History Of Karate

1) SEJARAH KARATE DUNIA:

Sejarah karate sampai saat ini tidak begitu jelas, sehingga untuk mengetahuinya sedikit banyak harus mempercayai dari cerita dan legenda.

Ilmu bela diri sebenarnya sudah dikenal semenjak manusia ada, hal ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan purbakala antara lain: kapak-kapak batu, lukisan-lukisan binatang yang dibunuh dengan senjata seperti tombak dan panah.

Bela diri pada waktu itu hanya bersifat mempertahankan diri dari gangguan binatang buas dan alam sekitarnya. Namun sejak pertambahan penduduk dunia semakin meningkat, maka gangguan yang datang dari manusia mulai timbul sehingga keinginan orang untuk menekuni ilmu bela diri semakin meningkat.

Tersebutlah pada 4.000 tahun yang lalu, setelah Sidartha Gautama pendiri Budha wafat, maka para pengikutnya mendapat amanat agar mengembangkan agama Budha keseluruh dunia. Namun karena sulitnya medan yang dilalui, maka para pendeta diberikan bekal ilmu bela diri. Misi yang ke arah Barat ternyata mengembangkan ilmu Pangkration atau Wrestling di Yunani. Misi keagamaan yang berangkat ke arah Selatan mengembangkan semacam, pencak silat yang kita kenal sekarang ini. Salah satu misi yang ke Utara menjelajahi Cina menghasilkan kungfu (belakangan di abad XII, kungfu dibawa oleh pedagang Cina dan Kubilai Khan ke negara Majapahit di Jawa Timur).

Dari Cina rombongan yang ke Korea menghasilkan bela diri yang kemudian kita kenal dengan Taekwondo. Dari Korea ternyata rombongan tidak dapat meneruskan perjalanan ke Jepang, tetapi berhenti hanya sampai di kepulauan Okinawa. Tidak berhasil masuknya rombongan ke Jepang, karena di Jepang saat itu sudah mengembangkan ilmu bela diri Jujitsu, Judo, Kendo dan ilmu pedang (Kenjutsu).

Menurut sejarah sebelum menjadi bagian dari Jepang, Okinawa adalah suatu wilayah berbentuk kerajaan yang bebas merdeka. Pada waktu itu Okinawa mengadakan hubungan dagang dengan pulau-pulau tetangga. Salah satu pulau tetangga yang menjalin hubungan kuat adalah Cina. Hasilnya Okinawa mendapatkan pengaruh yang kuat akan budaya Cina.

Sebagai pengaruh pertukaran budaya itu banyak orang-orang Cina dengan latar belakang yang bermacam-macam datang ke Okinawa mengajarkan bela dirinya pada orang-orang setempat. Yang di kemudian hari menginspirasi nama kata seperti Jion yang mengambil nama dari biksu Budha. Sebaliknya orang-orang Okinawa juga banyak yang pergi ke Cina lalu kembali ke Okinawa dan mengajarkan ilmu yang sudah diperoleh di Cina.

Pada tahun 1477 Raja Soshin di Okinawa memberlakukan larangan pemilikan senjata bagi golongan pendekar. Tahun 1609 Kelompok Samurai Satsuma dibawah pimpinan Shimazu Iehisa masuk ke Okinawa dan tetap meneruskan larangan ini. Bahkan mereka juga menghukum orang-orang yang melanggar larangan ini. Sebagai tindak lanjut atas peraturan ini orang-orang Okinawa berlatih Okinawa-te (begitu mereka menyebutnya) dan Ryukyu Kobudo (seni senjata) secara sembunyi-sembunyi. Latihan selalu dilakukan pada malam hari untuk menghindari intaian. Tiga aliranpun muncul masing-masing memiliki ciri khas yang namanya sesuai dengan arah asalnya, yaitu : Shurite, Nahate, dan Tomarite. Seni bela diri karate pertama kali disebut “Tote” yang berarti seperti “Tangan China”.

