitkan pada gagang arit tradisional jepang. Rantai digunakan untuk menangkis serangan senjata lawan.sedangkan bilah arit digunakan untuk menghabisi lawan yang sudah terjerat. Senjata rantai dan bandul yang disukai oleh para ninja aliran togakure adalah kyoketsu yaitu belati lengkung yang gagangnya dipasangi tali halus dari rambut kuda dan ujung tali satu lagi diberi cincin baja besar.

9. henso jutsu (ilmu menyamar dan membaur)
ilmu ini sangat diperlukan pada saat spionase. Ninja membuat identitas palsu dan mengalihkan perhatian orang. Ninja juga bergerak tanpa bisa di lacak.

10. shinobi iri (ilmu mengintai dan menyusup)
ilmu ini mengajarkan bergerak tanpa suara dan bersembunyi di bawah bayangan.

11. ba jutsu
seorang ninja harus bisa bertempur di atas kuda selain menunggang kuda dengan baik di segala medan.

12. sui ren (ilmu tempur dalam air)
meliputi teknik mengintai dengan cara berenang, bergerak tanpa suara dalam air, cara menggunakan perahu khusus untuk mengapung dalam air, dan teknik perkelahian dalam air.

13. bo ryaku (ilmu strategi)
ilmu taktik yang tak lazim digunakan dalam kondisi bertahan atau pertarungan terbuka. Ninja sering memanfaatkan kondisi sekitarnya untuk melaksanakan tugasnya, tanpa banyak mengeluarkan energi.

14. cho ho (ilmu spionase)
ilmu mata-mata termasuk merekrut dan memakai orang yang digunakan sebagai mata-mata.

15. inton jutsu (teknik meloloskan diri dan menghilang)
ninja pandai meloloskan diri dengan memanfaatkan keadaan alam yang ada.

16. ten mon (meteorologi)
memanfaatkan cuaca juga merupakan senjata utama ninja. Sejak kecil mereka dilatih mengendalikan cuaca dari tanda-tanda alam yang kecil.

17. chi mon (geografi)
teknik pemanfaatan lahan.

E. Filosofi Ninja
Filosofi ninja adalah meraih hasil maksimal dengan tenaga minimum. Muslihat dan taktik lebih sering dilakukan daripada konfrontasi langsung. Ninja tidak memiliki status mulia seperti samurai, sehingga ninja bebas melakukan apapun untuk mengatasi masalah, tanpa terikat oleh nama baik keluarga dan kehormatan.

S) Sejarah Beladiri Samurai

Samurai (侍 atau kadang-kala 士) adalah istilah yang biasa digunakan bagi perwira zaman sebelum industri Jepun. Istilah yang lebih tepat adalah bushi (武士) (harafiah. “orang bersenjata”) yang digunakan semasa zaman Edo. Bagaimanapun, istilah samurai digunakan sekarang bagi merujuk wira bangsawan, bukan, contohnya, ashigaru atau tentera berjalan kaki. Samurai tanpa sebarang ikatan dengan sesuatu puak ( clan ) atau daimyo dikenali sebagai ronin (harafiah. “orang ombak”).

Samurai dianggap mesti bersopan dan terpelajar, dan beransur-ansur, samurai semasa era Tokugawa beransur-ansur kehilangan fungsi ketenteraan mereka. Pada akhir era Tokugawa, samurai secara umumnya adalah kakitangan am bagi daimyo, dengan pedang mereka hanya untuk tujuan istiadat. Dengan reformasi Meiji pada akhir abad ke 19, samurai dihapuskan sebagai kelas berbeza dan digantikan dengan tentera kebangsaan menyerupai negara barat. Kod samurai yang ketat dikenali sebagai bushido masih kekal, bagaimanapun, dalam masyarakat Jepun masa kini, sebagaimana aspek cara hidup mereka yang lain.

Etimologi

Perkataan samurai berasal pada sebelum Tempoh Heian di Jepun apabila ia disebut sebagai saburai, bererti suruhan atau pengikut. Ia hanya pada tempoh awal moden, khususnya pada tempoh Azuchi-Momoyama dan awal tempoh Edo pada lewat 16 dan awal abad ke 17 perkataan saburai bertukar diganti dengan perkataan samurai. Bagaimanapun, pada masa itu, ertinya telah lama berubah.

Pada era pemerintahan samurai, istilah awal yumitori (“pemanah”) juga digunakan sebagai gelaran kehormat bagi wira terbilang, walaupun pemain pedang telah menjadi lebih penting. Pemanah Jepun (kyujutsu), masih berkait rapat dengan dewa perang Hachiman.

Berikut adalah beberapa istilah lain samurai:

  • Buke (武家) – Ahli bela diri
  • Kabukimono – Perkataan dari kabuku atau condong, ia merujuk kepada stail samurai berwarna-warni.
  • Mononofu (もののふ) – Istilah silam bererti wira.
  • Musha (武者) – Bentuk ringkasan Bugeisha (武芸者), harafiah. pakar bela diri.
  • Si (士) – Sepatah perkataan kanji untuk menggantikan perkataan samurai.
  • Tsuwamono (兵) – Istilah silam bagi tentera ditonjolkan oleh Matsuo Basho dalam haiku terkemukannya. Erti harafiahnya orang kuat.

Senjata

Seseorang samurai memgunakan pelbagai jenis senjata. Ia sering didakwa bahawa roh seseorang samurai terletak pada pedang katana yang dibawanya. Kadang-kala samurai digambarkan bergantung sepenuhnya kepada katana untuk berlawan. Ini seperti perbezaan antara peranan crossbow pada kasasteria Eropah zaman pertengahan (medieval) dan peranan pedang kepada kasasteria, simbol sebagai samurai dan bukannya kepentingan katana itu sendiri. Apabila mencecah usia tiga belas tahun, dalam upacara yang dikenali sebagai Genpuku (元服), kanak-kanak lelaki diberikan wakizashi dan nama dewasa dan menjadi samurai secara rasmi. Ini juga memberikan hak kepadanya untuk mengenakan katana walaupun ia biasanya diikat dengan benang bagi mengelakkan katana dihunus dengan tidak sengaja. Pasangan katana dan wakizashi dikenali sebagai Daisho, harafiahnya. besar dan kecil.

Senjata samurai yang digemari adalah yumi atau busar komposit dan ia kekal tidak berubah selama beberapa abad sehingga kemasukan ubat bedil dan rifle pada abad ke 16. Busar komposit stail Jepun adalah senjata yang berkuasa. Saiznya membenarkannya memanah pelbagai panah seperti panah berapi dan panag isyarat dengan tepat pada jarak melebihi 100 meter, melebihi 200 meter jikalau ketepatan tidak terlalu penting.. Ia biasanya digunakan secara berdiri dibelakang Tedate (手盾), perisai kayu yang besar tetapi ia juga boleh digunakan semasa menunggang kuda. Latihan memanah di belakang kuda menjadi istiadat Shinto, Yabusame (流鏑馬). Dalam pertempuran melawan penjajah Mongol, busar komposit ini menjadi senjata penentu melangkaui busar komposit kecil dan crossbow yang lebih digemari oleh tentera Mongol dan Cina. Pasukan tentera Mongol ketiadaan kuda yang telah digunakan dengan berkesan menentang musuh dan terpaksa berperang semasa berjalan kaki, dengan itu mengurangkan keberkesanan mereka.

Pada abad ke 15, tombak yari menjadi senjata utama. Yari menggantikan naginata di lapangan pertempuran apabila keberanian individual kurang menjadi faktor dan pertempuran lebih tersusun. Ia lebih mudah dan merbahaya berbanding katana. Serbuan, berkuda atau berlari, lebih berkesan apabila menggunakan tombak dan memberikan peluang yang lebih baik berbanding samurai bersenjatakan katana. Dalam Pertempuran Sizugatake di mana Shibata Katsuie dikalahkan oleh Toyotomi Hideyoshi, masa itu turut dikenali sebagai Hashiba Hideyoshi, Tujuh Pemain Tombak Sizugatake (賤ヶ岳七本槍), Yari turut memainkan peranan penting dalam meraih kemenangan.

Salah satu perdebatan mengenai senjata samurai adalah sama ada samurai pernah menyerbu dengan menunggang kuda. Kuda pada masa itu adalah lebih kecil tetapi lebih bertenaga, bagaimanapun masih menjadi pertanyaan sejauh mana kuda masa itu mampu membawa samurai yang mengenakan perisai lengkap yang berat. Kepercayaan tradisi menegaskan bahawa samurai pada kebanyakan masa bertempur di belakang kuda dan bertindak sebagai tentera berkuda berat yang menyerbu bagi menembusi tentera berjalan kaki yang tidak mampu berbuat apa-apa. Pada masa kini, dipercayai bahawa samurai pada kebanyakan masa bertempur berjalan kaki dan menggunakan kuda untuk pengangkutan dan hanya sekali-sekala menyerbu dengan menunggang kuda pada musuh yang berterabur dan sedang berundur. Pertempuran Nagashino merupakan salah satu pertempuran di mana samurai dikatakan menyerbu di belakang kuda.

Selepas rifle matchlock diperkenalkan dari Europah, para samurai mula menggunakannya. Ia kemudiannya menjadi senjata kegemaran bagi bagi menembak curi di lapangan pertempuran di mana seseorang samurai diberi hadiah bagi setiap musuh yang dibunuhnya sendiri, walaupun memerintah merupakan aspek penting bagi samurai. Tentera berdaftar ( conscripted ) turut menggunakan rifles matchlock tetapi menembak secara serentak bagi memusnahkan barisan musuh. Pada akhir zaman feudal, sesetengah samurai menubuhkan dragoon sebagai sebahagian tentera dan sesetengahnya dilapurkan telah digunakan dalam Pertempuran Sekigahara dan pertempuran berikutnya.

Sesetengah samurai hanya bersenjatakan dengan katana di medan pertempuran. Takeda Shingen merupakan salah seorang samurai sedemikian. Ini tidak bererti bahawa mereka bertempur dengan menggunakan katana. Sebaliknya, mereka menumpukan pada mentakbir dan yakin bahawa mereka mampu dilindungi oleh tentera mereka. Dalam satu Pertempuran Kawanakajima, ini hampir mengakibatkan Shingen terbunuh. Pelannya tersilap dan tentera Uesugi Kenshin menyerbu tentera di bawah pemerintahan Shingen yang tidak menyedari rancangan perangkap mereka dikesan. Dengan hanya separuh tenteranya dan dikejutan sepenuhnya, Shingen sendiri terpaksa mempertahankan dirinya dengan menggunakan batang kayu yang digunakannya untuk memerintah serangan. Baki tenteranya hampir tidak sempat untuk menyelamatkan Shingen dan tenteranya yang lain daripada dihapuskan sepenuhnya.

Senjata lain yang digunakan oleh samurai adalah jo, bo, bom tangan, manjanik dan meriam. Bagaimanapun, sesetengah samurai mengemari yang lain. Dalam pertempuran sekitar pemulihan Meiji, lebih banyak senjata moden seperti Gatling gun dan rifle digunakan.

Sejarah

 

Lukisan samurai-samurai pada tahun 1880

Asal Samurai

Sebelum Tempoh Heian, tentera di Japan diterapkan menurut tentera Cina dan di bawah pemerintahan langsung Maharaja. Kecuali hamba, semua lelaki berkemampuan mempunyai tanggungjawab untuk menyertai tentera. Mereka perlu membekalkan diri mereka sendiri dan ramai yang sesat atau berputus asa untuk pulang dan menetap dalam perjalanan pulang. Ini dianggap sebahagian daripada cukai dan ia boleh ditukar ganti dengan bentuk cukai yang lain seperti sekayu kain. Mereka ini dikenali sebagai Sakimori (防人), harafiah. pembela tetapi mereka tiada kaitan dengan samurai.

Pada awal tempoh Heian, akhir abad ke 8 dan awal abad ke 9, Maharaja Kammu cuba memantap dan meluaskan kuasanya di utara Honshu. Tentera yang dihantar untuk mematahkan pemberontak Emishi tidak berdisplin dan bersemangat dengan itu menemui kegagalan. Maharaja Kammu kemudiannya memperkenalkan gelaran Seiitaishogun (征夷大将軍) atau shogun dan mulai bergantung kepada puak daerah ( regional clans ) yang berkuasa bagi menjajah Emishi. Mahir dalam pertempuran berkuda dan memanah, wira puak clan warriors merupakan alat yang digemari Maharaja bagi mematahkan pemberontakan.

Semasa tempoh Heian, tentera maharaja dibubarkan dan kuasa maharaja beransur menjadi lemah. Walaupun maharaja masih merupakan pemerintah, puak-puak berkuasa disekeliling Kyoto mengambil kedudukan sebagai menteri dan sanak-saudara mereka membeli kedudukan sebagai hakim bagi mengumpul cukai. Untuk membayar hutang mereka dan mengumpul harta, mereka sering mengenakan cukai yang berat dan ramai petani terpaksa meninggalkan tanah mereka. Puak daerah ( Regional clans ) bertambah kuat dengan menawarkan cukai yang lebih rendah kepada rakyat mereka dan kebebasan dari kerahan tenaga ( conscription ). Puak-puak ini melengkapkan diri mereka untuk mematahkan puak dan hakim lain yang cuba mengutip cukai di kawasan mereka. Mereka akhirnya membentuk diri mereka kepada anggota bersenjata dan menjadi samurai.

Nama samurai datangnya dari pengawal istana maharaja dan pengawal persendirian yang digaji oleh puak-puak tersebut. Mereka bertindak sebagai polis dalam dan sekitar Kyoto. Anggota awal kepada apa yang dikenali sekarang sebagai samurai dilengkapi senjata oleh pemerintah dan perlu memahirkan diri dalam seni bela diri. Mereka merupakan Saburai, orang suruhan, tetapi kelebihan sebagai golongan bersenjata solo semakin menonjol. Dengan menjanjikan pelindungan dan mendapat kekuatan politik melalui perkahwinan politik mereka mengumpul kuasa yang akhirnya melebihi pemerintah bangsawan.

Sesetengah puak samurai berasal sebagai petani yang terpaksa mengangkat senjata bagi mempertahankan diri dari hakim yang dilantik maharaja untuk memerintah dan mengutip cukai di kawasan mereka. Puak-puak ini membentuk perikatan untuk mempertahankan diri mereka daripada puak-puak yang lebih berkuasa. Pada pertengahan zaman Heian, mereka telah menggunakan perisai dan senjata stail Jepun dan meletakkan asas kepada bushido, kod etik mereka yang terkenal.

Keshogunan Kamakura dan Kebangkitan Samurai

Pada awalnya wira ini hanya merupakan tentera upahan yang digaji oleh maharaja dan puak bangsawan (kuge). Tetapi secara beransur-ansur mereka mengumpul kuasa yang mencukupi untuk melangkau kaum bangsawan dan menubuhkan kerajaan dikuasai samurai pertama.

Ketika puak-puak bahagian regional clans mengumpulkan sumber dan tenaga manusia dan membentuk pakatan sesama sendiri, mereka membentuk hieraki yang tertumpu kepada seorang ketua atau toryo. Ketua ini biasanya merupakan kerabat jauh maharaja dan ahli rendah kepada salah satu daripada tiga keluarga bangsawan (Fujiwara, Minamoto, atau Taira). Walaupun pada asalnya mereka dilantik ke daerah jajahan untuk tempoh tetap empat tahun sebagai hakim, toryo enggan kembali ke ibu negara selepas penggal mereka tamat. Anak mereka mewarisi kedudukan mereka dan terus memimpin puak-puak berkenaan bagi memadamkan pemberontakan seluruh Jepun dalam tempoh pertengahan ke akhir tempoh Heian.

Disebabkan kebangkitan kuasa ekonomi dan ketenteraan mereka, puak-puak tersebut akhirnya menjadi kuasa baru dalam politik istana. Penglibatan mereka dalam Pemberontakan Hogen pada akhir Heian hanya mengukuhkan kuasa mereka dan akhirnya melagakan saingan Minamoto dan Taira sesame sendiri dalam Pemberontakan Heiji 1160. Muncul sebagai pemenang, Taira no Kiyomori menjadi penasihat maharaja, wira pertama mendapat kedudukan sedemikian, dan akhirnya merampas kuasa kerajaan pusat untuk menubuhkan kerajaan yang dikuasai oleh golongan samurai yang pertama dan mengenepikan maharaja sebagai simbol sahaja. Bagaimanapun, golongan Taira masih lebih berdarah bangsawan berbanding puak Minamoto yang kemudiannya. Puak Taira tidak cuba memperluaskan atau memperkukuhkan kekuatan ketenteraannya, sebaliknya mengahwinkan wanita mereka dengan maharaja dan cuba mengawal melalui kuasa maharaja.

Taira dan Minamoto sekali lagi bertelingkah pada tahun 1180 bermula dengan Perang Gempei yang berakhir pada tahun 1185. Minamoto no Yoritomo yang merupakan pemenang meletakkan kelebihan kaum samurai melebihi kaum bangsawan. Pada tahun 1190 dia melawat Kyoto dan pada tahun 1192 menjadi Seii Taishogun, mengasaskan Keshogunan Kamakura. Dia menubuhkan keshogunan di Kamakura berhampiran dengan pengkalan kuasanya dan bukannya di Kyoto.

Secara beransur-ansur, puak samurai yang berkuasa menjadi wira bangsawan (buke) yang terikat secara lemah pada bangsawan istana. Apabila kaum samurai mula mengambil adat bangsawan seperti kaligrafi, puisi dan muzik, sesetengah bangsawan istana turut mempelajari kemahiran samurai. Walaupun melalui pelbagai mekanisma dan kecuali untuk tempoh pendek pemerintahan pelbagai maharaja, kuasa sebenar terletak di tangan shogun dan samurai.

Keshogunan Ashikaga dan Tempoh Feudal

Pelbagai puak samurai berebutkan kuasa bagi Keshogunan Kamakura dan Keshogunan Ashikaga.

Ajaran Buddha Zen berkembang dikalangan samurai pada abad ke 13 dan ia membantu membentuk tingkah laku piawaian, terutama mengatasi takut kematian dan membunuh. Buddha Zen di Jepun mengambil Sakyamuni sebagai imej utama dan mengajar untuk mencapai buddha hidup dengan kesedara ( enlightenment ) melalui latihan bertafakur Zen. Sementara kebanyakan aliran Buddha dikalangan penduduk menjurus kepada Amitabha Tathagata, seseorang buddha dikatakan mampu membawa penganutnya ke syurga selepas kematian.

Pada abad ke 13, Yuan, negeri Cina dalam Empayar Mongol, menjajah Jepun sebanyak dua kali. Pihak Samurai yang tidak biasa bertempur secara berkumpulan menang tipis dalam pertempuran singkat pertama. Bagaimanapun, mereka lebih bersedia untuk pertempuran bagi penjajahan kali kedua dan mereka memusnahkan tentera Cina, Korea dan Mongol yang lebih besar tetapi tidak tersusun. Adalah dipercayai bahawa walaupun tanpa Kamikaze, mereka pasti berjaya mengundurkan penjajah tersebut. Pencapaian bagi pedang Jepun dicapai oleh seorang tukang besi bernama Masamune pada abad ke 14; struktur dua lapis besi keras dan lembut di ambil dan teknik tersebut tersebar dengan meluas dengan keupayaannya memotong dan ketahanannya ketika digunakan secara berterusan. Semenjak dari itu, pedang Jepun telah diakui sebagai senjata bawaan yang merbahaya semasa era pre-industri Asia Timur. Ia juga merupakan barangan eksport terpenting, sebahagian darinya sampai sejauh ke India.

Isu warisan menyebabkan pertelingkahan antara ahli keluarga kerana ( primogeniture ) menjadi biasa sementara pembahagian warisan ditentukan oleh undang-undang sebelum abad ke 14. Untuk mengelakkan pertelingkahan dalaman, penjajahan berterusan kepada jiran bersempadan dengan kawasan samurai digalakkan dan pertelingkahan sesama samurai merupakan masalah biasa bagi Shogunate Kamakura dan Ashikaga.

Sengoku jidai (“Zaman Perang Saudara”) ditanda oleh kebudayaan samurai yang lebih longgar, dari satu segi. Mereka yang dilahirkan dalam golongan berlainan kadang kala mampu mencipta nama sebagai wira dan dengan itu menjadi de facto samurai. Dalam tempoh bergolak ini, etika bushido menjadi faktor penting bagi mengawal dan mengekalkan keamanan awam.

Teknologi dan taktik peperangan Jepun bertambah elok dengan pantas pada abad ke 15 dan 16. Penggunaan tentera infantari yang dikenali sebagai Ashigaru , yang dibentuk oleh wira biasa atau rakyat, dengan Nagayari (長槍) atau tombak panjang diperkenalkan dan digabung bersama tentera berkuda dalam pergerakan. Jumlah penduduk yang terbabit dalam perperangan biasanya dalam beribu sehingga melebihi beratus ribu.

Harquebus atau senapang matchlock diperkenalkan oleh Lusitanians/Portugese melalui kapal lanun Cina pada tahun 1543. Jepun berjaya ( nationalization ) dalam tempoh satu abad. Kumpulan tentera upahan dengan harquebus dan rifle dihasilkan secara pukal memainkan peranan penting. Pada akhir tempoh feudal, beberapa ratus ribu rifle wujud di Jepun dan tentera yang besar melebihi 100,000 dihancurkan dalam pertempuran. Ini amat hebat, jika dibanding dengan tentera terbesar dan paling berkuasa di Eropah, iaitu tentera Sepanyol hanya mempunyai beberapa ribu rifle dan hanya mampu mengumpulkan sejumlah tentera seramai 30,000. Ninja juga memainkan peranan penting dalam aktiviti perisikan.

Pergerakan sumber manusia adalah mudah lentur, kerana apabila regim pemerintahan terdahulu runtuh dan samurai yang menggantikannya perlu mengekalkan organisasi tentera dan pentakbiran dalam kawasan pengaruh mereka. Kebanyakan keluarga samurai yang kekal sehingga abad ke 19 berasal dari kawasan ini.

Mereka mengistiharkan diri mereka sebagai keturunan salah satu dari empat puak bangsawan silam, Minamoto, Taira, Fujiwara dan Tachibana. Dalam kebanyakan kes, bagaimanapun, ia sukar untuk membuktikan siapa leluhur sebenar mereka.

Oda, Toyotomi dan Tokugawa

Oda Nobunaga adalah bangsawan terkenal dari kawasan Nagoya (pernah dikenali sebagai Ohwari) dan contoh samurai luar biasa Tempoh Sengoku. Dia meletakkan asas penyatuan Jepun dan meninggal hanya beberapa tahun lebih awal dari penyatuan tersebut.

Oda Nobunaga mencipta organisasi dan taktik perang, bergantung kepada harquebus, membangunkan perdagangan dan menghargai ciptaan baru; kemenangan yang berikutnya membolehkan dia menjayakan penghapusan Shogunate Ashikaga dan perletakan senjata kuasa tentera sami Buddha, yang menyemarakkan perjuangan sia-sia dikalangan penduduk selama beberapa abad. Menyerang daripada “perlindungan” kuil Buddha, mereka merupakan masalah berterusan kepada sebarang bangsawan perang warlords termasuk maharaja yang cuba mengawal tindakan mereka. Oda Nobunaga meninggal pada tahun 1582 dalam serangan oleh salah seorang pengikutnya, Akechi Mitsuhide. Toyotomi Hideyoshi (lihat di bawah) dan Tokugawa Ieyasu, yang mendirikan Shogunate Tokugawa, merupakan pengikut setia Nobunaga. Hideyoshi yang dibesarkan oleh petani tidak dikenali menjadi salah seorang jeneral utama di bawah Nobunaga dan Ieyasu yang pernag berkongsi zaman kanak-kanak dengan Nobunaga. Hideyoshi menumpaskan Mitsuhide dalam tempoh sebulan dan dengan itu dianggap sebagai pengganti yang sah kerana berjaya membalas dendam keatas pengkhianatan Mitsuhide.

Kedua-dua mereka mendapat keuntungan dari kejayaan Nobunaga yang sebelumnya telah meletakkan asas untuk membentuk Jepun yang bersatu. Dengan itu terhasilah pepatah: “Penyatuan adalah kuih beras; Oda membuatnya. Hashiba membentuknya. Dan akhirnya, hanya Ieyasu merasainya.” (Hashiba adalah nama keluarga yang digunakan oleh Toyotomi Hideyoshi semasa ia merupakan pengikut Nobunaga.)

Toyotomi Hideyoshi, yang menjadi menteri utama ( grand minister ) pada tahun 1586, dia sendiri berasal dari kalangan keluarga petani miskin, mencipta undang-undang yang menetapkan bahawa kasta samurai dimantapkan sebagai kekal dan diwarisi, dan mereka yang bukan dari golongan-samurai dilarang untuk membawa senjata.

Sangat penting bagi menyedari bahawa perbezaan antara golongan samurai dan bukan-samurai amat tipis sehinggakan pada abad ke 16, kebanyakan lelaki dewasa dalam kelas masyarakat (walaupun petani kecil) tergolong kepada sekurang-kurangnya satu organisasi tentera tersendiri dan berkhidmat dalam perperangan sebelum dan selepas pemerintahan Hideyoshi. Ia boleh dikatakan bahawa keadaan “semua menentang semua” berkekalan selama satu abad.

Keluarga samurai yang disahkan selepas abad ke 17 merupakan mereka yang memilih untuk menurut Nobunaga, Hideyoshi dan Ieyasu dan mencapai kemenangan. Pertempuran besar-besaran yang meletus antara tempoh pertukaran regim, dan samurai yang kalah akan terhapus atau diserap kekalangan penduduk awam.

Keshogunan Tokugawa

Semasa era Tokugawa, golongan samurai secara beransur-ansur menjadi bangsawan istana, kakitangan kerajaan, dan pentakbir berbanding sebagai perwira. Daisho, pasangan pedang samurai yang pendek dan panjang (cf. ‘katana‘ dan wakizashi) beransur bertukar menjadi simbolik lambang kuasa dan bukannya senjata yang digunakan dalam kehidupan seharian. Samurai masih mempunyai hak untuk membunuh sebarang orang awam yang tidak menunjukkan rasa hormat terhadap mereka; bagaimanapun, tidak diketahui ketahap mana hak ini digunakan. Apabila kerajaan pusat Jepun memaksa daimyos untuk mengecilkan tentera mereka, ronin yang tidak bekerja menjadi masalah masyarakat.

Bushido telah dirasmikan oleh kebanyakan samurai pada tempoh aman ini sebagaimana Chivalry dirasmikan sebagai kesasteria apabila golongan perwira menjadi lapuk di Eropah. Tingkah-laku samurai menjadi contoh yang diikuti oleh penduduk Edo dengan penekanan kepada tingkah-laku formal. Dengan banyak masa terluang di tangan mereka, samurai meluangkan masa untuk melakukan minat lain den menjadi golongan terpelajar.

Samurai semakin lemah semasa pemulihan Meiji

The last hurrah of original samurai was in 1867 apabila samurai dari daerah Choshu dan Satsuma mengalahkan pasukan shogunate untuk menyokong pemerintahan maharaja. Kedua daerah tersebut merupakan tanah daimyos yang menyerah kepada Ieyasu selepas perang Sekigahara tahun (1600).

Sumber lain mendakwa bahawa samurai terakhir adalah pada 1877, semasa pemberontakan Satsuma dalam Pertempuran Shiroyama.

Anggota utama pemberontakan ini datangnya daripada golongan samurai rendah dari semua daerah. Matlamat utama mereka adalah serupa: mengekalkan kemerdekaan Jepun terhadap kuasa Barat. Tetapi kedua daimyo bertelingkah pada awalnya dan pertelingkahan berdarah ini berlarutan bertahun-tahun lamanya. Pada akhirnya, mereka menyedari bahawa perang saudara yang besar-besaran mesti dielakkan kerana inilah yang ditunggu-tunggu oleh kuasa asing ini. Dengan itu shogun Tokugawa Yoshinobu terakhir mengembalikan kuasa pemerintahan kepada maharaja untuk mengelakkan perperangan. Sesetengahnya masih menolak, mempercayai bahawa ini adalah coup d’etat oleh Choshu dan Satsuma dan kuasa kerajaan adalah sepatutnya ditangan mereka. Kumpulan samurai Tohoku menubuhkan penentangan bersenjata dan mereka akhirnya dihapuskan.

Emperor Meiji menghapuskan hak samurai untuk menjadi pasukan bersenjata tunggal digantikan dengan tentera kerahan cara barat yang moden. Samurai menjadi Shizoku (士族) yang mengekalkan gaji mereka tetapi hak mengenakan katana di jalan akhirnya dimansuhkan.

Post pemulihan Meiji

Dalam mentakrifkan Jepun moden, ahli kerajaan Meiji memutuskan untuk mengikuti langkah United Kingdom dan Jerman. Ia akan berasaskan konsep ketaatan bangsawan ( nobles oblige ) dan samurai tidak akan menjadi kuasa politik sepertimana di Prussia. Tentera Imperial Jepun ( Imperial Japanese Armies ) merupakan kerahan tetapi ramai samurai menawarkan diri menjadi askar dan ramai meningkat dan dilatih sebagai pegawai. Mereka yang menawar diri amat bersemangat dan rajin berlatih. Empayar Jepun memenangi Perang Sino-Jepun (1894) dan Perang Russia-Jepun (1904) dan ia boleh dikatakan bahawa pegawai dan mereka yang menawarkan diri merupakan sebab kemenangan tersebut. Kebanyakan tentera Cina dan Russia tidak dapat membaca dan menulis dan selepas pegawai mereka terbunuh, tentera ini berkecai dengan cepatnya.

Kebanyakan pelajar pertukaran adalah samurai, bukan kerana mereka samurai, tetapi ramai yang boleh membaca dan terpelajar. Sebahagian pelajar pertukaran ini memulakan sekolah swasta untuk pengajian tinggi. Sesetengah samurai mula menulis menggantikan senjata dan menjadi pemberita dan penulis dan mendirikan syarikat akhbar. Samurai yang lain pula menyertai perkhidmatan kerajaan kerana mereka boleh membaca dan terpelajar.

Budaya

Sebagai bangsawan mutlak selama beberapa abad, samurai memajukan budaya mereka sendiri yang menukar cara orang Jepun bertindak.

Seseorang samurai dijangka mampu membaca dan menulis, juga untuk mengetahui asas mathematik. Toyotomi Hideyoshi, seorang samurai agung yang bermula sebagai petani biasa, hanya mampu membaca dan menulis dalam hiragana dan ini adalah kelemahannya yang paling ketara. Sesetengah mengandaikan bahawa ini adalah punca dia tidak dilantik sebagai shogun. Samurai mesti, walaupun tidak diwajibkan, mempunyai minat dalam seni lain seperti menari, Go, penulisan, sastera, dan tea. Ota Dokan yang merupakan pemerintah pertama Edo menulis bagaimana dia malu apabila menyedari bahawa orang biasapun lebih mengetahui mengenai sastera berbanding dirinya dan ini menjadikan dia belajar dengan lebih tekun.

Kebudayaan samurai berbeza dari keringkasan yang di pengaruhi oleh Buddha Zen kepada bermewah-mewahan kebudayaan stail Kano. Kebanyakan samurai tinggal ringkas bukan kerana kecenderungan, tetapi keperluan. Apabila perdagangan berkembang pada tempoh Edo, samurai yang dibekalkan dengan beras sebagai sumber pendapatan berhadapan dengan harga melambung barangan biasa. Sesetengah samurai menghasilkan barangan kesenian dan yang lain bertani untuk menambah pendapatan. Samurai yang berpendapatan rendah ini masih meluangkan masa dan wang untuk mengajar anak-anak mereka menghargai pelajaran. Pada pertengahan tempoh Edo, samurai perlu dipaksa untuk berlatih kemahiran bela diri mereka. Terdapat cerita bagaimana samurai diancam dan terpaksa melarikan diri dari pekerja yang berbadan tegap, sesetengah yang lain kalah dalam perkelahian. Disebabkan samurai adalah pakar dalam perlawanan, masalah ini tidak pernah dilapurkan kerana malu tetapi kekal dirakamkan.

Dengan masa lapang yang mereka ada, ramai samurai mula mempelajari topik seperti arkhaeologi, botani, dan penulisan. Samurai memperkenalkan sayuran seperti ubi kentang dan sweet potato kepada petani yang kekal apathetic terhadap sayuran import ini. Samurai juga menyalin dan mengkaji rekod dan buku sejarah. Kojiki dan juga klassik Cina turut dikaji. Samurai juga mula mempelajari anatomi dan sains perubatan kerana minat dan bukannya untuk mencari cara lebih baik untuk membunuh. Pada akhir tempoh Edo, mereka menterjemah buku perubatan Belanda.

Nama Samurai

Seseorang samurai biasanya diberi nama dengan menggabung satu huruf kanji dari bapanya atau datuknya dan satu huruf kanji baru. Ramai samurai mempunyai bunyi nama phonetically yang serupa dengan leluhur yang mashyur sebagai penghormatan kepada keagungan mereka dan dengan harapan samurai ini akan mencapai kejayaan yang setaraf. Nama ini digunakan selepas upacara genpuku. Dia juga mempunyai nama kanak-kanak. Kebanyakan samurai mempunyai nama kedua dan juga menggunakan gelarannya sebagai sebahagian namanya. Oda Nobunaga secara rasminya digelar “Oda Kouzukenosuke Owarinokami Nobunaga” (織田上総介尾張守信長) dan dia juga dikenali sebagai “Oda Kouzukenosuke” atau “Oda Owarinokami”.

Perkahwinan

Perkahwinan seseorang samurai dilakukan melalui perkahwinan yang diatur oleh seseorang yang sama atau lebih tinggi darjatnya dari mereka yang berkahwin. Bagi samurai yang berpangkat tinggi ini adalah keperluan kerana tidak ramai dari mereka berpeluang bertemu gadis, ini masih dilakukan sebagai adat bagi samurai berpangkat rendah. Kebanyakan samurai mengahwini wanita dari keluarga samurai tetapi bagi samurai berpangkat rendah, perkahwinan dengan orang biasa dibenarkan. Dalam perkahwinan ini, mas kawin diberikan oleh pihak wanita dan ini digunakan bagi memulakan penghidupan baru mereka.

Seseorang samurai dibenarkan mempunyai wanita simpanan tetapi latarbelakannya diperiksa dengan teliti oleh samurai berpangkat tinggi. Dalam kebanyakan kes, ia dilayan sebagai perkahwinan dan penculikan, biasa dalam kebanyakan fiksen, sekiranya tidak dianggap jenayah, dianggap memalukan. Sekiranya wanita tersebut orang biasa, utusan dihantar, dengan wang pertunangan atau nota pengecualian cukai, dan meminta diterima oleh keluarganya. Kebanyakan keluarga menerima dengan gembira, kerana sekiranya wanita tersebut melahirkan anak lelaki, dia boleh menjadi samurai.

Seseorang samurai boleh menceraikan isterinya disebabkan pelbagai sebab dengan kelulusan dari penyelia. Penceraian, walaupun berlaku, amat jarang. Sebab penting adalah jika dia tidak dapat melahirkan anak lelaki tetapi anak angkat boleh diaturkan. Seseorang samurai boleh bercerai disebabkan sebab tersendiri, walaupun hanya kerana dia tidak suka isterinya, tetapi ini biasanya dielakkan kerana ia akan memalukan samurai yang mengaturkan perkahwinan ini. Wanita juga boleh menguruskan perceraian, walaupun ini biasanya dalam bentuk diceraikan oleh samurai. Dalam kes perceraian, pihak samurai terpaksa memulangkan mas kahwin dan perkara ini sering menghalang perceraian. Sesetengah pedagang yang kaya akan mengahwinkan anak mereka dengan samurai sebagai balasan menghapuskan hutang samurai dengan bertujuan meningkatkan kedudukan mereka.

Warisan

Anak lelaki tertua pemerintah dahulu biasanya dilantik sebagai ketua seterusnya dalam sesuatu puak. Jika anak lelaki tertua meninggal sebelum diwarisi, anak tertua anaknya menjadi ketua seterusnya bagi puak tersebut. Jika anak tertua tidak mempunyai anak, anak kedua mewarisi kedudukan sebagai ketua. Aturan ini kadang-kadang ditukar bersesuaian dengan keinginan bekas ketua. Apabila ketua berikutnya terlalu muda atau tidak berpengalaman, saudara dan pengikut ketua sebelumnya bertindak sebagai ketua sehingga kuasa pemerintahan boleh diserahkan. Pembahagian kerajaan menjadi popular pada tempoh Kamakura dan Ashikaga tetapi beransur kurang kemudiannya kerana ia sering melemahkan puak tersebut.

Ramai samurai menukar nama mereka bukan kerana tidak gemarkannya, tetapi kerana mereka diambil oleh puak lain. Perkara ini dilakukan berasaskan banyak sebab. Yang pertama dan paling penting adalah kebanyakan puak inginkan pengganti yang mempunyai kemahiran dan kebolehan tinggi walaupin ini bererti menyingkirkan anak ketua sebelumnya. Jika pengganti tersebut datangnya dari puak yang lebih penting adalah lebih baik. Walaupun perkara ini perlu diluluskan oleh shogunate atau daimyo pada Tempoh Edo, ia sering berlaku. Apabila ketua sebelumnya meninggal tanpa anak lelaki tetapi dengan gadis, adalah perkara biasa bagi mengambil samurai dari puak lain kedalam puak itu dan mengahwinkan dia dengan anak gadis bekas ketua dahulu.

Samurai mempunyai ramai anak berhadapan dengan penyakit dan perperangan dan ini sering menyebabkan masalah warisan. Kadang-kala perkara ini mendorong kepada seluruh puak menjadi lemah atau berpecah dan menuju kehancuran. Beberapa langkah diambil bagi mengelak masalah ini. Masuk kepuak yang lain adalah satu cara, dan cara lain dikenali sebagai Koukaku harafiah. turun pangkat, dimana seseorang anak lelaki diberikan nama puak baru dan menjadi pengikut dan anak buah ( retainer and a vassal ) abang mereka. Sesetengah samurai mungkin juga menjadi pedagang atau petani disebabkan oleh Koukaku.

Falsafah

Falsafah Buddha dan Zen, dan pada tahap yang lebih kecil Konfusian mempengaruhi kebudayaan samurai termasuk Shinto. Meditasi menjadi ajaran penting dengan menawarkan proses untuk menenangkan fikiran seseorang. Konsep Buddha penjelmaan semula ( reincarnation ) dan kelahiran semula ( rebirth ) mendorong samurai untuk meninggalkan pembunuhan rambang dan penyiksaan. Sesetengah samurai bersara dari menjadi samurai dan menjadi sami Buddha selepas menyedari betapa sia-sia mereka membunuh.

Bushido, dimantapkan semasa tempoh Edo, adalah cara hidup samurai tetapi caranya yang ringkas mengelirukan mendorong kepada banyak pertikaian mengenai pemahamannya. Hagakure: The Book of the Samurai oleh Yamamoto Tsunetomo adalah buku panduan mengenai cara hidup samurai way of the samurai. Walaupun ketika diterbitkan, ia menimbulkan beberapa penelitian reviews yang mengkritik pemahaman tegas dan tidak mesra impersonal. Sekiranya seseorang tuan lord salah, sebagai contoh dia memerintah menyembelihan orang awam, patutkah dia dipatuhi ketaatan untuk menyembelih seperti yang diperintahkan atau dia patut mematuhi Rectitude untuk membenarkan orang awam lepas lari? Jika seseorang mempunyai keluarga yang sakit tetapi melakukan kesilapan yang tidak dapat diperbetulkan, patutkah dia memelihara Kehormatannya dengan melaksanakan Seppuku atau dia patut menunjukkan Keberanian dengan hidup terhina dan menjaga keluarganya?

Kejadian Empat puluh tujuh Ronin telah menimbulkan pertikaian mengenai apakah tepat tindakan mereka dan bagaimana bushido perlu dilaksanakan. Secara tidak langsung, mereka telah membelakangi shogun dengan mengambil tindakan tersendiri tetapi ia juga merupakan adalah tindakan Ketaatan dan Rectitude. Akhirnya, tindakan mereka dipersetujui sebagai Rectitude tetapi bukannya Ketaatan kepada shogun. Ini menjadikan mereka penjenayah dengan kesedaran ( conscience ) dan layak untuk melakukan seppuku.

Penjelasan mengenai shudo dalam Hagakure menjadi isu hangat ( highly controversial ) walaupun pada masa di mana perlakuan sebegitu adalah biasa. Ia menjelaskan salah satu kelakuan samurai cinta platonik ( platonic love ) yang kadang-kala merupakan hubungan homoseksual antara samurai. Walaupun ini tidak dianggap jenayah pada masa itu dan tidak dilarang secara jelas oleh agama mereka, pemikiran bahawa sesetengah samurai mendapat pangkat melalui daya seksual sudah cukup untuk menyebabkan kekecohan. Samurai bukannya pelacur dan mereka mendapat pangkat melalui kemahiran dan keupayaan mereka dan bukannya dengan tidur bersama.