Namun demikian pada akhirnya Okinawa-te mulai diajarkan ke sekolah-sekolah dengan Anko Itosu (juga mengajari Gichin Funakoshi) sebagai instruktur pertama. Dan tidak lama setelah itu Okinawa menjadi bagian dari Jepang, sehingga membuka jalan bagi karate masuk ke Jepang. Gichin Funakoshi ditunjuk mengadakan demonstrasi karate di luar Okinawa bagi orang-orang Jepang.

Gichin Funakoshi sebagai Bapak Karate Moderen dilahirkan di Shuri, Okinawa, pada tahun 1868, Funakoshi belajar karate pada Azato dan Itosu. Setelah berlatih begitu lama, pada tahun 1916 (ada yang pula yang mengatakan 1917) Funakoshi diundang ke Jepang untuk mengadakan demonstrasi di Butokukai yang merupakan pusat dari seluruh bela diri Jepang saat itu.Selanjutnya pada tahun 1921, putra mahkota yang kelak akan menjadi kaisar Jepang datang ke Okinawa dan meminta Funakoshi untuk demonstrasi. Bagi Funakoshi undangan ini sangat besar artinya karena demonstrasi itu dilakukan di arena istana. Setelah demonstrasi kedua ini Funakoshi seterusnya tinggal di Jepang. Agar Karate lebih mudah diterima oleh masyarakat Jepang, maka Gichin Funakoshi mengubah kanji Okinawa (Tote = Tangan China) dalam kanji Jepang menjadi ‘karate’ (Tangan Kosong). Karate terdiri dari atas dua kanji. Yang pertama adalah ‘Kara’ dan berarti ‘kosong’. Dan yang kedua, ‘te’ berarti ‘tangan’. Yang dua kanji bersama artinya “tangan kosong”.

Latihan dasar karate terbagi tiga seperti berikut:

1. Kihon, yaitu latihan teknik-teknik dasar karate seperti memukul, menendang, dan menangkis.

2. Kata, yaitu latihan jurus atau bunga karate.

3. Kumite, yaitu latihan laga atau bertarung.

Selama di Jepang pula Funakoshi banyak menulis buku-bukunya yang terkenal hingga sekarang. Seperti “Ryukyu Kempo : Karate” dan “Karate-do Kyohan”. Dan sejak saat itu klub-klub karate terus bermunculan baik di sekolah dan universitas.

Gichin Funakoshi selain ahli karate juga pandai dalam sastra dan kaligrafi. Nama Shotokan diperolehnya sejak kegemarannya mendaki gunung Torao (yang dalam kenyataannya berarti ekor harimau). Dimana dari sana terdapat banyak pohon cemara ditiup angin yang bergerak seolah gelombang yang memecah dipantai. Terinspirasi oleh hal itu Funakoshi menulis sebuah nama “Shoto” yang berarti kumpulan cemara yang bergerak seolah gelombang, dan “Kan” yang berarti ruang atau balai utama tempat muridnya-muridnya berlatih.

Simbol harimau yang digunakan karate Shotokan yang dilukis oleh Hoan Kosugi (salah satu murid pertama Funakoshi), mengarah kepada filosofi tradisional Cina yang mempunyai makna bahwa ’’harimau tidak pernah tidur’’. Digunakan dalam karate Shotokan karena bermakna kewaspadaan dari harimau yang sedang terjaga dan juga ketenangan dari pikiran yang damai yang dirasakan Gichin Funakoshi ketika sedang mendengarkan suara gelombang pohon cemara dari atas Gunung Torao.

Sekalipun Funakoshi tidak pernah memberi nama pada aliran karatenya, murid-muridnya mengambil nama itu untuk dojo yang didirikannya di Tokyo sekitar tahun 1936 sebagai penghormatan pada sang guru. Shotokan adalah aliran karate yang mempunyai ciri khas beragam teknik lompatan (seperti Enpi, Kanku Dai, Kanku Sho dan Unsu), gerakan yang ringan dan cepat. Membutuhkan ketepatan waktu dan tenaga untuk melancarkan suatu teknik.