Buku kenjutsu paling terkenal pada masa itu, atau penggunaan pedang, bertarikh dari tempoh ini (Miyamoto Musashi The Book of Five Rings, 1643). Tetapi sebahagian besar buku ini menumpu kepada keadaan pemikiran bertempur ( mentalities of fighting ). Kebanyakan buku kenjutsu dari tempoh Edo juga memusat kepada segi kerohanian spiritual aspects selain untuk mematuhi arahan bahawa latihan kenjutsu adalah untuk membina watak seseorang samurai.

Samurai dalam Cereka

 

Pelakon Kotaro Satomi di set penggambaran Mito Komon

Jidaigeki harfiah. drama sejarah merupakan keluaran utama bagi wayang dan drama TV semenjak awal lagi. Ia biasanya memaparkan samurai dengan kenjutsu yang menentang samurai dan pedagang zalim. Mito Komon (水戸黄門), cereka mengenai pengembaraan Tokugawa Mitsukuni, merupakan drama TV popular di mana Mitsukuni mengembara secara menyamar sebagai pedagang kaya bersara bersama dua orang samurai tidak bersenjata yang turut menyamar sebagai teman. Dia berhadapan dengan masalah dimana sahaja dia pergi, dan selepas mengumpul maklumat, dia dan samurainya knock around unrepenting evil samurai and merchants. Dia kemudiannya mendedahkan identitinya yang, jika dia mahu, boleh memusnahkan seluruh puak dan pesalah tidak mempunyai pilihan kecuali menyerah dan berharap hukumannya tidak dilanjutkan merangkumi keluarga mereka.

Karya bertema samurai pengarah filem Akira Kurosawa adalah yang paling dikagumi dalan jenis itu, mempengaruhi ramai pembuat filem dengan teknik dan cara penceritaannya. Hasil kerjanya yang terkenal termasuk The Seven Samurai, dalam mana penduduk kampuny yang terancam menggajikan sekumpulan samurai yang mengembara untuk melindungi mereka daripada penjahat; Yojimbo, di mana bekas samurai membabitkan dirinya dalam peperangan kumpulan gang war dalam bandar dengan berkhidmat dengan kedua pihak; dan The Hidden Fortress, dalam mana dua petani bodoh mendapati diri mereka membantu seorang jeneral yang terkenal untuk mengiringi seorang puteri ke tempat selamat. Yang terakhir merupakan sumber inspirasi utama bagi cerita Star Wars, oleh George Lucas, yang turut meminjam beberapa aspek dari samurai, seperti watak Jedi Knight dalam Star Wars.

Filem Samurai dan filem Barat Western movie berkongsi beberapa persamaan, dan keduanya mempengaruhi sesama sendiri sepanjang beberapa tahun itu. Kurosawa mendapat inspirasi dari hasil pengarah John Ford, dan sebaliknya, hasil kerja Kurosawa telah dihasilkan semula dalam cerita barat, seperti The Seven Samurai kepada The Magnificent Seven dan Yojimbo kepada A Fistful of Dollars.

Satu lagi siri cereka tv, Abarembo Shogun, membariskan Yoshimune, shogun Tokugawa kelapan. Samurai dari semua peringkat dari shogun kepada peringkat bawahan, termasuk ronin, ditonjolkan dengan jelas dalam cereka ini.

T) Sejarah Beladiri Gulat

SEJARAH :
Pada tahun 2500 SM cabang olahraga Gulat telah menjadi suatu mata pelajaran di suatu sekolah di Negara Cina dan sekitar tahun 2050 SM gulat juga dipelajari oleh orang-orang Mesir. Sejak Olympiade Kuno, gulat telah menjadi suatu acara pertandingan, walaupun acara tersebut diadakan di dalam acara Pentahlon.Pada Olympiade I tahun 1896 di Athena gulat Gaya Yunani-Romawi menjadi suatu acara pertandingan tersendiri. Pada Olympiade III tahun 1904 di St Louis Amerika Serikat, acara pertandingan gulat hanya untuk gaya catehras catch can saja.
Sedangkan pada Olympiade IV tahun 1908 di Inggris mengadakan pertandingan gulat untuk dua gaya yaitu Yunani-Romawi dan catehras catch can. Peraturan gulat Internasional baru diadakan pada Olympiade XI tahun 1936 di Berlin Jerman.
Sejak sebelum Perang Dunia II, Indonesia sudah mengenal sudah mengenal gulat Internasional , gulat ini dibawa oleh tentara Belanda. Tahun 1941 – 1945 sewaktu Indonesia diduduki tentara Jepang, seni beladiri Jepang seperti Judo, Sumo dan kempo masuk pula ke Indonesia, sehingga gulat secara berangsur-angsur menjadi hilang. Pada tanggal 7 Pebruari 1960 didirikan sebuah organisasi gulat amatir Indonesia dengan nama Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI). Pertama kali gulat dipertandingkan di PON V tahun 1961 di Bandung. Tahun 1962 pada Asian Games IV di Jakarta, Indonesia menurunkan pegulat-pegulatnya secara full team , mulai dari kelas 52 kg sampai dengan 97 kg, namun prestasi para pegulat kita belum menggembirakan, Indonesia hanya meraih 2 medali perunggu melalui gulat Mujari (kelas 52 kg) dan Rachman Firdaus (kelas 63 kg) yang keduanya bertanding dalam gaya Yunani-Romawi. Dan sejak pembentukannya tahun 1960, PGSI telah banyak melakukan kegiatan baik local, nasional maupun Internasional.
PERATURAN PERTANDINGAN :
Sesuai dengan umur, olahraga gulat dibagi dalam kelompok sebagai berikut :
1. Gulat Mini : 6 – 12 tahun
2. Gulat anak-anak : 13 – 16 tahun
3. Gulat Yunior : 17 – 20 tahun
4. Gulat Senior : di atas 20 tahun
Pertandingan olahraga gulat dilakukan di atas matras berukuran 12 x 12 meter sesuai dengan peraturan gulat Internasional dari Fila yang sudah disyahkan oleh PB. PGSI. Selama bertanding pegulat harus memakai baju gulat Internasional (wrestlingsuit) sesuai dengan warna dari sudut mana dia berada, biru atau merah. Wasit berada di atara kedua pegulat di lingkaran tengah, pada waktu pegulat tinggal diam beberapa saat maka wasit berteriak “open” agar daerah serangan dibuka untuk memberi kesempatan pada lawan melakukan serangan. Untuk perintah melakukan serangan wasit berteriak “action” dan “contact” jika pegulat tidak melaksanakan perintah wasit, maka wasit akan menghentikan pertandingan dan memberikan peringatan.Setelah Olympic Games tahun 1964 di Tokyo, Jepang, waktu pertandingan menjadi 3 x 3 menit jatuhan, sebelumnya pertandingan berlangsung selama 12 menit. Pegulat dinyatakan kalah jatuhan bila pundaknya mengenai lantai dalam hitungan 10 (sepuluh).Olahraga gulat mempertandingkan 2 macam gaya yaitu gaya bebas dan gaya Yunani-Romawi dan masing-masing meliputi kelas-kelas :
1. kelas 48 kg 6. kelas 74 kg
2. kelas 52 kg 7. kelas 82 kg
3. kelas 57 kg 8. kelas 90 kg
4. kelas 62 kg 9. kelas 100 kg
5. kelas 68 kg 10. kelas 100 kg + (over + 100 kg)
Susunan organisasi PGSI berbentuk piramida dan vertical, berjenjang mulai dari perkumpulan-perkumpulan, pengurus Kabupaten/Kotamadya, kota (Administratif), Propinsi sampai tingkat Pusat. Masa kepengurusan besar paling lama 4 tahun dan pengurus cabang 2 tahun.Sumber : Buku Petunjuk dan Data Olahraga Nasional oleh KONI pada Tahun 1986. 

U) Sejarah Beladiri Kendo

Kendo seni berpedang Jepang mempunyai sejarah yang kaya dan panjang. Persenjataan dan baju perang Jepang sejak dulu sudah dipengaruhi oleh persenjataan dan baju perang Cina. Pedang Jepang aslinya bukanlah berupa pedang yang melengkung seperti yang kita saksikan sekarang ini, tetapi berupa pedang lurus yang rata yang dibuat dengan konstruksi sederhana untuk menusuk dan menyerang. 

Pedang Jepang yang kita kenal sekarang ini muncul sekitar tahun 940-an, yaitu berupa pedang satu mata (satu sisi) dan melengkung tipis. Bentuk pedang ini diuji coba di arena peperangan selama masa SENGOKU-JIDAI (masa perang seluruh negeri). Sampai jenis pedang yang dipegang dengan menggunakan dua tangan ini dibuat, peperangan dilakukan dengan para prajurit menunggang kuda, memakai pakaian perang yang berat dan menggenggam senjata di tangan kanannya. Kemudian sekitar tahun 1600 peperangan dilakukan dengan berjalan kaki, memakai pakaian perang yang ringan dan menggunakan pedang yang digenggam dengan kedua tangannya.

Selama abad ke-15, 16 dan 17, kira-kira 600 jenis gaya dan seni pedang telah dibuat secara terpisah dan kebanyakan dari pedang dengan gaya dan jenis itu telah dijadikan barang-barang kesenian klasik Jepang.

Karena cara lama berlatih Kendo yang menggunakan pedang besi sungguhan dan pedang kayu yang keras menyebabkan banyak sekali kecelakaan dan kematian yang tidak perlu, maka sekitar tahun 1710 sebuah pedang bambu (SHINAI) yang tidak berbahaya dibuat untuk latihan. Sekitar tahun 1740, diilhami dari baju perang Jepang, akhli-akhli pedang membuat pelindung dada, kepala dan juga sarung tangan. Seperti yang kita bayangkan, pedang latihan dari bambu yang asli dan pelindungnya masih agak kuno dan berkonstruksi sederhana. Berabad-abad kemudian, benda-benda ini dikembangkan menjadi bentuk seperti yang kita lihat sekarang.

V) SEJARAH_GULAT

SEJARAH GULAT

 

SEJARAH :
Pada tahun 2500 SM cabang olahraga Gulat telah menjadi suatu mata pelajaran di suatu sekolah di Negara Cina dan sekitar tahun 2050 SM gulat juga dipelajari oleh orang-orang Mesir. Sejak Olympiade Kuno, gulat telah menjadi suatu acara pertandingan, walaupun acara tersebut diadakan di dalam acara Pentahlon.Pada Olympiade I tahun 1896 di Athena gulat Gaya Yunani-Romawi menjadi suatu acara pertandingan tersendiri. Pada Olympiade III tahun 1904 di St Louis Amerika Serikat, acara pertandingan gulat hanya untuk gaya catehras catch can saja.
Sedangkan pada Olympiade IV tahun 1908 di Inggris mengadakan pertandingan gulat untuk dua gaya yaitu Yunani-Romawi dan catehras catch can. Peraturan gulat Internasional baru diadakan pada Olympiade XI tahun 1936 di Berlin Jerman.
Sejak sebelum Perang Dunia II, Indonesia sudah mengenal sudah mengenal gulat Internasional , gulat ini dibawa oleh tentara Belanda. Tahun 1941 – 1945 sewaktu Indonesia diduduki tentara Jepang, seni beladiri Jepang seperti Judo, Sumo dan kempo masuk pula ke Indonesia, sehingga gulat secara berangsur-angsur menjadi hilang. Pada tanggal 7 Pebruari 1960 didirikan sebuah organisasi gulat amatir Indonesia dengan nama Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI). Pertama kali gulat dipertandingkan di PON V tahun 1961 di Bandung. Tahun 1962 pada Asian Games IV di Jakarta, Indonesia menurunkan pegulat-pegulatnya secara full team , mulai dari kelas 52 kg sampai dengan 97 kg, namun prestasi para pegulat kita belum menggembirakan, Indonesia hanya meraih 2 medali perunggu melalui gulat Mujari (kelas 52 kg) dan Rachman Firdaus (kelas 63 kg) yang keduanya bertanding dalam gaya Yunani-Romawi. Dan sejak pembentukannya tahun 1960, PGSI telah banyak melakukan kegiatan baik local, nasional maupun Internasional.
PERATURAN PERTANDINGAN :
Sesuai dengan umur, olahraga gulat dibagi dalam kelompok sebagai berikut :
1. Gulat Mini : 6 – 12 tahun
2. Gulat anak-anak : 13 – 16 tahun
3. Gulat Yunior : 17 – 20 tahun
4. Gulat Senior : di atas 20 tahun
Pertandingan olahraga gulat dilakukan di atas matras berukuran 12 x 12 meter sesuai dengan peraturan gulat Internasional dari Fila yang sudah disyahkan oleh PB. PGSI. Selama bertanding pegulat harus memakai baju gulat Internasional (wrestlingsuit) sesuai dengan warna dari sudut mana dia berada, biru atau merah. Wasit berada di atara kedua pegulat di lingkaran tengah, pada waktu pegulat tinggal diam beberapa saat maka wasit berteriak “open” agar daerah serangan dibuka untuk memberi kesempatan pada lawan melakukan serangan. Untuk perintah melakukan serangan wasit berteriak “action” dan “contact” jika pegulat tidak melaksanakan perintah wasit, maka wasit akan menghentikan pertandingan dan memberikan peringatan.Setelah Olympic Games tahun 1964 di Tokyo, Jepang, waktu pertandingan menjadi 3 x 3 menit jatuhan, sebelumnya pertandingan berlangsung selama 12 menit. Pegulat dinyatakan kalah jatuhan bila pundaknya mengenai lantai dalam hitungan 10 (sepuluh).Olahraga gulat mempertandingkan 2 macam gaya yaitu gaya bebas dan gaya Yunani-Romawi dan masing-masing meliputi kelas-kelas :
1. kelas 48 kg 6. kelas 74 kg
2. kelas 52 kg 7. kelas 82 kg
3. kelas 57 kg 8. kelas 90 kg
4. kelas 62 kg 9. kelas 100 kg
5. kelas 68 kg 10. kelas 100 kg + (over + 100 kg)
Susunan organisasi PGSI berbentuk piramida dan vertical, berjenjang mulai dari perkumpulan-perkumpulan, pengurus Kabupaten/Kotamadya, kota (Administratif), Propinsi sampai tingkat Pusat. Masa kepengurusan besar paling lama 4 tahun dan pengurus cabang 2 tahun.Sumber : Buku Petunjuk dan Data Olahraga Nasional oleh KONI pada Tahun 1986.
Diposkan oleh UKM_GULAT@UNESA di 19.44

Poskan Komentar

KOMENTAR ANDA ADALAH CERMIN BAGI KAMI UNTUK MENJADI LEBIH BAIK…!!

Link ke posting ini

Buat sebuah Link

UKM_GULAT@UNESA.COM

4 SEKAWAN KEJURNAS MAHASISWA SEMARANG


UKM_GULAT@UNESA.COM

HARI TERAKHIR KEJUARNAS SEMARANG 2008


UKM_GULAT@UNESA.COM

AQU… lagi ISENG nich…!!!

Pengikut

Mengenai Saya

UKM_GULAT@UNESA

Lihat profil lengkapku

SELAYANG PANDANG IKATAN KENDO INDONESIA (IKI) Sekilas orang beranggapan bahwa olah raga yang satu ini masih baru dan muda di Indonesia. Namun anggapan ini kurang tepat mengingat sesungguhnya seni beladiri ini telah ada dan hidup di Indonesia cukup lama seperti halnya dengan beladiri Jepang lainnya. Tepatnya sejak kehadiran tentara Jepang di Indonesia menggantikan kekuasaan Belanda. 

Kendo telah dikenal di Indonesia pada waktu Perang Dunia II. Para pemuda Indonesia yang tergabung dalam PETA dilatih Kendo oleh tentara Jepang sebagai ilmu beladiri, namun setelah Perang Dunia selesai Kendo di Indonesia hilang begitu saja.

Kendo di kenal dan diperkenalkan kembali di Indonesia pada tahun 1983 oleh tamu dari Jepang yaitu Mr. YAMAMOTO (Dan V) dan Mr. FUMEO UENO (Dan III) yang sengaja berkunjung ke Kantor Sekretariat KONI Propinsi Jawa Barat.

Pada tanggal 9 Maret 1993, Mr. MASAYOSHI FUJIWARA (Dan VI) dan Mr. FUMEO UENO (Dan III) memperkenalkan Kendo kepada beberapa tokoh-tokoh olah raga beladiri di Bandung. Dan hal ini mendapat sambutan yang baik dari beberapa pelatih-pelatih olah raga Jawa Barat untuk mendirikan suatu organisasi sebagai wadah pembinaan Kendo di Indonesia. Kegiatan ini berlanjut dengan latihan bersama dua kali dalam satu minggu yaitu hari Rabu dan Sabtu dengan pelatih Mr. MASAYOSHI FUJIWARA dan Mr. FUMEO UENO.

Pada tanggal 18 Februari 1984 sejalan dengan latihan rutin yang dilaksanakan di Bandung, berdirilah Ikatan Kendo Indonesia (IKI) sebagai suatu wadah dan organisasi beladiri Kendo di Indonesia yang diprakarsai oleh beberapa atlet dan pelatih dari berbagai cabang oalh raga yang ada di Jawa Barat sebagai berikut :
1. Drs. Sudrajat P. (PGSI Jawa Barat)
2. Atang M. Noors (PJSI Jawa Barat)
3. Drs. Kemal Johana (PERTINA Jawa Barat)
4. S. Tapdjani RPW / Daddy HP (PERINA Jawa Barat)
5. Adjat SMK (PTMSI Jawa Barat)
6. D. Amir Hamzah (PERBAKIN Jawa barat)
7. Aep Aedi, SH ( PJSI Kodya Bandung)
8. Tjutju Mandalin (PJSI Kodya Bandung)
9. Drs. M. Soleh (IPSI Jawa Barat)
10. Lucki LH (PERBAKIN Jawa Barat)

LAMBANG IKATAN KENDO INDONESIA
Ikatan Kendo Indonesia (IKI) mempunyai lambang dan arti sebagai berikut :
Padi Kuning Emas ; para pe-Kendo menganut ilmu padi, makin berisi makin tidak sombong tetapi berwibawa.
Bunga Kapas Putih Hijau ; para pe-Kendo merupakan cikal bakal bagi pembangunan bangsa dan negara.
Lingkaran Merah Biru Kuning ; Persatuan Kendo Indonesia dalam : Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa
dengan tidak mengabaikan Persatuan Dunia.

Kujang Putih Bintik Hitam ; para pe-Kendo berpijak pada tempat mereka berada yang bersifat ksatria dan
berpedoman pada Pancasila.

Pedang dan Pelindung Muka ; para pe-Kendo menanamkan disiplin dan moral dengan penuh kesabaran demi
keselamatan bersama.

Keterangan :
Padi 18 buah : tanggal terbentuknya Ikatan Kendo Indonesia, yaitu tanggal 18
Pedang 2 buah : bulan terbentuknya Ikatan Kendo Indonesia, yaitu bulan Pebruari
Kapas 8 buah
Lingkaran 3 buah : tahun terbentuknya Ikatan Kendo Indonesia, yaitu tahun 84 (1984)
Pelindung 1 buah
PERLENGKAPAN KENDO (KENDO-GU)SHIN AI : pedang yang dipakai dalam Kendo terbuat dari empat belahan bambu yang disatukan dengan satu ikatan yang disebut SAKIGAWA, NAKAYUI dan STUKA, yang diperkuat oleh tali yang disebut HIMO. Panjang Shinai maksimal 118 cm dengan berat 468 gr. 

KEIKO-GI : Baju Kendo terbuat dari katun berwarna hitam, biru tua atau putih. Keiko-Gi harus longgar dan bebas agar memudahkan bergerak, terutama pada bagian bahu.

HAKAMA : hakama ini terbuat dari kain dengan bahan katun, berfungsi sebagai celana. Hakama merupakan pakain tradisional Jepang yang di dalamnya terdapat beberapa lipatan yang mempunyai arti religius bagi orang Jepang.

Dua lipatan di belakang menurut mitos Jepang berarti penggabungan Jepang pada zaman dulu, yaitu diselamatkannya Dewa Perang (TAKE-MIKAZUCHI-NO-KAMI) oleh Dewa Matahari (FUTSU-NUSHI-NO-KAMI). KOSHI-ITA diantara kedua lipatan menggambarkan Dewa Matahari AMATERASU-OMIKAMI. Ini sesungguhnya adalah penggambaran suatu konsep WA (keselarasan dan kerukunan).

Lima lipatan di sisi bagian depan Hakama menggambarkan lima prinsip, dimana satu bagian merupakan pemersatu. Bagian – bagian ini mempunyai arti : JIN (kasih sayang), GI (kebajikan/kebenaran), REI (kesopanan), CHI (kearipan/bijaksana), dan SHIN (ketulusan/ kesungguhan hati).

TARE : pelindung pinggang yang dipasang setelah menggunakan Hakama. Tare mempunyai tali yang lebar dan dililitkan pada pinggang dengan simpul akhir dibawah lidah Tare paling tengah. Dan Tare dipakai sambil duduk.

DO : pada mulanya Do dibuat dari bambu yang keras yang disusun mengarah ke atas, kemudian ditutup dengan kulit yang tebal dan kuat. Do berfungsi sebagai pelindung dada dan pinggang pe-Kendo.

HACHIMAKI : Terbuat dari kain katun, berfungsi sebagai penyerap keringat supaya tidak mengganggu mata. Hachimaki juga berfungsi sebagai ganjal agar pukulan yang diterima tidak begitu keras terasa di kepala.Hachimaki ini biasanya dipakai sebagai hadiah kepada pe-Kendo dari perguruan lain sebagai kenang-kenangan.

MEN : kedok/penutup muka yang disebut Men ini terbuat dari besi baja anti karat yang kuat. Sekelilingnya dilapisi kulit dan kain. Bagian dalam Men dilapisi kain tebal dan halus sebagai ganjal. Sisi luar Men dikelilingi kain tebal dan keras sebagai pelindung kepala bagian samping kiri, kanan dan atas. Men berada di kepala dengan diperkuat oleh dua buah tali pengikat (MEN-HIMO).

KOTE : sarung tangan atau Kote berfungsi sebagai pelindung tangan dari mulai ujung jari sampai bagian tangan di bawah sikut. Kote ini terbuat dari kulit yang berisi kain, sehingga dapat meredam pukulan keras yang mengenai tangan. Namun demikian, Kote harus terasa lunak sehingga jari-jari dapat bergerak.

Y) Sejarah JoGo do Pau 

Jogo do pau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Jogo do Pau adalah sistem bela diri dengan toya tradisional dari Portugal.

 

Latihan jogo do pau di jalan

Sejarah

Banyak sosiedade memandang pedang seperti senjata yang sakti, dan hanya dipegang oleh ksatria. Masyarakyat biasa tidak bisa menggunakan pedang, dan sebab itu mereka mengembankan macam-macam sistem untuk bisa bela diri atau berkelahi dengan tangan kosong saja atau dengan alat-alat sehari-hari. Siapa yang menggenal cerita tentang bagaimana karate muncur di Okinawa (dan kata “karaté” berarti “tangan kosong” di dalam bahasa Jepang) juga mengetahui bahwa sistem ini muncur bersamaan dengan kobudo, yang meliputi teknik dengan menggunakan parang, toya, alat dibuat dari kayu untuk menggiling padi, dll… Dengan alat-alat dan teknik ini petani atau nelayan bisa melawan, ketika memerlukan, samurai kuat yang menempati tanah-air mereka dan menggunakan katana-samurai atau tombak dan pedang lain-lain perang. Di Portugal juga masyarakyat biasa memunculkan sebuah sistem untuk membela diri menggunakan toya yang pengembala dan petani biasanya bahwa kemana-mana, sampai beberapa tahun yang lalu. Sistem ini dikenal dengan nama Jogo do Pau, kata “jogo” (membaca “jogu”) berarti “teknik” dan “pau” berarti “toya”, artinya ‘teknik toya’.

Pada abad XX, di semua tempat di Portugal, tapi lebih-lebih di Utara, masih terjadi biasanya orang-orang berkelahi dengan toya iha pasar dan di pesta-pesta untuk merayakan Santo-Santo katolik. Kadang-kadang satu desa melawan desa yang lain, kadang-kadang juga seorang melawan orang yang lain, kadang-kadang satu orang melawan banyak orang. Pada waktu itu ada banyak “puxador” (kata ini digunakan untuk memanggil para pesilat dari Utara) dan para “varredor de feiras” (orang-orang ini “jogador” (pesilat) terkenal yang mondar-mandir ke pasar-pasar dan pesta-pesta untuk menggusarkan para pesilat yang lain, dan, ketika menang, menunjukkan bahwa mereka yang terbaik). Mestre Monteiro, seorang dari daerah Fafe, menceritakan tentang pada waktu ayahnya masih remaja ada dua desa yang setiap hari-Minggu pergi misa di satu gereja kecil, dan setiap laki-laki, remaja dan tua, membawa toya, menurut adat, dan karena itu pada saat mereka berlutut di dalam misa toya kelihatan berdiri tegak, lebih tinggi dari kepala mereka. Pada waktu misa selesai, di tempat kosong yang dekat, para remaja dari dua desa ini biasanya bertengkar, karena hal-hal kecil (melempar kata-kata ke cewek dari desa yang lain, seorang laki-laki cemburu karena gadis yang dia suka jalan dengan laki-laki yang lain, memarahi karena seorang mengalikan air dari sawah mereka) dan mereka memecakan masalah lewat berkelahi dengan toya. Tapi jangan pikir mereka berkelahi sembarang tanpa aturan. Mereka mengikuti kode etik yang melarang pesilat memukul laki-laki yang tidak membawa toya, atau laki-laki yang sudah jatuh ke tanah. Para pesilat masih biasa menceritakan macam-macam cerita lama, seperti contohnya tentang seorang pria bernama “Manilha”, yang, pada saat tiga orang menyerang dia di jalan, lawan mereka sampai dia menang dan menghilankan toya dari tangan mereka dan sesudah itu dia juga buang toyanya sendiri ke tanah. Dan cerita yang lain tentang seorang “jogador” terbagus, dari daerah-Porto, bernama Carvalho dan bekerja jual kerbau, yang di pasar tanggal 26 di desa-Anjeja, dekat Aveiro, bisa bertahan sendiri terhadap kelompok yang menyerangnya, sampai dia tersandung dan jatuh ke tanah. Pada waktu itu penyerang yang terbaik melompat ke sampingnya, siap untuk membela dia, dan berkata ke teman-temannya jika siapa yang ingin berkelahi seorang berani itu harus berkelahi dengan saya dulu. Di dalam sastra juga bisa menemukan banyak cerita tentang jogo do pau, contohnya di buku-buku dari para penulis seperti Aquilino Ribeiro dan Miguel Torga. Mulai dari 30an jogo do pau mulai hilang. Ada macam-macam alasan: perilaku autoritas polisi, yang, untuk menjauhi orang-orang bertengkar babak belur, melarang orang-orang menggunakan toya di tempat pasar; banyak laki-laki beremigrasi ke kota atau ke luar negeri; biasanya banyak orang mulai menggunakan senjata-api, dan ini membuat orang sudah tidak perlu bekerja keras untuk mempelajari teknik selama banyak waktu untuk membela dira dengan toya.

 

Bendera sekolah Ateneu

Aliran-aliran

Di Lisabon, mereka sudah mempraktekan jogo do pau, mulai dari abad XIX, dengan aliran sendiri, yang diperkembangkan di kebun-kebun di ibu-kota dan di organisasi seperti Ateneu Comercial de Lisboa dan Real Ginásio, yang akhirnya berubah ke Ginásio Clube Português. Para organisasi ini sekarang sedang mengajar. Dua aliran penting muncur, dengan teknik dan situasi sosial dan sejarah tidak sama: “Escola do Norte” (Aliran Utara) dan “Escola de Lisboa” (Aliran Lisabon) (yang juga dipraketk di daerah Ribatejo dan Estremadura). Aliran ini memunculkan banyak teknik baru dan mulai tidak memengtingkan latihan berjuang melawan banyak penyerang.

Mestres atau Pendekar-pendekar

Selama sejarah jogo do pau ada banyak “mestre” (pendekar) terkenal di berbagai daerah di Portugal. Kita bisa menyebut beberapa: Mestre António Nunes Caçador, Mestre Frederico Hopffer, Mestre Júlio Hopffer, Mestre Joaquim Baú, Mestre Calado Campos dan anaknya, Mestre Chula, Mestre Custódio Neves, Mestre Pedro Ferreira, Mestre Elias Gameiro, Mestre Nuno Russo, Mestre Manuel Monteiro, dll… Mestre Pedro Ferreira (lahir 26 Maret 1915 – meninggal 24 September 1996) sangat terkenal karena beliau memperkembangkan teknik sangat baik, mengabungkan Aliran Utara dengan Aliran Lisabon, semua aliran dikuasai olehnya. Banyak mestre yang sedang mengajar sekarang, dahulu mereka juga murid Mestre Ferreira. Ian melanjutkan praktek jogo do pau selama hidupnya, dan para pesilat yang lain masih menggangap beliaun seperti pesilat sangat baik sampai beliaun meninggal. Ian yang Mestre (Pendekar) di sekolah Ateneu Comercial de Lisboa, sampai akhirnya beliaun menyerahkan tangun-jawab ke Mestre Manuel Monteiro, pengantinya.

 

Mestre Monteiro dan murid-murid

Organisasi

Jogo do Pau mulai proses untuk mengorganisasi diri di nivel nasional pada waktu Mestre Pedro Ferreira menarik para pesilat untuk mendirikan sebuah organisasi, di 1977, bernama Associação Portuguesa de Jogo do Pau. Banyak sekolah dan organisasi sekarang ini diorganisasi di struktur bernama Federação Portuguesa de Jogo do Pau yang mewakili mereka. Sebagai saksi untuk kualitas teknik baik dari sistem ini, kita bisa mengkatakan di kompetisi-terbuka untuk perjuangan dengan toya yang terjadi di Perancis di tahun 80an, dengan partisipasi dari sistem bela diri dari Jepang, Vietnam, Perancis, dan negara lain-lain, para pesilat portugis jadi juara absolut dan mereka menang setiap perjuangan yang mereka terlibat.

Z) Sejarah Beladiri SilamBam(Malaysia)

Sejarah
Silambam adalah sejenis seni mempertahankan diri yang ulung dan unggul bagi bangsa Tamil di seluruh dunia. Pra pengkaji berpendapat bahawa Seni Silambam telah wujud sjak 5000 tahun dulu, iaitu sejak zaman pra-sejarah dan sebelum kedatangan kaum Aryan ke India. Justerunya seni Silambam bolehlah dianggap sebagai seni mempertahankan diri yang tertua di dunia.


Seni Silambam merupakan satu seni di dalam 64 jenis seni yang digariskan oleh masyarakat Tamil tradisional sebagai harus dipelajari untuk menjadi insan yang sempurna. Namun demikian seni Silambam ini tidaklah bersifat saintifif pada zaman silam. Peredaran masa telah memodenkan dan memantapkan seni ini sejajar dengan keadaan dan kepentingan zaman. Latihan-latihan dan teknik-teknik memusing tongkat Silambam dan sebagainya telah mengalami kejituan.
Semasa perkembangan agama buddha, seni mempertahankan diri ini telah dibawa ke China dan Jepun oleh sami-sami Buddha khususnya, Bodhidharma telah mempertahankan seni ini di kota Sang han, Negeri Wei di utara China.
Seni Silambam telah mengalami perkembangan pesat pada awal abad ke 16. Ia menjadi asas dan penting bagi kekuatan fizikal di dalam latihan ketenteraan sebelum diajar seni pedang. Seni Silambam telah berkembang ke Asia Tenggara di antara 1000 hingga1500 tahun yang lalu. Perkembangan ini adalah hasil usaha raja-raja Tamil daripada India yang merantau ke rantau ini.
Pada akhir abad ke-14, pekerja-pekerja Tamil daripada India ke Malaya iaitu Malaysia , oleh penjajah Inggeris. Pekerja-pekerja ini telah membawa seni Silambam ini ke Malaya. Namun demikian, guru-guru yang telah mengajar seni ini dapat dikesan hanya sejak tahun 1920 sahaja. Semasa perang dunia ke-2, seni Silambam telah menjadi popular khasnya di Kuala Selangor, Kapar dan Kelang.
Oleh kerana seni ini ialah seni yang dibawa masuk ke Malaya dari luar, maka ia tidak mendapat pengiktirafan dari segi undang-undang di bawah penjajahan barat. Justerunya seni Silambam perlu diajar secara rahsia, di dalam hutan dan tempat-tempat yang tidak dilalui orang.
Seni Silambam (Apa itu Silambam)


Silambam bermakna pergerakkan tanpa senjata dan senjata seperti tongkat kayu, pedang, tombok dan sebagainya. Silambam juga diertikan sebagai bakat pertandingan, tindakan untuk menakutkan orang lain, tindakan bertaktik dan memusing tongkat kayu.
Kepakaran awal dalam seni Slambam ialah “membina rumah”. Di sini ahli akan menetapkan langkah kaki bilangan langkah 16, 32, 64 dan sebagainya untuk meletakkan musuh di bawah penguasaannya sebelum menerkamnya.
Kepakaran berikut adalah kemahiran-kemahiran membongkok, lincah, bakat dan membelasah dengan bertindak tanpa menggerakkan badan dan menggerakkan badan pada empat situasi, iaitu kepala, bahu, pinggang dan kaki tanpa sebelah tangan atau kedua-dua belah tangan menjadi lesu.

Peraturan-peraturan
Peraturan umum
Peserta hendaklah sentiasa bergerak dan menggerakan kayu secara bulatan selain daripada masa mengambil mata. Jika tidak berbuat demikian, peseta itu akan diberi amaran. Selepas 3 kali amaran diberi, mata akan ditolak.
Peserta dilarang sama sekali mentuh lawan dengan menggunkan sebelah tangan sahaja .Jika berbuat demikian, mata tidak akan diberi . Peserta yang bertanding hanya boleh menyentuh di sasaran yang dibenarkan.Jika salah seorang peserta lawannya semasa bertanding , maka peserta itu diumumkan sebagai pemenang.Tetapi jika kayu peserta itu terjatuh kerana tergelincir, maka peserta itu boleh mengambil kayu dan memeneruskan pertandingan itu.

Kategori Pertandingan (Mengikut berat dalam kg)
Lelaki
Sub Junior
a) kanak –kanak berumur 10 tahun ke bawah
Junior
30 – 40kg
40 – 50kg
Senior
50 – 52kg
52 – 56kg
56 – 60 kg
67.5 – 75kg
75kg ke atas

Perempuan
berumur 10 tahun ke bawah
sehingga 25kg
25 – 30kg
30 – 35kg
35 – 40kg
40 – 44kg
44 – 48kg
48 – 52kg
52kg ke atas

Kategori Veteran
Pertandingan menunjukan kemahiran individu dalam seni silambam ini bagi perserta yang berumur 45 tahun ke atas.

Pertandingan – pertandingan lain

Selain daripada pertandingan di atas , diadakan juga beberapa pertandingan lain seperti di bawah:-
I – Pertandingan kumpulan/pasukan
Terdapat seramai 10 orang dalam setiap kumpulan.Setiap kumpulan perlu menunjukan kemahiran – kemahiran masing- masing dalam silambam sahaja. Setiap kumpulan di beri masa 10 minit dan hanya 20 kumpulan sahaja boleh menyertai pertandingan pasukan ini.

Bilangan Orang Yang terlibat dalam satu pertandingan
2 orang peserta (seorang dengan tali pinggan merah dan seorang lagi dengan hijau)
1 orang ketua pengadil
2 orang penolong pengadil (seorang pengadil untuk seorang peserta)
2 orang penghebah markah
Teknik Dan Taktik
Ahli Silambam yang menghadapi musuh tidak akan memerhatikangerakan-gerakan tangan mahupun kaki musuh. Sebaliknya ia hanya akan mengamati mata si musuh sahaja. Ini adalah untuk mengetahui lebih awal akan gerakan-gerakan kaki dan tangan yang melibatkan taktik-taktik seperti mengerat dan berpura-pura menikam, membelasah, berundur dengan berpura-pura melempar dan sebagainya.
Seseorang yang telah menjadi mahir dalam seni silambam boleh mengalahkan berpuluh orang dengan menggunakan tongkat. Dia menjatuhkan orang dengan menggunakan teknik-teknik seperti langkah kera, langkah ular, pengamatan singa, lompat katak, sambar helang dan sebagainya.
Selain itu terdapat ahli Silambam yang dapat melompat ke atas dan berdiri di atas pokok dan melompat melewati tombok dengan meggunakan tongkat. Apabila dikatakan tongkat Silambam, bukanlah sebarang kayu boleh digunakan. Buluh keras atau rotan yang tidak terbelah atu terguris dan berlilitan kira-kira 3 cm akan dipilih setelah mengamati luas, berat, kelasakan dan kelenturan. Ia akan direndamkan ke dalam air buat beberapa lama. Seterusnya ia akan dibanting di permukaan air yang mengalir dan tidak mengalir untuk meninggikan kelasakan. Kayu yang telah siap ini akan dikerat setinggi ahli Silambam yang bakal menggunakannya.
Ini adalah kerana seni Silambam bukanlah rekaan belaka. Ia dibentuk berdasarkan taktik dan teknik haiwan-haiwan seperti harimau, ular, beruang, burung, gajah dan sebagainya berkelahi di dalam hutan bagi mengalahkan musuh atau untuk mempertahankan diri. Masyarakat Tamil tradisional mengubahsuai taktik dan teknik haiwan seperti di atas mengikut keperluan dan kebolehan. Mereka melahirkan pelbagai seni mempertahankan diri termasuklah seni Silambam yang tidak menggunakan senjata dan yang menggunakan senjata.
2 orang penolong pencatat markah
1 orang penjaga masa
1 orang pencatat markah di papan markah


2. WUSHU
sejarah

Wushu atau kungfu merupakan seni bela diri yang berkembang di Cina sejak ribuan tahun lalu. Pada waktu itu seni bela diri ini muncul karena ada kebutuhan dari masyarakat untuk menghadapai gangguan binatang buas dan mencari makan.
Wushu dalam bahasa Cina artinya seni perang. Ada banyak aliran dalam wushu tapi secara garis besar wushu dapat dibagi dua golongan, yaitu Uay Kung (Gwa Kang) dan Nei Kung (Iwee kang). Pada Uay Kung unsure kekerasannya lebih besar (70%) dibandingkan kelemasan. Sementara itu Nei Kung hampir seluruhnya menggunakan kelemasan.
GAYA YANG DIPERTANDINGKAN


Taolu (peragaan)
Jurus Panjang (Changguan)
Jurus Selatan (Nangguan)
Taichi Jurus Kombinasi
Golok (Daoshu)
Pedang (Jianshu)
Tombak (Qianshu)
Toya (Gunshu)
Toya Selatan
Golok Selatan
Taichi Pedang
Sanhsu (perkelahian bebas)
Putra : (48 kg, 52 kg, 60 kg, 65 kg, 70 kg)Putri : 48 kg, 52 kg)
NILAI
Nilai tertinggi untuk taolu (peragaan0adalah 10 (sepuluh) dengan criteria sebagai berikut :
Fisik : 6
Keserasian gerak : 2
Penjiwaan : 2
Nilai untuk sanshou (perkelahian bebas)
Tendangan/pukulan ke bagian kepala : 1
Tendangan/pukulan ke bagian perut/ dada : 2
Bantingan : 2
Bantingan indah : 3
Keluar dari gelanggang : -3
Pelanggaran
Ringan : -1Berat : -3
BENTUK TANGAN

Bentuk tangan dalam wushu ada tiga model : kepalan (chuan), telapak (cang), kaitan (keuw), berikut bebrapa model bentuk tangan.
GERAKANSapuan kaki bagian depan (Qiansaotui)
Tendangan samping (Cetitui)
WAKTU PERTANDINGAN
Taolu : 80 detikTaichi jurus kombinasi : 5 menitPedang : 3 menit
Sanshou : dilakukan sebanyak 3 babak, tiap babak 2 menit dengan jeda 1 menit. Apabila 2 babak berurutan sudah dimenangkan peserta maka babak ketiga tidak perlu dilanjutkan.
ARENA PERTANDINGAN
Arena untuk wushu ada dua, untuk taolu berukuran 8 m x 14 m dengan garis pemisah di bagian tengah, sedangkan untuk sanshou berukuran 8 m x 8 m dengan ketinggian 60 m, di bagian tengahnya ada lingkaran yin yang.

3. SILAT

sejarah

Silat ialah seni tempur bangsa Melayu yang diamalkan sejak berkurun yang lampau. Di Malaysia sahaja wujud beratus-ratus perguruan silat. Ada silat yang mengajar senjata-senjata Melayu lama seperti keris, badik, kerambit, parang, pedang, lading, tumbuk lada, tek-pi, tongkat, tembong dan sundang. Ada juga silat yang menumpukan pengajaran pertempuran tangan kosong (tanpa senjata).
Jenis-jenis silat (UMUM)
Silat terbahagi kepada silat yang menjurus kepada seni atau bunga, buah pukul atau kedua-duanya sekali (seni dan buah pukul). Namun begitu kebanyakan perguruan mengajarkan kedua-duanya sekali. Silat seni seperti silat pulut biasanya dipersembahkan pada majlis resmi dan keramaian seperti majlis perkahwinan.Antara jenis-jenis silat yang ujud adalah Seni Silat Gayong,Seni Silat Kuntau,Seni Silat Pulut,Seni Silat Cekak Hanafi dan berbagai lagi.