Gichin Funakoshi percaya bahwa akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk menguasai manfaat dari KATA. Dia memilih kata yang yang terbaik untuk penekanan fisik dan bela diri. Yang mana mempertegas keyakinannya bahwa karate adalah sebuah seni daripada olah raga. Baginya kata adalah karate.

Lalu pada tahun 1949 Japan Karate Association (JKA) berdiri dengan Gichin Funakoshi sebagai instruktur kepalanya. Gichin Funakoshi meninggal pada tanggal 26 April 1957.

Saat ini di negara Jepang, organisasi yang mewadahi olahraga Karate adalah Japan Karate-Do Federation (JKF). Dan organisasi yang mewadahi Karate seluruh dunia adalah WKF (World Karate Federation), (dulu dikenal dengan nama WUKO – World Union of Karate-Do Organizations). Ada pula ITKF (International Traditional Karate Federation) yang mewadahi karate tradisional. Adapun fungsi dari JKF dan WKF adalah terutama untuk meneguhkan olah raga bela diri Karate yang bersifat Non-Contact, berbeda dengan aliran Kyokushin atau Daidojuku yang Full Contact.

Pada saat ini karate dapat dibagi menjadi dua (2) aliran; yaitu aliran tradisional dan aliran olah raga. Aliran tradisional lebih menekankan aspek bela diri dan teknik tempur sedangkan aliran olah raga lebih menumpukan jiwa sportifitas dan teknik-teknik untuk pertandingan olah raga.

(Disadur dari berbagai sumber)


Atau Ini :


Sejarah Karate

Sebuah teori mengatakan bahwa asal mula karate berasal dari ilmu bela diri Okinawa. TE atau OKINAWA-TE adalah seni bela diri asli setempat yang telah mengalami perkembangan berabad-abad lamanya, dan kemudian banyak dipengaruhi oleh teknik perkelahian yang dibawa oleh para ahli seni bela diri Cina yang mengungsi ke Okinawa. Sekitar Abad ke5, seorang pendeta Budha yang terkenal bernama Bodhidharma (Daruma Daishi) mengembara dari India ke Cina untuk menyebarkan dan membetulkan agama Budha yang menyimpang selama ini di Kerajaan Liang di bawah Kaisar Wu. Setelah perselisihannya dengan Kaisar Wu karena perbedaan pandangan dalam ajaran agama Budha, Bodhidharma mengasingkan diri di biara Shaolin Tsu di pegunungan Sung di bagian Selatan Loyang Ibukota Kerajaan Wei. Di situlah dia melanjutkan pengajarannya dalam agama Budha dan menjadi cikal-bakal Sekte Zen.

Para Rahib Budha Cina pada waktu itu begitu lemah badannya, sehingga mereka tidak dapat menjalankan pelajaran-pelajarannya dengan baik. Setelah dia tahu hal ini, dia memberikan Buku Kekuatan Fisik kepada murid-muridnya, suatu buku petunjuk mengenai latihan fisik. Buku ini mengajarkan teknik pukulan yang dinamakan 18 Arhat, yang kemudian menjadi terkenal sebagai Shaolin Chuan. Suatu pendapat lain mengatakan, bahwa cerita di atas tadi adalah dongeng semata-mata. Bagaimanapun juga Bodhidharma adalah anak laki-laki ke-3 (tiga) dari Raja India Selatan. Dan sebagai Pangeran, dia ahli ilmu perang yang menjadi salah satu pendidikannya, hal serupa dengan Sakyamuni. Lagi pula hanya orang dengan pikiran dan badan yang kuat yang dapat mengadakan perjalanan yang demikian jauh dan banyak rintangannya.