Silat Seni Gayong


Silat Seni Gayong diasaskan oleh Allahyarham Mahaguru Dato’ Meor Abdul Rahman bin Uda Mohd.Hashim. Beliau mempelajari persilatan ini daripada nendanya Tuan Syed Zainal bin Syed Idris Al-Attas. Syed Zainal pula mempelajari persilatan ini daripada Daeng Ambok Solok di Pulau Temiang, berdekatan Jambi, Sumatera. Mat Kilau, Dato’ Bahaman dan Syed Zainal mengikut ceritanya telah diperintahkan oleh Sultan Ahmad Pahang untuk mencari buah keras di Pulau Bangka, Riau, Indonesia. Di Pulau Temiang, yang berdekatan dengan Pulau Bangka, rombongan mereka telah bertemu dengan Daeng Ambok Solok. Daeng Ambok Solok telah bermurah hati untuk menurunkan ilmu Gayong kepada pahlawan Pahang tersebut agar dapat digunakan untuk mempertahankan tanah air mereka kelak. Oleh kerana kesuntukan masa, mereka mengikat janji untuk kembali lagi ke Pulau Temiang setelah selesai menjalankan amanah Sultan. Dalam perjalanan pulang ke Pahang, Mat Kilau diarahkan untuk membeli senapang kopak di Singapura. Mat Kilau, Syed Zainal dan Dato’ Bahaman telah belayar kembali ke Pulau Temiang seperti yang dijanjikan. Mereka telah menuntut ilmu Gayong selama kira-kira dua tahun daripada Daeng Ambok Solok.

Silat Seni Gayong ini dipercayai telah wujud sejak zaman Kesultanan Melayu Melaka dan telah digunakan oleh hulubalang-hulubalang Melaka dalam usaha menentang kemasukan penjajah Portugis. Nama asal Silat Seni Gayong ialah Silat Seni Sendi Harimau. Silat Seni Gayong mempunyai tujuh peringkat, iaitu: Tapak Gayong(permulaan tapak silat), Seni Tapak Gayong(Pecahan Tapak Gayong), Seni Keris (langkah pahlawan cara menggunakan senjata), Seni Simbat (cara bermain belantan atau pedang), Seni Yoi (buah pukulan), Seni Belian (silat harimau bersilat cara koyak-mengoyak anggota lawan), dan Seni Cindai(tarian silat menggunakan kain sentung atau kain tudung). Peringkat tertinggi dalam Silat Seni Gayong akan dianugerahkan bengkung hitam Harimau Pelangi Cula Sakti (Tingkatan I – VI).

Di Malaysia terdapat beberapa perguruan silat yang menggunakan nama “Silat Gayung”, diantaranya:
Silat Seni Gayung
Silat Gayung Asli
Silat Gayung Lima
Silat Gayung Tujuh
Silat Gayung Cekak Sendeng
Silat Gayung Ghaib
Silat Gayung Harimau
Silat Gayung Khalifah
Silat Gayung Lincah
Silat Gayungman Asli
Silat Gayungman Kedah
Silat Gayung Laksamana
Silat Gayung Pancasila
Silat Gayung Fatani
Silat Gayung Semarang
Silat Gayung Tok Janggut
Silat Pusaka Gayong

Silat Seni Gayong

PUKULAN MAUT

Perguruan Silat

Berikut adalah sebahgian dari perguruan atau aliran silat yang boleh didapati di Malaysia. PESAKA merupakan satu badan atau organisasi yang mengawal selia pertubuhan silat di negara ini.
Silat AL HAQ

Silat Abjad
Silat Agam
Silat Acheh Lang Putih
Silat Alif Ba Ta
Silat Amal
Silat Api
Silat Bakti Negara
Silat Bangkoi
Silat Bangsal
Silat Betawi
Silat Bayu Merah Harimau Berantai
Silat Berembang
Silat Baringin Sakti
Silat Burung Rajawali Putih
Silat Buah
Silat Budi Bahasa
Silat Bugis
Silat Bunga
Silat Cekak
Silat Cemendas
Silat Cemendek
Silat Cimande
Silat Che Mandi Hitam
Silat Cikalung
Silat Depo Woojo
Silat Elat
Silat Empat
Silat Ezhar

Silat Firasah

Silat Gayong
Silat Garuda Kedah
Silat Gelut
Silat Gelombang
Silat Gerak
Silat Gerbang Sakti
Silat Harimau
Silat Hadrah Maut
Silat Halimun Allah
Silat Inai Teroi
Silat Isim
Silat Jati
Silat Jatuh
Silat Jawa
Silat Jawi
Silat Kaedah
Silat Kaki Tunggal
Silat Kalimat Tujuh
Silat Kayu
Silat Kemain
Silat Kerayung Sendeng
Silat Kampung Tebiuh
Silat Kuntau
Silat Kalimah
Silat Kilat
Silat Keramat
Silat Kubu
Silat Kutar

Seni Beladiri Kysatria Darma Vajra Mukti

Silat Laksamana Hang Jebat
Silat Lam Melayang
Silat Lang Merah
Silat Lang Sewah
Silat Langkah
Silat Lela Pahlawan
Silat Lian
Silat Lincah
Silat Lincah Lintar
Silat Lintah
Silat Lintang
Silat Lintau
Silat Lintau
Silat Majapahit
Silat Mat Kilau
Silat Melaka
Silat Melayu
Silat Minang
Silat Monyet
Silat Moo
Silat Naga
Silat Nasrul Haq
Silat Natar
Silat Pahlawan
Silat Pancasila Gayung Harimau
Silat Panglima
Silat Pasak
Silat Pasak Padang
Silat Pelaga
Silat Pelangi
Silat Pegema
Silat Pegian
Silat Pencek
Silat Pendekar Muda
Silat Panding Juan Sutan Maakat
Silat Pengantin
Silat Peninjau
Silat Perasyah
Silat Periaman
Silat Perkasa Gagak Di Rimba
Silat Perwira Kedah
Silat Peturun
Silat Petir
Silat Pisau
Silat Pulut
Silat Pukulan
Silat Purba
Silat Porpila
Silat Parit Sempadan
Silat Rampuk
Silat Rancak
Silat Randai
Silat Rencong Kayak
silat Recong Kapan
Silat Rian
Silat Rohaniah
Silat Saka
Silat Sala
Silat Sapu Angin
Silat Sayung
Silat Sekebun
Silat Selangkah
Silat Selangkah Gerak
Silat Selindang Hitam
Silat Selendang Merah
Silat Seligi
Silat Semerap
Silat Semulajadi
Silat Sendeng
Silat Serendah
Silat Segap
Silat Seperap
Silat Sepelek
Silat Sepulut
Silat Serimau Hitam
Silat Sunting
Silat Setiabakti
Silat Serak
Silat Terlak
Pembahagian silat ini terbahagi kepada cabang-cabang yang lain.

SENI SILAT CEKAK HANAFI

Allahyarham Ustaz Hj. Hanafi Haji Ahmad, bagi penuntut Silat Cekak Hanafi merupakan pemimpin agong dalam dunia persilatan Melayu. Pemimpin agong bermaksud, beliaulah orang yang menghidupkan kembali pusaka bangsa seni bela diri orang Melayu yang mampu menjaga diri dan membela diri pengamal-pengamalnya. Ini dibuktikan, apabila Silat Cekak ini dilahirkan kembali pada malam 5 Ramadhan 1385 hijrah, bersamaan dengan 28 Disember 1965. Pemimpin agong juga bermaksud, beliaulah orang yang pertama dapat menggunakan keseluruhan daya kreativiti yang dikurniakan Allah untuk menggubal satu jenis sistem pelajaran dan pembelajaran persilatan dan tatacara persilatan yang tersusun dan dapat dinilai oleh orang ramai tentang kelebihan dan keupayaan silat Melayu sebagai senjata mempertahankan diri. Akhir sekali, pemimpin agong juga bermaksud, beliaulah orang yang berjaya meletakkan seni silat Melayu yang sesuai dengan pengurusan organisasi moden.
Ustaz Hanafi Hj. Ahmad, anak jati Kedah. Lahir di Kampung Sungai Baru, Mukim Gunung, Alor Setar, Kedah pada tahun 1923. Sesuai dengan zaman ketika itu beliau mendapat pendidikan awal di sekolah aliran Melayu Kampung Gunung , Alor Setar, Kedah dan seterusnya belajar agama di beberapa buah pondok dengan beberapa orang Tok Guru Ulamak di Kedah.
Ustaz Hanafi Haji Ahmad menyedari bahawa kefahaman yang tulen terhadap Allah s.w.t. dan dengan hanya mengikut sunnah Rasulullah, beliau sanggup mengorbankan masa mudanya mendalami bidang-bidang keagamaan dengan beberapa orang guru yang terkemuka di seluruh tanah air hingga ke Singapura. Proses pembelajaran untuk menjadi hamba Allah yang sebenarnya itu, memerlukan beliau menjadi murid setia suruhan, menjual apam balik, menjual ubatan tradisional dan merantau seluruh tanah air mencari guru yang sebenar-benar guru. Berkat usaha dan kesabaran beliau akhirnya dengan izin Allah, Ustaz Hanafi Haji Ahmad, bertemu dengan Tok Guru Pak Haji Zain bin Abdul Rahman, yang berjaya menjelaskan dan menyimpulkan hakikat ketuhanan kepada Allah Taala dengan menggunakan kitab Hikam Ibni Ataillah.
Perjuangan menuntut kemerdekaan mengimbau jiwa nasionalisme Ustaz Hanafi Haji Ahmad memperjuangkan hak budaya bangsa orang Melayu. Bidang yang sesuai dengan jiwanya sebagai anak watan Melayu ialah bidang persilatan Melayu. Ustaz Hanafi yakin bahawa orang Melayu juga mempunyai seni bela diri yang tidak kalah mutunya dibandingkan dengan seni bela diri bangsa lain. Kajian yang terperinci telah dilakukan terhadap pelbagai seni bela diri orang Melayu. Proses pencarian untuk mendapatkan silat yang benar -benar bertanggungjawab membela diri juga memerlukan Ustaz Hanafi Haji Ahmad sekali lagi merantau, menjadi murid suruhan guru, menuntut pelbagai ilmu bela diri orang Melayu dan menjual ubatan seluruh tanah air. Akhirnya dengan izin Allah beliau bertemu dengan En. Yahya Said yang mempunyai sejenis beladiri yakni Silat Cekak yang menunggu untuk menurunkan silat ini kepada yang hak.
Penguasaan Bahasa Melayunya yang baik merupakan aset bagi beliau mengungkapkan kembali dalam bahasa yang ringkas lagi tepat, seperti yang terbukti dalam pantun Silat Cekak dan falsafah Silat Cekak.
Beliau juga merupakan orang yang bertanggungjawab memberikan harapan dan keyakinan baru kepada Silat Melayu supaya dipelajari oleh orang Melayu sendiri sebagai warisan budaya bangsa yang tak lapuk dek hujan dan tak lekang dek panas. Sebagai tokoh pengurusan persilatan yang dinamis, beliau menggunakan seluruh kemahiran dan pengetahuannya bagi memberikan dinamisme baru kepada wajah seni silat Melayu dalam satu organisasi persilatan. Nyata sekali, sebahagian besar kejayaan Silat Cekak dipelajari oleh mesyarakat Melayu adalah hasil visi Ustaz Hanafi Haji Ahmad; pemimpin agung Silat Cekak. Kini, Silat Cekak Hanafi dapat dipelajari di semua institusi pengajian.
Musuh mahupun kawan, anak murid yang bersopan mahupun yang tidak bersopan, terpaksa mengakui dan menghargai beliau sebagai guru utama yang berkaliber dan pengurus yang bijak, berani dan cekal.
Ustaz Hanafi Hj. Ahmad pulang ke Rahmatullah pada 13 Ogos 1986 di Kuala Lumpur pada usia 63 tahun. Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalakn nama . Beliau meninggalkan seorang balu Maimunah Haji Othman dan enam orang anak. Perjuangan beliau diteruskan oleh Mohd. Radzi bin Hanafi.
“Percakapan dan perbuatannya sama. Dalam apa jua perbuatan, Allahyarham mempraktikkannya dulu sebelum mendidik. Percakapan dan pandangannya mudah difahami serta selaras dengan tujuan hidup, Allahyarham juga bijak menyesuaikan diri dengan keadaan. Ada ketika menjadi guru, ada ketikanya menjadi bapa dan pada satu ketika yang lain seperti seorang sahabat.”
-Pandangan En. Mohd. Radzi b. Hj Hanafi, Gutu Utama, Silat Cekak Hanafi terhadap pemimpin agung Silat Cekak, Allahyarhan Ustaz Hanafi Hj. Ahmad.
Pendidikan
1929
Mendapat pendidikan awal di Sekolah Melayu Gunung, Alor Setar, Kedah.
1933
Memasuki sekolah pondok di Kampung Alor Gonchar, Mukim Gunung, Alor Setar, Kedah di bawah pengawasan guru Hj. Osman bin Lebai Zain.
1936
Memasuki Sekolah pondok Guar Chempedak, Gurun Kedah. Pelajaran agama dikendlikan oleh Hj. Abdul Majid dan pelajaran Arab pula diajar oleh guru Yahya bin Jonid.
Belajar sendiri dengan guru berikut:

Hj. Bukhari bin Hassan dari Batu 4 1/4, Kampung Pinang, Mukim Pengkalan Kundur, Alor Setar, Kedah.
Hj. Hanafiah – Bapa saudara beliau dari Anak Bukit, Alor Setar, Kedah.
Hj. Lah dari Chegar, Pantai Johor, Kedah.
Berguru dengan Pak Ngah Shariff yang dikenali sebagai orang handal di Kedah ketika itu. Untuk mendapatkan ilmu, beliau kena menjadi orang suruhan guru terlebih dahulu, dengan membuat kerja-kerja berat, seperti memotong kayu, mencangkul dan be rsawah. Dimasa lapang barulah Pak Ngah Shariff mengajari ilmu mempertahankan diri dan ilmu kebatinan ( ilmu ketuhanan ).
Mendapatkan pengalaman melalui merantau, pernah berbincang masalah dengan :

Che Salleh bin Hj. Abdul Rahman Limbong di Terengganu.
Kiyai Muhammad Fadlullah Suhaimi dari Singapura bertemu di Pahang.
Sheikh Osman Cincin dari Perak yang kononnya masyhur dengan ilmu kebal.
Abdullah Salleh – terkenal dengan Che Lah Keramat masyhur dengan ilmu perubatan tradisional di Terengganu.
Bertemu dengan seorang guru bernama Pak Hj. Zain bin Abdul Rahman. Beliau menyedari inilah guru yang dicari-cari selama ini yang dapat membuat kesimpulan dalam ilmu ketuhanan ( Ilmu Tauhid ). Kitab yang diajar oleh Pak Hj. Zain ialah Kitab Hika m Ibni Ataillah.
Pengalaman
Menjual ubat diseluruh tanahair.
Bergiat dalam bidang politik dalam tahun 40 an. Pernah memasuki Parti Seberkas dan Parti Negara pimpinan Allahyarham Dato’ Onn Jaafar.
Pengarah zakat pada tahun 1963 di Pejabat Agama Negeri Kedah.
Menjual apam balik di Yala, Siam dan Pekan Rabu, Alor Setar, Kedah.
Memimpin Seni Silat Cekak mulai 1965 sehingga Ogos 1986.

SENI SILAT CEKAK

Seni Silat Cekak ialah sejenis silat yang benar-benar asli dan bertanggungjawab untuk mempertahankan diri. Seni Silat Cekak mempunyai kaedah-kaedah yang tetap dan tidak berubah-ubah sejak kelahirannya. Pergerakkan dan sistem silat ini menepati kesesuaian dengan gerak-geri semulajadi manusia yang berdasarkan fikiran yang sihat, jiwa yang tenang, dan amat nyata ianya berprinsipkan agama Islam. Cekak menunggu serangan dengan berdiri lurus (berdiri Solat), tidak berkuda-kuda dan tidak melangkah ke kiri atau ke kanan, bahkan mara ke hadapan.

Sejarah Penubuhan Persatuan Seni Silat Cekak
Pada 5 Ramadhan 1385 Hijrah, bersamaan 28 Disember 1965, bertempat di rumah Shafie Darus, Batu 4 3/4, Jalan Gunung Alor Setar, Kedah; Silat Cekak berjaya dilahirkan kembali menerusi Perkumpolan Seni Sari Budaya Sri Kedah yang ditubuhkan pada Februari 1964. Pada akhir tahun 1970, Seni Silat Cekak telah berhijrah ke Kuala Lumpur. Di Kuala Lumpur, ia berkembang dari satu sudut yang kecil di kedai makanan En. Hussain b. Ahmad, Jalan Raja Alang, Kuala Lumpur. Seterusnya, beberapa kelas telah dibuka, antaranya di Kampung Baru. Kegiatannya di Kuala Lumpur dibawah seksi Seni Silat, Persatuan Bawean Putra, Kampung Datuk Keramat, Kuala Lumpur. Seni Silat Cekak telah dapat diterima oleh masyarakat Kuala Lumpur. Sesuai dengan perkembangannya, Persatuan Seni Silat Cekak Malaysia telah diasaskan dan didaftarkan pada 19 Ogos, 1971 oleh YM Al-Marhum Ustaz Haji Hanafi bin Haji Ahmad.

Pada tahun 1975, buat pertama kalinya lambang Persatuan Seni Silat Cekak Malaysia telah diperkenalkan dan ianya telah digunakan sehingga sekarang. Perkembangan awal Seni Silat Cekak Malaysia adalah dibawah YM Guru Utama merangkap Presiden Persatuan Seni Silat Cekak Malaysia, Al-Marhum Ustaz Haji Hanafi bin Haji Ahmad. Beliau telah meninggal dunia pada 13 Ogos, 1986 setelah menerajui PSSCM dan mengembangkan Seni Silat Cekak Malaysia keseluruh negara selama 21 tahun. Bak pepatah Melayu “Patah tumbuh hilang berganti” Tanggungjawab tersebut telah diteruskan oleh YM Tuan Haji Ishak bin Itam selaku Guru Utama merangkap Presiden PSSCM pada 21 September, 1986 sehingga sekarang. Dibawah kepimpinan beliau PSSCM telah berkembang pesat keseluruh lapisan masyarakat.

posted by ASRUL EFFENDI at 6:26 AM

A1) Sejarah Beladiri Taido

Taido

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
 

Pertandingan Taido

Taido(躰道) adalah seni bela diri dari Jepang yang didirikan oleh Seiken Shukumine pada 1965. Nama “Taido” berarti “caranya tubuh dan jiwa” (internal dan eksternal). Taido punya sisilah di karate Okinawa. Pertama Seiken Shukumine mendirikan Genseiryu karate pada 1950an, tetapi pada tahun 1960-an beliau menemukan bahwa aliran bela diri beliau sudah jauh menyimpang dari karate, dengan demikian beliau mendirikan aliran bela diri baru dangan nama Taido[1]

Teknik Dasar

Taido memiliki lima bentuk teknik dasar yaitu:

Sen-tai
Tehnik-tehnik yang termasuk di bentuk ini mencangkup gerakan-gerakan yang menggunakan rotasi vertikal tubuh petarung untuk menghasilkan tenaga serang.
Un-tai
Bentuk ini mencakup tehnik-tehnik gerakan yang menggunakan berat tubuh petarung untuk menghasilkan tenaga serang, dengan cara menghentakkan kaki atau melompat
Hen-tai
Bentuk ini mempergunakan perubahan momentum yang dihasilkan oleh perubahan sumbu tubuh untuk menghasilkan tenaga serang, bentuk ini banyak digunakan untuk menyerang sekaligus menghindar dari serangan lawan.
Nen-tai
Bentuk ini mempergunakan rotasi horizontal tubuh petarung untuk menghasilkan tenaga serang.
Ten-tai
Bentuk ini menggunakan gerakan-gerakan akrobatik untuk menembus pertahanan lawan dan sekaligus menghasilkan tenaga serang. Back flip, roll dan back spring adalah contoh dari gerakan-gerakan yang digunakan dalam bentuk ini.

Filosofi

  1. Moto Taido adalah “menyerang sekaligus bertahan”. Tidak seperti cabang-cabang bela diri lainnya, Taido lebih mementingkan “evasion” (menghindari serangan) sedangkan tangkisan hanya digunakan sebagai pilihan terakhir. Ide ini didasarkan pada kenyataan dimana pada pertarungan sesungguhnya, perbedaan berat tubuh antara petarung bisa melebihi 20 kg, sedangkan dengan perbedaan sebesar 10 kg saja tangkisan sudah tidak dianjurkan untuk digunakan.
  2. Menyerang dari sudut yang berbeda. Taido tidak menganjurkan serang langsung dari depan, melainkan memilih untuk menyerang bagian tubuh lawan yang tidak dijaga. Untuk mencapai tujuan ini, petarung taido tidak diam di satu tempat tetapi selalu bergerak memutari lawannya. Selain untuk mencari titik lemah lawan, tujuan dari gerakan memutar ini adalah untuk menyembunyikan gerakan tiba-tiba yang dapet diidentifikasikan lawan sebagai awal dari serangan.

Pertandingan

Ada lima kategori yang dipertandingkan di taido yaitu:

Hokei
Adalah rangkaian tehnik yang sudah dijadikan standar, kedudukan hokei di taido dapat disamakan dengan kedudukan Kata di karate.
Dantai-hokei
Mempertandingkan hokei yang dilakukan per tim, tim ini biasanya terdiri dari lima personil.
Tenkai
Kategori ini adalah pertandingan yang hanya dapat ditemukan di Taido. Tiap tim terdiri dari enam orang petarung, dan enam orang ini akan merangkai sebuah koreografi bela diri lima lawan satu. Pemeran utama di koreografi ini akan mengalahkan lima orang lainnya dalam waktu 30 detik. Kategori ini biasanya sangatlah spektakuler layaknya adegan film action bela diri. [2]
Jissen
arti kata jissen adalah “pertarungan sesungguhnya” dengan demikian kategori ini dapat pula disamakan dengan sparring. Perbedaan taido dengan cabang bela diri lain dapat dilihat dari pertandingan ini. Karena lain dari bela diri yang lain, Taido tidak memiliki pembagian kelas berdasarkan berat tubuh, dan tidak juga menggunakan pelindung tubuh. Di kategori ini pula para petarung diuji dalam hal pengontrolan tehnik mereka, petarung diwajibkan untuk memukul lawan mereka menggunakan tehnik yang sempurna dengan kecepatan penuh namun secara terkontrol, mereka dilarang mencederai lawan mereka.
Dantai-jissen
ini adalah pertarungan lima lawan lima, dan tim yang berhasil mendapatkan 3 kemenangan akan maju ke babak selanjutnya.
Artikel bertopik olahraga ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.
Kategori: Seni bela diri | Seni bela diri Jepang 

A2) Sejarah Beladiri Wing Chun Kuen

Sejarah Wing Chun Kuen

Diterjemahkan dari buku “Wing Tsun Kuen”
Oleh: Master Leung Ting
10th Level M.O.C
©Copyright 1978, International Wing Tsun Leung Ting Martial-Art Association,
International Headquarters, Hong Kong

Peristiwa Dibakarnya Kuil Shao Lin

Pada masa Cina dijajah oleh bangsa Manchuria (Dinasti Ching), saat Kaisar Yung Cheng1 berkuasa (1723-1736), terjadi peristiwa dibakarnya Kuil Shao Lin, yang berada di Gunung Sung, Propinsi Honan. Peristiwa tersebut terjadi sekitar 300 tahun yang lalu, saat kuil ini sedang dikepung oleh tentara pemerintah Manchuria.

Saat itu pemerintahan Manchuria takut akan perkembangan kung fu di Kuil Shao Lin yang semakin lama semakin kuat dan juga karena kuil ini dianggap sebagai pusat gerakan pemberontakan2 melawan penjajah Manchuria. Pemerintah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Chan Man Yiu, Wong Chun May, dan Cheung King Chow untuk menyerang kuil ini. Serangan demi serangan selalu mengalami kegagalan. Chan Man Yiu kemudian bekerja sama dengan para pengkhianat dari Kuil Shao Lin, salah satunya adalah Pendeta Ma Ning Yee, dan membakar Kuil Shao Lin secara diam-diam. Banyak penghuni Shao Lin, pendeta, murid calon pendeta, maupun murid-murid yang bukan calon pendeta mati terbakar. Walaupun demikian tidak semuanya mati, beberapa berhasil lolos dari peristiwa ini. Mereka yang berhasil lolos di antaranya adalah Pendeta Wanita Ng Mui, Pendeta Chi Sin, Pendeta Pak Mei, Master Fung To Tak, dan Master Miu Hin3, dan juga beberapa orang murid, yang paling terkenal di antaranya adalah Hung Hay Kwun (Hung Si Kuan), Fong Sai Yuk (Fang Se Yu)4, Luk Ah Choy, dan lain-lainnya. Kelima pendeta/master ini adalah lima guru yang mewakili lima gaya kung fu Shao Lin.

Pendeta Chi Sin yang mempunyai murid paling banyak memimpin pelawanan terhadap pemerintahan Manchuria. Pendeta ini bersama dengan beberapa orang murid kesayangannya, yaitu Hung Hay Kwun, Tung Chin Kun, dan Tse Ah Fook, menjadi buronan pemerintah. Agar tidak tertangkap, Pendeta Chi Sin memerintahkan murid-muridnya untuk menyamar, lalu ia sendiri menyamar menjadi juru masak di Perahu Merah/The Red Junk5. Sementara itu Master Miu Hin, anaknya perempuannya, Miu Tsui Fa, dan cucunya, Fong Sai Yuk, bersembunyi untuk sementara waktu di kalangan suku minoritas Miao dan Yao, yang berlokasi di antara propinsi Sze Chuan dan Yunnan. Mereka kemudian berkeliling dan melakukan banyak hal sehingga melahirkan legenda-legenda fantastis, di antaranya adalah “Fong Sai Yuk menantang sang juara bertahan turnamen kung fu”.

Pendeta Wanita Ng Mui adalah satu-satunya master wanita dari Shao Lin dan yang tertua dari kelima master tersebut. Ia lebih toleran terhadap pemerintah Manchuria daripada keempat saudara seperguruannya ini. Walaupun demikian kadang-kadang ia juga menggunakan kung fu-nya untuk menegakkan keadilan. Ng Mui pergi berkeliling Cina, perjalanannya ini melahirkan legenda “Ng Mui membunuh Lee Pa Shan di hamparan bunga plum6“. Ia lalu mengundurkan diri dan bersumpah untuk tidak terlibat lagi dalam peristiwa-peristiwa kekerasan. Ia kemudian menetap di Kuil Bangau Putih yang terletak di gunung Tai Leung (juga disebut gunung Chai Ha), di antara propinsi Yunnan dan Sze Chuan. Ia berkonsentrasi mendalami Zen Buddhisme, sebuah sekte Buddha yang dikembangkan oleh Bodhidharma7, dan juga ilmu kung fu sebagai hobby yang amat disukainya. Ng Mui, seperti juga yang lainnya, tidak pernah melupakan pengalaman pahit peristiwa kebakaran dan pengkhianatan di Kuil Shao Lin. Ia juga khawatir akan pengejaran yang dilakukan oleh para pengkhianat dan pasukan pemerintah Manchuria. Ia sadar akan kesulitan yang akan dialaminya jika suatu saat bertemu dengan para pengkhianat yang juga telah menguasai ilmu bela diri Shao Lin tersebut. Ia sadar bahwa pengetahuan teoritis bela dirinya sejajar dengan mereka, dan suatu saat kemampuan fisiknya akan kalah dengan para pengkhianat yang jauh lebih muda darinya. Untuk mengatasi hal ini, cara satu-satunya adalah dengan menciptakan sebuah teknik bertarung baru yang mampu mengatasi teknik-teknik bertarung Shao Lin. Pertanyaannya adalah apa teknik baru itu dan bagaimana menciptakannya?
Lahirnya Teknik Bertarung Baru

Suatu saat Ng Mui menyaksikan pertarungan antara seekor rubah dan seekor bangau liar besar. Rubah itu berjalan mengitari bangau mencari kesempatan untuk menyerang, sementara bangau diam di tengah dan berputar-putar untuk menghadapi rubah. Setiap kali rubah menyerang dengan cakarnya, bangau menghalau dengan sayapnya dan pada saat yang sama balik menyerang dengan paruhnya. Rubah tersebut memanfaatkan kelincahannya untuk menghindar dan menyerang tiba-tiba dengan cakarnya. Demikian perkelahian ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama hingga Ng Mui mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan teknik pertarungan baru. Siapa di antara bangau dan rubah yang menjadi pemenang tidaklah penting. Ng Mui berkonsentrasi untuk menyesuaikan gerakan cakar rubah dan sayap bangau menjadi gerakan manusia. Ia berhasil menciptakan satu set gerakan tempur yang tetap mempertahankan gerakan rubah dan bangau tetapi sesuai dengan gerakan manusia.

Gerakan kung fu Shao Lin yang menitik beratkan pada suatu pola tetap, terlalu rumit untuk Ng Mui. Dalam teknik barunya ini ia menitikberatkan pada kesederhanaan gerak dan keanekaragaman kegunaan. Hal ini cukup menyimpang dari teknik-teknik Shao Lin. Dengan kata lain, dari sepuluh set atau lebih gerakan Shao Lin, satu dan lainnya hanya berbeda sedikit, hanya akan memberikan latihan stereotip bagi para anak didik. Sistem baru ciptan Ng Mui ini terdiri dari beberapa gerakan sederhana yang digabungkan, dan setelah mengalami beberapa perbaikan dan penyempurnaan, dibagi menjadi tiga jurus dan satu set gerakan berlatih menggunakan “orang-orangan kayu”. Terlebih lagi dalam gaya Shao Lin, banyak gerakan yang memiliki pose menarik dan nama yang indah, seperti “Tarian Naga dan Pheonix”, “Tongkat Master Tao”, dan “Singa Keluar Dari Gua”, tetapi dalam pertempuran yang sesungguhnya tidak dapat diprektekkan. Kebalikannya, dalam teknik baru ini, setiap gerakan adalah gerakan tempur yang sesungguhnya dan sangat praktis. Sudah tidak ada lagi gerakan-gerakan dan pose-pose indah yang hanya berguna untuk menarik perhatian. Gerakan-gerakan ini memiliki nama-nama yang sesuai dengan kegunaan dan bentuk gerakannya, seperti “Telapak Tangan Menghadap Ke Atas”, sebuah nama yang sangat jelas menunjukkan gerak tangan yang diwakilinya.

Perbedaan lainnya adalah dalam teknik Shao Lin terlalu banyak menekankan latihan fisik. Seorang murid harus berlatih kuda-kuda yang kuat selama dua atau tiga tahun sebelum ia dapat melanjutkan pelajaran. Dalam teknik barunya, Ng Mui lebih menekankan penggunaan metode dalam mengalahkan musuh daripada dengan menggunakan kekuatan. Memang dalam metode ini perlu juga melatih kekuatan, tetapi dalam pertempuran yang sesungguhnya, yang terpenting adalah menerapkan metode yang tepat untuk masing-masing keadaan, dan juga untuk masing-masing lawan. Untuk keperluan ini, para pengikut akan dibekali dengan beragam teknik gerakan tangan, kuda-kuda, dan gerak langkah yang fleksibel. Dengan kata lain, dalam pertempuran yang sesungguhnya, gaya Shao Lin akan menggunakan gerakan tangan dan kuda-kuda lebar, sementara teknik baru ini akan menggunakan langkah kaki yang mengejar dan teknik bertempur jarak dekat. Dalam gaya Shaolin, kuda-kuda yang paling sering digunakan adalah “kaki depan sebagai busur dan kaki belakang sebagai anak panah” atau disebut juga kuda-kuda depan, sementara dalam teknik baru ini menggunakan kuda-kuda “kaki depan sebagai anak panah dan kaki belakang sebagai busur” atau disebut juga kuda-kuda belakang. Kuda-kuda belakang ini memungkinkan diterapkannya teknik “tendangan menghujam ke depan” yang cepat untuk menyerang tempurung lutut orang-orang yang menggunakan kuda-kuda depan, dan dapat mundur dengan cepat, jika kaki depannya sendiri diserang.Teknik baru ini akhirnya membuktikan ketidakefektifan gaya-gaya lebar Shao Lin.
Yim Wing Chun Yang Jelita

Nona Yim Wing Chun adalah penduduk asli propinsi Kwang Tung. Setelah ibunya meninggal, ia tinggal berdua dengan ayahnya, Yim Yee. Sejak kecil ia telah dijodohkan dengan Leung Bok Chao, seorang pedagang garam dari propinsi Fu Kien (Hok Kian). Sebagai murid Shao Lin, Yim Yee berusaha menggunakan kung fu-nya untuk menegakkan keadilan. Dengan demikian ia sering terlibat dalam urusan pengadilan. Agar tak ditangkap, ia mengajak anak perempuannya melarikan diri ke perbatasan antara propinsi Yunnan dan Sze Chuan dan menetap di kaki gunung Tai Leung. Mereka hidup dari hasil penjualan tahu di pasar. Yim Wing Chun tumbuh menjadi seorang gadis lincah, dan cantik. Keatraktifannya ini akan mengakibatkan masalah di kemudian hari.

Ada seorang preman lokal bermarga Wong yang terkenal bertabiat buruk. Karena kemampuan kung fu-nya dan juga karena tangan hukum begitu lemahnya di daerah terpencil ini, ia ditakuti oleh penduduk setempat. Karena tertarik dengan kecantikan Yim Wing Chun, ia mengirimkan perantara untuk melamar gadis ini, dengan ancaman jika ditolak, ia akan memaksa Wing Chun menikahinya. Ayah Wing Chun sudah tua dan Wing Chun sendiri adalah gadis yang lemah. Oleh karena itu mereka sangat khawatir dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Sementara itu, Pendeta Wanita Ng Mui, yang tinggal dekat desa ini, sering mengunjungi pasar desa. Setiap kali ia lewat di kios tahu Yim Yee, ia selalu mampir dan berbelanja. Dengan demikian, mereka menjadi saling mengenal. Suatu hari, saat ia berbelanja, ia memperhatikan ada sesuatu yang tidak biasa pada ekspresi ayah dan anak ini. Ketika ditanyakan, mereka menceritakan masalah tersebut kepada Ng Mui. Pengakuan ini membangkitkan kembali rasa keadilan dalam diri Ng Mui yang sudah lama dipendam. Ia memutuskan untuk membantu Yim Wing Chun, tetapi tidak dengan melawan Wong, suatu hal yang pasti dilakukannya sebelum mengundurkan diri. Alasannya adalah bahwa ia tidak ingin menunjukkan identitas aslinya sebagai pendekar Shao Lin, dan juga karena tidak layak baginya, sebagai seorang ahli bela diri terkenal dari Shao Lin, bertarung melawan preman tak ternama dari sebuah desa terpencil. Ia memutuskan untuk mengajari teknik bela diri ciptaannya kepada Yim Wing Chun. Bagi Wing Chun sendiri, ilmu bela diri bukan sesuatu yang aneh, karena ayahnya adalah murid Shao Lin. Selama ini Wing Chun merasa belum perlu mempelajari ilmu ayahnya. Kini dengan panduan Ng Mui, sang master wanita dari Shao Lin, dan juga karena kepandaian dan kerja kerasnya, ia berhasil menguasai teknik ini dalam waktu tiga tahun.

Pada suatu hari Ng Mui memberitahu bahwa Wing Chun sudah menguasai semua teknik-teknik ciptaannya dan diperbolehkan kembali ke rumah ayahnya dan menyelesaikan masalah dengan Wong. Sekembalinya ia ke rumah ayahnya, preman tersebut mulai menggodanya lagi. Kali ini Wing Chun menantangnya berkelahi. Wong terkejut, tetapi menerima tantangan ini. Ia sangat yakin dapat mengalahkan Wing Chun dan menikahinya, tetapi dalam pertarungan tersebut ia dikalahkan oleh Wing Chun. Sejak saat itu, Wong tak berani lagi mengganggu Wing Chun. Setelah peristiwa ini, Wing Chun terus berlatih teknik ini, tetapi Ng Mui merasa kehidupan di kaki gunung Tai Leung terlalu monoton dan pergi berkelana. Ia berpesan pada Wing Chun untuk menjaga peraturan Shao Lin dan berhati-hati dalam meneruskan teknik ini agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tak pantas.
Lanjut Ke Sejarah Wing Chun Kuen Halaman 2

Kembali ke halaman utama


Catatan:

  1. Menurut kisah yang diceritakan oleh Grandmaster Yip Man, peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Kaisar Kang Hsi, sekitar 50 tahun sebelum Yung Cheng. Tetapi menurut fakta-fakta sejarah, lebih tepat jika peristiwa ini terjadi pada jaman pemerintahan Kaisar Yung Cheng. Kembali ke teks
  2. Suatu gerakan perlawanan terhadap penjajahan Manchuria yang bersemboyan “Jatuhkan Dinasti Ching Dan Bangkitkan Kembali Dinasti Ming (Pan Ching Fu Ming)”. Gerakan ini adalah cikal bakal dari organisasi Mafia Cina TRIAD yang ada sekarang. Kembali ke teks
  3. Ada dua versi mengenai kelima master yang selamat dari kebakaran ini. Versi Martial Arts Circle dan versi TRIAD. Dalam versi TRIAD mereka yang selamat adalah: Choy Tak Thung, Fong Tai Hung, Wu Tak Tei, Ma Chiu Hing, dan Li Sik Hoy. Mereka semuanya adalah pria. Versi yang dipakai dalam cerita ini adalah versi Martial Arts Circle. Kembali ke teks
  4. Hung Hei Kwun adalah pendiri aliran Hung Gar Kung Fu (Hung Kuen), dan Fong Sai Yuk adalah pendiri aliran Five Pattern Hung Kuen. Kembali ke teks
  5. Perahu merah adalah perahu jung Cina berdasar rata yang dipakai sebagai alat transportasi oleh rombongan teater Opera Cina atau Opera Kanton. Perahu ini dicat merah seluruhnya dan diberi banyak hiasan. Kembali ke teks
  6. Hamparan bunga plum adalah patok-patok kayu setinggi manusia (sekitar 1,6 meter) yang ditanam di tanah. Jika dilihat dari atas, patok-patok ini akan tampak seperti kelopak bunga plum. Di antara patok-patok tersebut ditanam pisau-pisau dengan ujung tajam mengarah ke atas. Kembali ke teks
  7. Bodhidharma adalah seorang pendeta Budha yang datang dari India pada jaman Dinasti Liang (503-557). Ia mengembangkan aliran Zen Buddhisme di Cina dan dipercaya sebagai pencipta kung fu Shao Lin. Tetapi menurut penelitian, kung fu sudah terdapat di Cina sejak jaman kaisar Huang Ti (2698 Sebelum Masehi). Kembali ke teks

A3) Sejarah Beladiri Tifan

Thifan

Artikel ini tidak memiliki referensi atau pranala luar ke sumber-sumber terpercaya yang dapat menyatakan kelayakan dari subyek yang dibahas.
Artikel ini akan dihapus pada 1 November 2010 jika tidak diperbaiki.
Untuk pemulai artikel ini, jika Anda mempertentangkan nominasi penghapusan ini, jangan menghapus peringatan ini. Silakan hubungi sang pengusul, hubungi seorang pengurus, atau pasang tag {{tunggu dulu}}

Thifan adalah nama suatu daerah di Negeri Turkistan Timur, daerah jajahan China yang kemudian diganti namanya menjadi Sin Kiang, yang artinya Negeri Baru (Lihat Turkistan: Negeri Islam Yang Hilang, DR. Najib Kailany). Namun kalau kita simak dalam peta dunia, yang akan kita temukan adalah nama Turfan, daerah otonomi yang termasuk dalam wilayah China Utara.

Turkistan Barat dijajah oleh Rusia yang memasukkannya ke dalam wilayah Uni Sovyet. Sebelum Islam datang ke daerah ini, beberapa suku asli seperti Tayli, Kimak, Doghan, Oirat, Kitan, Mongol, Naiman, dan Kati telah memiliki sejenis ilmu beladiri purba berbentuk gumulan, sepak tinju dan permainan senjata yang dinamakan “kagrul”, yang dipadukan dengan pengaturan napas Kampa.

Dakwah Islam mulai disebarkan di Turkistan kira-kira pada dua abad setelah hijriah, sebagaimana tertulis dalam Kitab Zhodam :

“Maka tatkala sampailah dua abad lepas hijrah orang-orang sempadan tanah China arah utara itu masuk Islam. Lalu ilmu pembelaan diri masa mereka memeluk Budha itu dibawanya pula dalam alam Islam, tetapi ditinggalkannya segala upacara yang bersangkut paut dengan kebudhaannya seumpama segala penyembahan, cara bersalam dengan mengatupkan kedua belah tangan, lambang-lambang, dan segala istilah.”(ZHODAM, Syiharani, halaman 9).