Seorang ahli ilmu bela diri lain yang sangat terkenal yang muncul pada jaman Dinasti Sung (920-1279 M) adalah Chang Sang Feng (Thio Sam Hong). Awalnya Chang belajar ilmu bela diri pada Shaolin Tsu , kemudian mengasingkan diri di gunung Wutang (Butong). Di tempat inilah dia mengamati macam-macam gerakan binatang, seperti kera, burung bangau, dan ular. Berdasarkan pengamatannya, dia menciptakan gaya perkelahian yang khas dengan pribadinya yang disebut aliran Wutang. Kalau Shaolin Chuan hanya dipraktekkan oleh para Pendeta Budha, maka aliran Wutang ini diperuntukkan orang awam yang tidak ada ikatan dengan aliran Kuil manapun. Chang mengajarkan supaya menerima pukulan lawan dengan gaya lemah gemulai seperti air yang mengalir dan menyerang dengan satu kepastian untuk mengakhiri perlawanan dengan sekali pukul. Ciptaannya didasari dengan gagasan tentang harus adanya gerak melingkar yang luwes dan gerakan ujung yang tajam. Aliran ini selanjutnya punya dampak yang luas di dalam perkembangan seni bela diri di China. Gaya aliran Wutang ini segera tersebar merata di seluruh Wilayah China bagian utara yang pada masa kemudian akan berkembang menjadi Taichi-Chuan, Hsingi-Chuan, dan Pakua-Chuan.

Masih terdapat banyak tokoh seni bela diri yang menciptakan gaya dan aliran masing-masing. Diantaranya Chueh Yuan yang juga pernah belajar di Shaolin Tsu. Pada tahun 1151-1368 M dia berhasil menciptakan aliran baru dengan cara memperluas 18 pukulan Arhat menjadi 72 jurus. Dia berkeliling ke banyak Wilayah China dan kemudian bertemu dengan Po Yu Feng yang menciptakan pukulan Wu Chuan. Keduanya mengadakan kerja sama menciptakan satu aliran baru yang mencapai 170 macam gaya ilmu pukulan, diantaranya Lima Tinju, Tinju Naga, Tinju Harimau, Tinju Bangau, Tinju Macan Tutul, dan Tinju Ular. Di seluruh Wilayah Cina yang begitu luas, berbagai macam gaya dan aliran bela diri dikembangkan, yang akhirnya menyesuaikan diri dengan sifat-sifat lingkungan di mana gaya dan aliran itu berkembang dan dipraktekkan. Namun pada umumnya, berbagai aliran dan gaya yang ada dapat dibagi menjadi dua aliran yaitu aliran UTARA dan aliran SELATAN.

Aliran Selatan berasal dari daerah Cina Selatan di bagian hilir sungai Yang Tse. Karena beriklim sedang, sumber kegiatan ekonomi yang paling utama di wilayah ini adalah pertanian khususnya beras. Rakyat setempat cenderung bertubuh gempal dan kuat karena kegiatan kerja di sawah. Disamping itu di wilayah selatan terdapat banyak sekali sungai, sehingga alat lalu lintas yang utama adalah perahu. Dengan mendayung sehari-hari menyebabkan badan bagian atas lebih berkembang. Maka dengan demikian aliran selatan ini menekankan pada gaya melentur dan penggunaan tangan dan kepala.

Aliran Utara berkembang di wilayah Cina Utara di bagian hulu Sungai Yang Tse, dimana sifat daerahnya adalah pegunungan. Mengingat di wilayah ini banyak orang terlibat dengan perburuan binatang dan penebangan kayu sebagai sumber nafkah. Maka aliran utara ini lebih menekankan pada gerakan yang lincah dan penggunaan teknik tendangan.

Selama masa peralihan dari Dinasti Ming ke Dinasti Ching, sejumlah ahli bela diri China melarikan diri ke negara lain untuk membebaskan diri dari penindasan dan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh orang-orang Manchu yang menguasai China. Sebagai akibatnya ilmu bela diri China dari Jaman Ming ini disebarkan ke berbagai negara lain termasuk ke Jepang, Korea, Asia Tenggara, dan juga Kepulauan Okinawa. Salah seorang diantaranya Chen Yuan Pao yang menuju ke Jepang, dimana dia selanjutnya mengajarkan gagasan dan teknik Judo. Sampai pada abad ke-15 Kepulauan Okinawa terbagi menjadi 3 (tiga) Kerajaan. Dan pada tahun 1470 Youshi Sho dari golongan Sashikianji berhasil mempersatukan semua pulau di Kepulauan Okinawa di bawah kekuasaannya. Penguasa ke-2 dari golongan Sho, yaitu Shin Sho, menyita dan melarang penggunaan senjata tajam. Kemudian Keluarga Shimazu dari Pulau Kyushu berhasil menguasai Kepulauan Okinawa, tetapi larangan terhadap pemilikan senjata tajam masih terus diberlakukan. Sebagai akibatnya, rakyat hanya dapat mengandalkan pada kekuatan dan ketrampilan fisik mereka untuk membela diri.

Pada saat yang sama, ilmu bela diri dari Cina mulai diperkenalkan di Okinawa melalui para pengungsi yang berdatangan dari Cina yang saat itu sudah dikuasai oleh bangsa Manchu (Dinasti Ching). Diantara para pengungsi itu ada sejumlah ahli seni bela diri dari China. Pengaruh ilmu bela diri dari China ini dengan cepat sekali menjalar ke seluruh Kepulauan Okinawa. Melalui ketekunan dan kekerasan latihan, rakyat Okinawa berhasil mengembangkan sejenis gaya dan teknik berkelahi yang baru yang akhirnya melampaui sumber aslinya. Aliran-aliran seni bela diri Te (aslinya Tode atau Tote) di Okinawa terbagi menurut nama daerah perkembangannya menjadi Naha-te, Shuri-te, dan Tomari-te. Naha-te mirip dengan seni bela diri Cina aliran selatan, khususnya dalam pola gerakan yang dilaksanakan dengan gaya yang kokoh dan sangat tepat bagi orang yang bertubuh besar. Shuri-te mirip dengan seni bela diri Cina aliran utara yang pola gerakannya lebih menekankan kegesitan dan keringanan tubuh. Sementara kaum Shimazu makin memperketat larangan atas pemilikan senjata tajam, latihan pola bela diri Te ini makin berkembang.

Di Jepang sendiri juga telah ada pola bela diri sejak jaman dulu. Diantaranya yang sangat terkenal sampai saat ini ialah gulat Sumo. Dahulu Sumo sifatnya sangat keras dan ganas, dimana para pesertanya diperbolehkan saling pukul dan tendang dan secara mental memang sudah siap mati. Baru pada abad ke-8, pukulan dan tendangan yang mematikan tidak diperbolehkan lagi. Pertandingan Sumo kemudian sudah sangat mirip dengan pertandingan Sumo pada masa sekarang ini. Tokoh seni bela diri China yang mengungsi dari penjajahan bangsa Manchu juga tersebar ke seluruh Jepang. Berbagai macam gaya dan teknik yang mereka sebarkan menyebabkan timbulnya aliran-aliran baru. Di bawah pengaruh dan bimbingan Chen Yuan Pao, aliran Jiu Jitsu atau seni beladiri aliran lunak didirikan oleh beberapa tokoh beladiri Jepang. Konsep bahwa “Kelunakan dapat mengalahkan kekerasan” dinyatakan berasal dari China, dan aliran ini mengembangkan pengaruhnya yang penting pada pola bela diri lainnya. Diantaranya yang sangat populer ialah Judo yang didirikan oleh Jigoro Kano.Karena keuletannya untuk meneliti, melatih, dan mengembangkan diri, Judo telah berhasil diterima merata di seluruh Jepang sebagai satu cabang olah raga modern.