Menurut M. Rafiq Khan dalam bukunya “Islam di Tiongkok”, mengatakan sebagai berikut :

“Orang Muslim pertama yang datang di Tiongkok ialah dalam zaman pemerintahan Tai Tsung, kaisar kedua dari dinasti Tang (627-650 Masehi). Jumlah mereka ada empat orang, seorang berkedudukan di Kanton, yang kedua di kota Yang Chow, yang ketiga dan yang keempat berdiam di kota Chuang Chow. Orang yang mula-mula mengajarkan Islam ialah Saad bin Abi Waqqas, yang meletakkan batu-batu pertama mesjid Kanton yang terkenal sekarang sebagai Wai-Shin-Zi, yaitu Mesjid untuk kenang-kenangan kepada Nabi”

Dituliskannya pula bahwa selama Pemerintahan Tai Chong (Kaisar ke-2 dari Dinasti Tsung tahun 960-1279 Masehi) Tiongkok diserbu oleh penguasa Muslim dari Kashgharia, yaitu Baghra Khan beserta pasukannya, lalu menduduki Sin Kiang (Simak : Islam di Tiongkok; M. Rafiq Khan dan Sejarah Da’wah Islam; Thomas W. Arnold).

Hal ini disepakati oleh seorang China ahli sejarah terkenal yang bernama Prof. Chin Yuan menyatakan bahwa orang-orang Islam mengirimkan utusan-utusan mereka ke Tiongkok dalam tahun 651, utusan-utusan itu bertemu dengan Kaisar Tiongkok di Changan (Sianfu), ibukota Tiongkok pada waktu itu. Pada tahun 713 M. perbatasan barat Tiongkok dikuasai oleh seorang jenderal Arab yang terkenal bernama Qutaiba bin Muslim, pada waktu itu ia telah menaklukkan daerah yang luas di Asia Tengah dan namanya sangat ditakuti.

Dari uraian di atas dapat dilihat bagaimana hubungan atau interaksi antara dakwah Islam dengan tumbuhnya berbagai macam beladiri di kawasan China, sehingga terjadi pula Islamisasi beladiri. Sesuai dengan bahasa Urwun yang merupakan bahasa asalnya, Thifan Po khan berarti “Kepalan Tangan Bangsawan Thifan”. Beladiri ini mempunyai riwayat tersendiri yang khas sebagaimana diceritakan dalam kitab yang bernama Zhodam.

Pada awalnya ada sejenis cara pembelaan diri purba berbentuk gumulan, sepak tinju dan permainan senjata yang disebut Kagrul, bercampur Kumfu China Purba. Tersebutlah seorang pendeta Budha bernama Ponitorm/Tamo Sozhu/Tatmo/Darma Taishi yang berasal dari Hindustan, ia mengembara ke China untuk menyebarkan ajarannya.

Dalam pengembaraannya sampailah ia ke kawasan Liang yang diperintah oleh Raja Wu, karena terkena fitnah ia melarikan diri dan sampai di Bukit Kao, di sana ia merenung selama 9 tahun. Menyadari murid-muridnya sering mendapat gangguan, baik dari binatang buas, manusia, atau penyakit yang mengakibatkan kurang lancarnya misi penyebaran agama Budha, maka ia pun menyusun suatu rangkaian gerak pembelaan diri seperti tersebut di atas.

Campuran Kumfu China Purba dengan Kampahana Tinju Hindustan yang diatur dengan jalan pernapasan Yoga Dahtayana membentuk Shourim Kumfu/Shaolin Kungfu di wihara-wihara. Pengkajian beladiri ini disusun dalam Kitab I Zen Zang serta ilmu batinnya dalam Kitab Hzen Souzen. Sampai di sini ada kesamaan sejarah dengan beladiri lain seperti Shorinji Kempo, Karate, dan lain-lain, yang masih satu sumber.

Aliran Shourim terus berkembang ke arah utara China dan memasuki daerah orang Lama (Tibet) dan orang Wigu (Turkistan). Di sana aliran Shourim ini pun pecah menjadi berpuluh-puluh cabang. Setiap cabang pun berkembang dan terpengaruh alam tempat pertumbuhan aliran tersebut. Pecahnya Shourim menjadi berbagai macam aliran ini disebabkan Dinasti yang berkuasa tidak menyukai orang Shourim.

Tersebutlah seorang bangsawan bernama Je’nan dari Suku Tayli yang pandai ilmu Syara dan terkenal sebagai ahund (ustadz atau guru) muda. Je’nan menghimpun ilmu-ilmu beladiri itu dan ia pun berguru pada pendekar Namsuit serta orang-orang Wigu. Bersama para pendekar Muslim lain yang memiliki keahlian ilmu Gulat Mogul, Tatar, Saldsyuk, Silat Kitan, Tayli, mereka pun membentuk sebuah aliran bernama Shurul Khan (siasat para raja/bangsawan). Dari Shurul Khan inilah terbentuk sembilan aliran, aliran-aliran ini kemudian digubah, ditambah, ditempa, dialurkan, lalu dipilah, diteliti dan dikaji sebagai cikal bakal munculnya Thifan Po Khan. Pada masa itu pengaruh ajaran Islam sudah masuk ke dalam beladiri ini.
Perkembangan di Indonesia

Pada masa Sultan Malik Muzafar Syah dari Kerajaan Lamuri yang hidup sekitar abad ke-16 didatangkan pelatih-pelatih dari Turki Timur yang kemudian disebarkan ke kalangan para bangsawan di Sumatera (dapat dilihat dalam Kisah Raja-raja Lamuri/Raja Pasai).

Pada abad ke-18 Tuanku Rao dan kawan-kawan mengembangkan ilmu ini ke daerah-daerah Tapanuli Selatan dan Minang, hingga tersebar ke Sumatera bagian Timur dan Riau yang berpusat di Batang Uyun/Merbau. Kemudian, sekitar tahun 1900-an ilmu ini dibawa oleh Tuanku Haji (Hang) Uding yang menyebarkannya ke daerah Betawi dan sekitarnya.

Beladiri khas ini pun disebarkan oleh orang-orang Tartar ke pulau Jawa sambil berdagang kain. Sedangkan di luar pulau Jawa lainnya ilmu beladiri ini disebarkan oleh pendekar-pendekar lainnya sampai ke Malaysia dan Thailand Selatan (Patani).

Masuknya Thifan ke pulau Jawa ada yang langsung dan tidak langsung. Khususnya di Jawa Barat, Thifan Po Khan dikembangkan/diteruskan oleh aliran Tsufuk atas bimbingan Ustadz A.D. El Marzdedeq.

Perlu diketahui, bahwa aliran Tsufuk ini muncul ketika masuknya Thifan Po Khan ke Indonesia dengan sistem pengajaran dalam bentuk yang tidak baku, disebabkan penyebarannya masih terbatas.

Karena besarnya animo kaum muslimin untuk mempelajari beladiri Thifan Po Khan, maka aliran Tsufuk membentuk sistem pengajaran yang baku tanpa meninggalkan kaidah-kaidah Thifan Po Khan yang benar.

Demikianlah sedikit uraian singkat tentang beladiri Shurul Khan Nie Thifan Po Khan, penulis merasa uraian ini masih banyak kekurangannya, walaupun demikian ada hal lain yang lebih pokok adalah bahwa tulisan ini merupakan informasi tambahan wawasan bagi kaum muslimin di seluruh penjuru tanah air.

A4) Sejarah Beladiri Wing Tsun

Wing Tsun

Wing Tsun adalah sejenis seni bela diri yang merupakan salah satu cabang kung fu yang dikembangkan oleh murid Guru Yip Man bernama Leung Ting. Bela diri ini turut menjadi populer karena juga dipelajari aktor bela diri terkenal, Bruce Lee.

A5) Sejarah Beladiri Poomse Tae Geuk

Poomse Tae Geuk
4:56 AM Koguryo Taekwondo Surakarta

Poomse merupakan intisari gerakan dasar Tae Kwon Do. Poomse terdiri atas 2 kata yaitu Poom dan Se yang berarti rangkain bentuk gerakan. Poomse merupakan pelajaran pokok dalam Tae Kwon Do yang dibagi menjadi dua yaitu :

1. Poomse yang belum mencapai tingkatan sabuk hitam yaitu Tae Geuk 1 sampai dengan Tae Guk 8.
2. Poomse untuk tingkatan sabuk hitam yaitu Kor Yo (Dan 1), Keum Gang (Dan 2), Tae Back (Dan 3), Pyon Won (Dan 4), Ship Jin (Dan 4, Dan 5), Ji Tae (Dan 5, Dan 6), Chun Kwon (Dan 6), Han Soo (Dan 7), IL Yeo (Dan 8).

Dalam mempelajari Tae Geuk harus mengikuti dan mengetahui diagram dan arah gerakannya yang berasal dari simbol-simbol filosofi timur yang disebut Pal Gwe (diagram segi delapan / Pat Kwa / Octagon).

Poomse Tae Geuk adalah poomse dasar dalam Tae Kwon Do. Tae berarti keagungan dan Geuk berarti keabadian, dengan demikian dapat disimpulkan tae geuk tidak berbentuk, tanpa permulaan dan akhir, segala sesuatu berawal dari keagungan dan keabadian. Tae Geuk mengikuti hokum alam ang disebut dengan Teori Ying Yang (Im yang) atau di Korea dikenal dengan nama Um Yang.

Arti pada setiap tingkatan Tae Geuk Poomse adalah sebagai berikut:

1. Tae Geuk 1 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Keon dari Pal Gwe. Melambangkan sesuatu yang besar dan maha agung yang menjadi asal dari segala sesuatu. Keon merupakan permulaan segala sesuatu yang ada di bumi dan menjadi sumber penciptaan serta kekuatan yang berasal dari langit. Langit pula yang memberikan cahaya matahari dan hujan yang membuat segala sesuatu tetap tumbuh dan hidup. Tae Geuk 1 bersifat sederhana namun dilakukan dengan penuh kekuatan dan menampakkan keperkasaan sesuai wataknya.
2. Tae Geuk 2 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Tae dari Pal Gwe. Melambangkan keteguhan hati dan kelemahlembutan. Dalam Tae batin seseorang tetap teguh namun gayanya tampak lemah lembut mengatasi keadaan dengan senyuman dan kebajikan. Tae Geuk 2 ini harus dilakukan dengan lemah lembut namun penuh kekuatan.
3. Tae Geuk 3 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Ri dari Pal Gwe. Melambangkan matahari dan api yang memberikan cahaya, kehangatan dan harapan. Tae Geuk 3 harus dilakukan dengan penuh semangat dan daya yang variatif.
4. Tae Geuk 4 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Jin dari Pal Gwe. Melambangkan guntur dan kilat yang menimbulkan panic dan ketakutan namun langit yang biru dan sinar matahari yang cerah akan muncul kembali. Prinsip ini menyarankan pada kita bahwa dalam menghadapi bahaya dan ketakutan seharusnya kita bersikap tenang dan berani, karena kita yakin bahwa setelah bahaya lewat akan ada masa yang cerah. Tae Geuk 4 ada beberapa gerakan yang sulit dan memerlukan ketenangan serta keseimbangan yang baik saat melaksanakannya.
5. Tae Geuk 5 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Seon dari Pal Gwe. Melambangkan angina yang pembawaan aslinya halus dan menghembus sepoi-sepoi namun dapat menjadi dasyat seperti badai. Melambangakn sifat kerendahan dan kebaikan hati yang harus dilakukan terus menerus seperti angina yang selalu berhembus. Tae Geuk ini terlihat gerakan yang berulang-ulang, monoton namun sesekali menyentak dengan kuat.
6. Tae Geuk 6 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Gam dari Pal Gwe. Melambangkan air yang merupakan elemen paling fleksibel, bentuknya berubah-ubah namun tidak berubah pada hakekatnya. Yang memberikan pengertian bahwa berbagai kesulitan dan penderitaan yang kita alami dapat diatasi jika kita tetap maju dan berbekal rasa percaya diri yang kuat.
7. Tae Geuk 7 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Gan dari Pal Gwe. Melambangkan gunung yang menjadi symbol kestabilan karena dianggap tidak pernah bergerak dan puncaknya mengingatkan kita untuk tahu kapan kita harus bertindak dan kapan saatnya berhenti. Mengajarkan agar kita bertindak tidak gegabah. Tae Geuk 7 ini dilakukan dengan penuh ketenangan, namun tetap terlihat kokoh dan mantap.
8. Tae Geuk 8 : serangkaian aksi yang menerapkan prinsip Gon dari Pal Gwe. Melambangkan bumi yang kokoh, kuat dan bertenaga. Bumi merupakan sumber kehidupan dimana segala mahluk hidup dan tumbuh. Bumi dianggap sebagai ciptaan kekuatan dari langit. Tae Geuk 8 merupakan tae geuk terakhir, yang diharapkan dapat memperbaiki dan memperkokoh dasar kita sebelum mencapai tingkatan Dan.

A6) Sejarah Bela Diri Tarung Derajat

Sejarah Tarung Derajat !

Tarung Derajat

Drs. H. Achmad Dradjat

Berawal dari pengalaman yang tidak menyenangkan dan perjuangan hidup yang keras, AA Boxer panggilan akrab dari Drs. Achmad Drajat selalu mencoba untuk mempertahankan diri dari segala bentuk perkelahian yang kerap dialaminya pada masa muda dahulu. Memang menurutnya pada tahun 1960 an, di lingkungan tempat tinggalnya, AA Boxer sering mendapat tekanan-tekanan yang pada akhirnya terjadi bentrokan secara fisik. Tempat tinggalnya yang terbilang rawan pada masa itu, selalu menjadi tempat perkelahian antar kelompok, bahkan dirinya menjadi ikut terlibat, bukan AA Boxer yang memulai, tetapi timbul dari keadaan yang terpaksa.

Pengalaman hidup yang selalu tidak menyenangkan ini telah membekas pada dirinya. “Dari bosan kalah itulah timbul niat untuk menciptakan beladiri”, Akhirnya ia mencoba menciptakan teknik-teknik beladiri yang praktis untuk dapat mengangkat kembali kehormatan dirinya agar tidak selalu menjadi bulan-bulanan lawannya yang bertubuh besar. Setelah ditelaah ternyata dalam perkelahian yang selalu dialaminya, ia menemukan 4 unsur gerakan, yaitu memukul, menendang, menangkis/mengelak dan membanting. Dalam benaknya timbul, “Kalau ingin menang dalam berkelahi harus mempunyai cara untuk memukul, menendang, menangkis/mengelak, dan membanting sendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain”. Dari sini diproses, karena pada dasarnya tangan dapat digerakkan secara alamiah sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya. Semangat dan ketekunan telah membentuk dirinya menjadi mahir untuk membela diri. Kematangan dalam beladiri semakin bertambah tatkala ada orang yang dengan sengaja ingin mencoba dan mengajak beradu fisik. Bahkan memberanikan diri untuk melindungi orang yang merasa tertindas atau disakiti oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Sejak itu, beberapa pemuda berdatangan ingin mempelajari ilmu beladiri yang dimilikinya. Pada saat inilah panggilan dan julukan AA BOXER mulai melekat pada dirinya. Awalnya, AA Boxer tidak berkeinginan untuk mengajari orang untuk beladiri. Ia menciptakan beladiri hanya untuk dirinya sendiri dan tidak mempunyai jurus/gerakan yang baku, tetapi karena beberapa orang tetap memaksa untuk diajarkan beladiri, mulailah mereka diberikan pelajaran ilmu beladiri hasil jerih payahnya. Ini terjadi pada tahun 1968 yang pada saat itu, AA Boxer baru berusia 18 tahun.

Dari beberapa orang, kemudian menyebar dan tumbuh cukup pesat, seperti bola es yang menggelinding makin lama makin besar. Timbul pemikiran untuk membentuk suatu wadah perkumpulan yang mempunyai nama, lahirlah beladiri itu secara ilmiah dari nama panggilan sehari-hari, AA BOXER. Tepatnya tahun 1972, beladiri yang diciptakannya kini sudah memiliki nama. Perjalanan mengajar dan melatih, tumbuh berkembang sampai timbul permintaan untuk mengajar di daerah lain. Renungan dari pengalaman hidup yang diderita dan dijalaninya dengan penuh kesabaran dan tawakal telah menjadikan dirinya tegar dan menumbuhkan rasa percaya diri serta menanamkan keyakinan yang semakin mantap. Perlahan-lahan ditata dan ditinjau kembali teknik dan gerakan yang sudah diciptakan, sehingga kian hari beladiri yang lahir secara alamiah ini mulai menemukan bentuknya. Teknik-teknik yang diyakininya sudah baik mulai dibakukan. Konsepnya untuk menciptakan beladiri yang praktis dan efektif sudah semakin nampak jelas. Semuanya diilhami dari 4 unsur gerakan perkelahian, yaitu memukul, menendang, menangkis/mengelak, dan membanting. Menurutnya, sudah kodrat-Nya gerakan-gerakan fisik tersebut ada pada setiap insan manusia yang mutlak bukan milik dari suatu aliran ilmu beladiri lain.

Kedewasaannya yang ikut terbina dengan baik telah membentuk dirinya untuk selalu berfikir positif, nama perkumpulan beladiri AA Boxer terkesan berbau asing dan juga seakan bertentangan dengan idealisme bangsa Indonesia. Menurutnya, beladiri yang telah diciptakan lahir di bumi Indonesia, karena itu nama perkumpulan beladirinyapun harus berasal dari bahasa Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan keinginannya untuk mendaftarkan olahraga beladiri ini masuk menjadi anggota KONI. Akhirnya berubahlah nama perkumpulan beladirinya menjadi TARUNG DRAJAT. Ini diambil dari kata TARUNG yang artinya perkelahian, perjuangan untuk membela diri, sedangkan kata DRAJAT diambil dari namanya Achmad Drajat. Jadi, arti TARUNG DRAJAT adalah cara berjuang mempertahankan diri ala Achmad Drajat.

Pengetahuan fisik dan batin yang juga ikut dipupuk merasa dirinya seolah berkesan dikultus dari namanya. “Kalau kita memakai nama langsung, kita seolah-olah memiliki suatu hal yang sombong atau takabur, jadi nanti akan ada suatu pengkultusan, kita tidak mau dikultuskan oleh anggota”, demikian ujarnya ketika menceritakan perubahan TARUNG DRAJAT menjadi TARUNG DERAJAT. Artinya pun berubah menjadi Berjuang mempertahankan diri untuk mencapai suatu tingkat atau kehormatan, karena DERAJAT itu sendiri mempunyai arti tingkat atau kehormatan.

Hasil usaha dan perjuangan yang sebelumnya tidak pernah disangka akan menjadi seperti ini akhirnya tumbuh dan berkembang. Apalagi setelah masuk menjadi anggota KONI pada tahun 1998. Ditunjang oleh semangat dari murid-muridnya, Keluarga Olahraga Tarung Derajat atau yang lebih dikenal dengan KODRAT telah menyebar di 20 propinsi di Indonesia, dan juga sampai ke negara-negara lain khususnya Asia Tenggara. Beladiri yang diciptakan ini memang murni hanya melatih beladiri secara fisik saja, tidak ada unsur lain. Gerakan teknik beladiri yang praktis dan efektif yang dikembangkan ini tidak pernah secara khusus untuk bisa beladiri dengan senjata. Walaupun demikian diajarkan juga cara untuk menghadapi lawan yang menggunakan senjata. “Apakah dapat dikatakan insan beladiri, jika ada orang yang membawa senjata yang bukan bagian dari tugasnya ?”, begitulah prinsipnya, “Sebab insan beladiri adalah orang yang ingin menciptakan hidup tenang dan selamat” , tambahnya lagi.

Beladiri Alamiah

“Tarung Derajat murni hanya mengolah fisik saja !”, tegasnya. Diakuinya, memang tidak ada unsur mistik yang digunakan untuk menambah kekuatan. Berlatih fisik secara rutin dengan suatu teknik yang sudah diramu dan disesuaikan dengan teknik beladiri ciptaannya, namun tidak bertujuan untuk membentuk badan seperti atlet binaraga. Berlatih fisik untuk beladiri berarti juga berlatih napas, dan ini terjadi secara alamiah, tidak ada latihan pernapasan secara khusus. Memang dianjurkan kepada para anggotanya untuk selalu menyempatkan diri berlatih fisik dan teknik setiap hari selama 1 sampai 2 jam. Karena menurutnya untuk membentuk fisik menjadi kuat, otot dan daging menjadi pejal memerlukan latihan yang keras, disiplin yang tinggi dan dilakukan terus-menerus, sehingga diharapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kekuatan dan percaya diri menjadi meningkat.

Kejadian pada masa perkelahian dahulu telah melahirkan teknik beladiri yang terbentuk secara alamiah. Gerakan tangan, kaki, dan juga anggota tubuh lainnya bersumber dari gerakan-gerakan yang biasa dan alamiah dilakukan oleh setiap orang, namun diasah lagi dengan kemasan teknik beladiri berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang pernah dialaminya. Hingga terbentuklah beladiri Tarung Derajat dengan teknik beladiri yang praktis dan efektif. “Yang namanya praktis adalah tidak neko-neko”, tuturnya. Menurutnya lagi, tidak ada latihan untuk menahan napas, atau belajar agar menjadi kuat terhadap air raksa atau juga harus kuat terhadap pukulan besi, “Kalau orang lain bisa, harus kita akui”, begitu komentarnya dengan tetap menghargai yang lain.

Setiap anggota Tarung Derajat sudah biasa terdidik secara keras, dengan porsi latihan yang keras, targetnya adalah untuk mencapai dan membentuk anggotanya mempunyai kelembutan hati nurani. Dengan menjadi petarung, perilaku hidup akan menjadi terkendali. “Tidak boleh anggota Tarung Derajat melakukan tindakan yang berlebihan, karena akan mendapat hukuman yang berat”, tegasnya ketika mengakhiri pembicaraan.

A7) Sejarah Bela Diri Benjang


SEJARAH SINGKAT DAN PERKEMBANGAN SENI BELADIRI BENJANG

Juli 19, 2007

Ada suatu keistimewaan dalam permainan banjang, disamping mempunyai teknik-teknik kuncian yang mematikan, benjang mempunyai teknik yang unik dan cerdik atau pada keadaan tertentu bisa juga dikatakan licik dalam hal seni beladiri, misalnya dalam teknik mulung yaitu apabila lawan akan dijatuhkan ke bawah, maka ketika posisinya di atas, lawan yang di angkat tadi dengan cepat merubah posisinya dengan cara ngabeulit kaki lawan memancing agar yang menjatuhkan mengikuti arah yang akan dijatuhkan, sehingga yang mengangkat posisinya terbalik menjadi di bawah setelah itu langsung yang diangkat tadi mengunci lawannya sampai tidak berkutik.

Menurut pendapat salah seorang sesepuh benjang yang tinggal di Desa Cibolerang Cinunuk Bandung, bahwa nama benjang sudah di kenal oleh masyarakat sejak tahun 1820, tokoh benjang yang terkenal saat itu, antara lain H. Hayat dan Wiranta. Kemudian ia menjelaskan mengenai asal-usul benjang adalah dari desa Ciwaru Ujungberung, ada juga yang menyebutkan dari Cibolerang Cinunuk, ternyata kedua daerah ini sampai sekarang merupakan tempat berkumpulnya tokoh-tokoh benjang, mereka berusaha mempertahankan agar benjang tetap ada dan lestari, tokoh benjang saat ini yang masih ada, antara lain Adung, Adang, Ujang Rukman, Nadi, Emun, dan masih ada lagi tokoh yang lainnya yang belum sempat penulis catat.

Seperti kita ketahui bahwa negara kita yang tercinta ini kaya dengan seni budaya daerah. Ini terbukti masing-masing daerah memiliki kesenian tersendiri (khas), seperti benjang adalah salah satu seni budaya tradisional Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Bandung dan ternyata di daerah lainpun ada seni budaya tradisional semacam benjang, seperti di daerah Aceh disebut Gedou – gedou, di daerah Tapanuli (Sumut) disebut Marsurangut, di daerah Rembang disebut Atol, di daerah Jawa Timur disebut Patol, di daerah Banjarmasin disebut Bahempas, di daerah Bugis/Sulsel disebut Sirroto, dan di daerah Jawa Barat disebut Benjang.

Benjang merupakan suatu bentuk permainan tradisional yang tergolong jenis pertunjukan rakyat. Permainan tersebut berkembang (hidup) di sekitar Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, dan Cinunuk yang mulanya kesenian ini berasal dari pondok pesantren, yaitu sejenis kesenian tradisional yang bernapaskan keagamaan (Islam), dihubungkan dengan religi, benjang dapat dipakai sebagai media atau alat untuk mendekatkan diri dengan Kholiqnya sebab sebelum pertunjukan, pemain benjang selalu melaksanakan tatacara dengan membaca do’a – do’a agar dalam pertunjukan benjang tersebut selamat tidak ada gangguan. Adapun alat yang digunakan dalam benjang terdiri dari Terbang, Gendang (kendang), Pingprung, Kempring, Kempul, Kecrek, Terompet (Tarompet), dan dilengkapi pula dengan bedug dan lagu sunda.

Dari pondok pesantren, kesenian ini menyebar ke masyarakat biasanya di masyarakat diselenggarakan dalam rangka memperingati upacara 40 hari kelahiran bayi, syukuran panen padi, maulid nabi, upacara khitanan, perkawinan, dan hiburan lainnya, dan dapat pula mengiringi gerak untuk dipertontonkan yang disebut “DOGONG”.

Dogong adalah suatu permainan saling mendorong dengan mempergunakan alu (kayu alat penumbuk padi). Dari Dogong berkembang menjadi “SEREDAN” yang mempunyai arti permainan saling mendesak tanpa alat, yang kalah dikeluarkan dari arena (lapangan); kemudian dari Seredan berubah menjadi adu mundur, ini masih saling mendesak untuk mendesak lawan dari dalam arena permainan tanpa alat, memdorong lawan dengan pundak, tidak diperkenankan menggunakan tangan, karena dalam permainan ini pelanggaran sering terjadi terutama bila pemain hampir terdesak keluar arena. Dengan seringnya pelanggaran dilakukan maka permainan adu mundur digantikan oleh permainan adu munding.

Permainan benjang sebenarnya merupakan perkembangan dari adu munding atau adu kerbau yang lebih mengarah kepada permainan gulat dengan gerakan menghimpit lawan (piting). Sedangkan pada adu munding tidak menyerat – menyerat lawan keluar arena melainkan mendorong dengan cara membungkuk (merangkak) mendesak lawan dengan kepalanya seperti munding (kerbau) bertarung. Namun gerakan adu mundur, maupun adu munding tetap menjadi gaya seseorang dalam permainan benjang. Permainan adu munding dengan menggunakan kepala untuk mendesak lawan, dirasakan sangat berbahaya, sekarang gaya itu jarang dipakai dalam pertunjukan benjang. Peserta permainan benjang sampai saat ini baru dimainkan oleh kaum laki-laki terutama remaja (bujangan), tetapi bagi orang yang berusia lanjutpun diperbolehkan asal mempunyai keberanian dan hobi.

Apabila kita membandingkan perkembangan benjang zaman dahulu dengan sekarang pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang begitu mencolok, hanya pertandingan benjang zaman dahulu, apabila pemain benjang masuk ke dalam arena biasanya suka menampilkan ibingan dengan mengenakan kain sarung sambil diiringi musik tradisional yang khas, kemudian setelah berhadapan dengan musuh mereka membuka kain sarung masing-masing, berikut pakaian yang ia pakai di atas panggung, yang tersisa hanya celana pendek saja menandakan dirinya bersih, tidak membawa suatu alat (sportif). Setelah itu, penabuh alat-alat musik benjang dengan penuh semangat membunyikan tabuhannya dengan irama Bamplang (semacam padungdung dalam irama pencak silat), maka setelah mendengar musik dimulailah pertandingan benjang, dalam pertandingan ini karena tidak ada wasit mungkin saja di antara pemain ada yang licik atau curang sehingga bisa mengakibatkan lawannya cidera. Apabila ada seorang pemain benjang posisinya sudah berada di bawah pertandingan seharusnya diberhentikan karena lawannya sudah menyerah.

Namun, karena tidak ada yang memimpin pertandingan (wasit) akhirnya lawan dikunci sampai tidak bisa mengacungkan tangan yang berarti lawannya bermain curang, apabila pemain benjang yang curang itu ketahuan oleh pihak yang merasa dirugikan akan menimbulkan keributan (ricuh) terutama dari penonton, tetapi apabila pemain benjang itu bertanding dengan bersih dan sportif maka pihak yang kalah akan menerimanya walaupun mengalami cidera, sebab sebelumnya sudah mengetahui peraturan pertandingan benjang apabila salah seorang mengalami cidera tidak akan ada tuntutan. Seorang pemain benjang dinyatakan kalah setelah berada di bawah dalam posisi terlentang, melihat tanda seperti itu wasit langsung memberhentikan pertandingan dan lawan yang terlentang tadi dinyatakan kalah (sekarang). Pertandingan benjang seperti zaman dahulu sudah tidak dilakukan lagi, sebab sekarang sudah ada wasit yang memimpin pertandingan, dan dilaksanakan di atas panggung yang memakai alas semacam matras sehingga tidak begitu membahayakan pemain benjang (tukang benjang).

Sedangkan mengenai teknik dan teori benjang dari zaman dahulu sampai sekarang tetap sama tidak berubah, teknik dan teori benjang yang biasa dilaksanakan oleh tukang benjang, antara lain :

1. Nyentok (hentak) kepala

2. Ngabeulit

a. Beulit Gigir,

b. Beulit Hareup,

c. Beulit Bakung,

3. Dobelson

4. Engkel Mati

5. Angkat

6. Dengkekan

7. Hapsay(ngagebot), dan lain-lain

Dalam pertunjukan benjang di masyarakat, jumlah anggota kelompok pemain benjang berkisar antara 20 sampai 25 orang yang terdiri dari satu orang pemimpin benjang, 9 orang penabuh, dan sisanya sebagai pemain. Inti dalam grup benjang ini 15 orang yang tediri atas 9 orang penabuh, 1 pemimpin, 4 pemain, dan 1 wasit.

Walaupun benjang dikatakan sepi tetapi ada beberapa orang pemain benjang yang mencoba terjun ke dunia olahraga gulat dan mereka berhasil menjadi juara, di antaranya:

1. Adang Hakim, tahun 1967 – 1988 asal Desa Cinunuk

2. Abdul Gani, tahun 1969 – 1970 asal Desa Ciporeat

3. Emun, tahun 1974 – 1977 asal Desa Cinunuk

4. Ii, tahun 1978 – 1979 asal Desa Cinunuk

5. Taufik Ramdani 1979 – 1988 asal Desa Cinunuk

6. Asep Burhanudin tahun 2000 asal Desa Cinunuk

7. Tohidin, tahun 2000 asal Desa Cinunuk kategori anak-anak

Ada pengalaman menarik dari Adang Hakim, bahwa ia pernah dikeroyok oleh beberapa orang pemuda yang tidak dikenal, tiba-tiba mereka menyerang mempergunakan pukulan dan tendangan, Adang Hakim dengan tenang dan penuh percaya diri mampu menyelamatkan diri dengan mempergunakan teknik bantingan, sehingga pemuda tadi tidak berkutik dan yang lainnya melarikan diri takut dibanting seperti temannya. Teknik benjang yang selama ini ia geluti, ternyata bisa digunakan untuk membeladiri di alam terbuka, bukan hanya di arena pertandingan saja. Oleh kerena itu seorang pemain benjang harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diri kita selamat dimanapun berada dan selain itu pemain benjang harus selalu ingat pada motto benjang yaitu “jangan sombong dengan kemenangan, dan jangan sedih apabila mengalami kekalahan”.

Benjang dan Gulat

Penulis sangat tertarik sekali melihat teknik-teknik beladiri benjang yang hampir sama dengan gulat, tetapi sebenarnya antara gulat dengan benjang masing-masing mempunyai persamaan dan perbedaan, dalam gulat waktu

A8) Sejarah Bela Diri Bando(Burma)

Wah asyik juga nonton Adjie tadi malam. Ia menuju panggung dengan
pakaian hitam-hitam, kemudian main kembangan silat diiringi musik
Kitaro dan Sunda beberapa jurus dan tampak tenang seperti biasanya.

Lawannya dari Myanmar, Xue Do Won. Tidak jelas latar belakangnya apa,
tapi badannya kuat dan kekar. Yang tampak seram adalah bentuk dahinya
yang seolah menonjol dan keras, (maaf) layaknya dahi Diplodocus di
jaman purba. Pokoknya kalau dibandingkan dengan Adjie, maka ia
kelihatan jauh lebih macho, sedang Ajie tampak seperti anak manis.

Soal bela diri, Myanmar terkenal dengan bela diri Bando-nya. Ilmu
beladiri yang menurut banyak sumber barat sepupunya Muay Thai,
banyak pakai tendangan bawah , pukulan, sikut, dan lutut. Kalau
dilihat dari sejarah dan letak geografisnya, tentu Bando tidak bisa
dipandang remeh. Ia telah diuji dalam ratusan tahun perang antara
bangsa Myanmar melawan bangsa-bangsa tetangganya baik Thailand ,
Champa, China, maupun dalam perang melawan Jepang pada perang dunia
kedua.

Seperti halnya sejarah beladiri China, beladiri diperkenalkan di
Myanmar oleh para rahib Buddhist dari India. Kemudian juga diperkaya
oleh berbagai "style" beladiri China. Secara tradisional berbagai
beladiri Myanmar disebut "Thaing". Layaknya beladiri Asia lainnya, ia
mencakup teknik bersenjata; tongkat, pedang, dan lain-lainnya. Ilmu
tangan kosongnya ada yang mirip tinju, "Lethwei", ada pula yang
berupa gulat, "Naban", yang merupakan turunan ilmu gulat India.
Ketika Jepang menjajah Myanmar , maka seperti halnya Jepang
menggalakkan beladiri tradisonal Indonesia , Pencak Silat, maka
Jepang juga menggalakkan Bando di Myanmar. Tentunya ini dengan pamrih
bahwa sewaktu-waktu "saudara tua" ini bisa pakai tenaga rakyat negeri
jajahan untuk melawan sekutu. Pada masa inilah Bando mendapat
pengaruh belari Jepang macam Judo, jujitsu dan Aikido.

Akan tetapi perlakuan kasar Jepang terhadap rakyat Myanmar membuat
mereka balik memusuhi Jepang. Ketika sekutu hendak merebut kembali
Maynmar dari jepang, bangsa Myanmar dengan kemampuan beladiri unik
suku -suku mereka berbalik melawan Jepang. Konon kemampuan gerilya
yang ditunjang oleh beladiri mereka membuat suku-suku gerilyawan ini
mampu menewaskan banyak pasukan Jepang. Bando kemudian dikagumi para
tentara sekutu, dan dari merekalah Bando kemudian menyebar ke negara
barat.

Ada persaingan turun temurun antara Bando dengan Muay Thai.
Diceritakan soerang pangeran dan petarung Thai, Nai Kanom Thom
ditangkap tentara Myanmar sewaktu menyerbu Thailand dan di bawa ke
Myanmar.Di sana petarung ini diadu dengan 12 petarung Myanmar satu
persatu dengan tangan kosong. Dan atas kemenangannya atas 12 petarung
ini ia bisa mendapatkan kebebasannya kembali dan pulang ke negaranya.
Tapi versi Bando mengatakan Nai Kanom Thom adalah seorang Thai yang
mengemis-ngemis untuk bisa belajar beladiri keraton Burma (Myanmar)
dan setelah mempelajarinya menyebarkan teknik beladiri ini di
Thailand. jadi menurut versi ini Bando lebih tua dari Muay Thai.

Sampai sekarang di perbatasan Thiland dan Myanmar secara rutin
diadakan pertarungan antara pe-Muay Thai dan petarung Myanmar dengan
hadiah sedikit uang tanpa sarung tangan dan tentunya bertanding
tanpa ijin. Bagi orang Myanmar terutama mereka yang jadi pengungsi
akibat represi rejim meliter Myanmar, pertarungan gelap ini adalah
salah satu jalan untuk mempertahankan kelangsungan hidup walau mereka
selalu dibayar lebih rendah dari petarung Thailand menang atau kalah.

Apakah pendekar Myanmar berdahi seram lawan Adjie di Pre Pride ini
dari Bando? Entahlah yang jelas Adjie yang pesilat menang dalam
siaran tunda tadi malam dengan teknik Brazilian Jiu Jitsu melawan Xue
Do Won. "Thank to his BJJ coach Made (Dedy)". Adjie menang teknik
dan ketenangan walau kalah tenaga. Selamat buat Adjie!!

Gedein badannya dong : )

-fuk-
dari berbagai sumber


To unsubscribe from this group, send an email to:
tpi_fc-unsubscribe@yahoogroups.com

Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

TEKNIK DASAR KENDODidalam Kendo modern, terdapat dua (2) jenis cara menyerang, yaitu memukul dan menusuk. Memukul hanya diperbolehkan di empat (4) titik tubuh ; diatas kepala (MEN), sisi kiri dan kanan tubuh (DO) dan bagian lengan bawah (KOTE). Sedangkan menusuk diarahkan ke arah tenggorokan (di Indonesia menusuk ke arah tenggorokan hanya dipelajari, tidak digunakan untuk pertandingan). 

Berlainan dengan anggar (seni berpedang Barat) yang kedua petarungnya melihat sisi samping mereka, dalam Kendo kedua petarungnya saling berhadapan dan masing-masing mengincar ke empat titik sasaran. Karena ke empat titik ini adalah merupakan bagian yang paling sulit.

Dalam sebuah pertandingan kompetisi, pedang bambu (SHINAI) menyentuh 4 titik bagian lawan saja tidaklah cukup, nilai hanya akan diberikan apabila serangan dilakukan dengan sempurna mengenai target yang tepat dengan kontrol yang baik dan disertai teriakan atau yang lebih dikenal dengan sebutan KIAI.Petarung yang mengumpulkan 2 point akan memenangkan pertarungan ini.

QuickTime 7.6.2

QuickTime 7.6.2 berfungsi untuk membantu anda dalam pemutaran video dan audio. Ketika dikombinasikan dengan QuickTime Player dan QuickTime Pro, aplikasi ini bisa menghasilkan format industri end-to-end, cross-platform, standar berbasis sistem pengiriman media digital.

Freeware | File ZIP 20.85 MB| Free download QuickTime 7.6.2

Diposkan oleh knuchan di 08:34 0 komentar

K-Lite Mega Codec Pack 5.05

K-Lite Mega Codec Pack merupakan koleksi codec dan DirectShow filter. Codecs dan DirectShow filter diperlukan untuk encoding dan decoding (memutar) format audio dan video. K-Lite Codec Pack dirancang dengan user-friendly sehingga mudah digunakan untuk pemutaran semua file film atau file audio. Dengan K-Lite codec Pack Anda dapat memainkan semua format audio dan video, bahkan anda bisa memutar beberapa format langka yang jarang kita temukan.

Freeware | File ZIP 19,862 KB | Free download K-Lite Mega Codec Pack 5.05

Diposkan oleh knuchan di 08:34 0 komentar

Smadav 2009 Rev. 7.5

- Penambahan database 103 virus lokal baru
– Penyempurnaan Smad-Behavior untuk menghindari False Positive
– Penambahan beberapa teknik heuristic baru
– Perbaikan bug yang menyebabkan Smadav hang pada saat scanning file tertentu
– Penyempurnaan proteksi dan blacklist untuk penggunaan Smadav Pro bajakan
– Perbaikan bug otomatis refresh pada tampilan tree-directory

Sumber : smadav.net

Freeware | File ZIP 415 KB| Free download Smadav 2009 Rev. 7.5

Diposkan oleh knuchan di 08:27 0 komentar
Langgan: Entri (Atom)

NARUTO


WALLPAPER


NARUTO


SHIPPUDEN


Tampilan slide

Cari Blog Ini

didukung oleh

#uds-searchControl .gs-result .gs-title, #uds-searchControl .gs-result .gs-title *, #uds-searchControl .gsc-results .gsc-trailing-more-results, #uds-searchControl .gsc-results .gsc-trailing-more-results * { color:#99aadd; } #uds-searchControl .gs-result .gs-title a:visited, #uds-searchControl .gs-result .gs-title a:visited * { color:#aa77aa; } #uds-searchControl .gs-relativePublishedDate, #uds-searchControl .gs-publishedDate { color: #777777; } #uds-searchControl .gs-result a.gs-visibleUrl, #uds-searchControl .gs-result .gs-visibleUrl { color: #aadd99; } #uds-searchControl .gsc-results { border-color: #333333; background-color: #000000; } #uds-searchControl .gsc-tabhActive { border-color: #333333; border-top-color: #aadd99; background-color: #000000; color: #cccccc; } #uds-searchControl .gsc-tabhInactive { border-color: #333333; background-color: transparent; color: #99aadd; } #uds-searchClearResults { border-color: #333333; } #uds-searchClearResults:hover { border-color: #aadd99; } #uds-searchControl .gsc-cursor-page { color: #99aadd; } #uds-searchControl .gsc-cursor-current-page { color: #cccccc; } 

MeNuRuT KaLiAn bLoG InI GiMaNa?

About karateamurakediribersemi

amura = sebuah perguruan karate, yang merupakan salah satu aliran karate didunia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s