Pada tahun 1923, Gichin Funakoshi yang lahir di Shuri, Okinawa pada tahun 1869 untuk pertama kalinya memperagakan Te atau Okinawa-Te ini di Jepang. Berturut-turut kemudian pada tahun 1929 tokoh-tokoh seperti Kenwa Mabuni, Choyun Miyagi berdatangan dari Okinawa dan menyebarkan karate di Jepang. Kenwa Mabuni menamakan alirannya Shitoryu, Choyun Miyagi menamakan alirannya Gojuryu, dan Gichin Funakoshi menamakan alirannya Shotokan. Okinawa Te ini yang telah dipengaruhi oleh teknik-teknik seni bela diri dari Cina, sekali lagi berbaur dengan seni bela diri yang sudah ada di Jepang, sehingga mengalami perubahan-perubahan dan berkembang menjadi Karate seperti sekarang ini. Berkat upaya keras dari para tokoh ahli seni bela diri ini selama periode setelah Perang Dunia II, Karate kini telah berkembang pesat ke seluruh dunia dan menjadi olah raga seni bela diri paling populer di seluruh dunia. Masutatsu Oyama sendiri kemudian secara resmi mendirikan aliran Karate baru yang dinamakan Kyokushin pada tahun 1956.

 

2)   SEJARAH SINGKAT AMURA KARATE-DO INDONESIA

SEJARAH

AMURA KARATE-DO INDONESIA

 

 

Perguruan Olah Raga Seni Beladiri Karate-Do ini didirikan di Bandung pada tahun 1965, mengenai kapan tanggal didirikannya tidak ada satupun yang mengetahuinya. Perguruan Amura Karate-Do Indonesia biasa disebut AMURA, AMURA juga dapat diartikan sebagai Ajang Membina Ulet Raga.

 

Keberadaan Perguruan AMURA dimana Bpk. H. Moch Ramli, SH selaku Ketua Umum dikala itu memang diakui oleh FORKI (Federasi Olah Raga Karate-Do Indonesia), dikarenakan AMURA turut ikut berperan serta juga atas berdirinya Organisasi FORKI dan menjadi salah satu dari anggotanya. Akan tetapi karena tidak ada kegiatan yang dilakukan oleh Perguruan AMURA sampai pertengahan tahun 1989, maka Perguruan AMURA dinyatakan oleh FORKI sebagai salah satu Perguruan Non Aktif sehingga tidak dapat diikutsertakan pada setiap kegiatan FORKI.

 

Pada tanggal 11 September 1989 Bpk. H. Moch Ramli, SH selaku Ketua Umum Perguruan Amura Karate-Do Indonesia, ketika itu menulis surat yang ditujukan langsung kepada Pengurus Besar FORKI (PB. FORKI), perihal pernyataan Pelimpahan Kepengurusan Organisasi Perguruan Amura Karate-Do Indonesia kepada Sensei Tadjuddin Mustadjab dan Sensei J. Bram polana, untuk mengurus, menggerakkan serta menjalankan Roda Organisasi Perguruan Amura Karate-Do Indonesia sekaligus menyatakan bahwa perpindahan alamat sekretariat pusat yang semula beralamat di Jl. Balong Gede No. 41 Bandung, kemudian dialihkan ke Jl. Balok No.11 Kamp. Ambon – Jakarta 13210 Telp./Fax. (021) 4895251, hal ini tertera dan tertuang pada surat No.001/AMR/X/89 tertanggal 11 September 1989 yang ditandatangani sendiri oleh Bpk. H. Moch. Ramli, SH secara personal selaku Ketua Umum Amura Karate-Do Indonesia .

 

Perlu diketahui bahwa Perguruan Amura Karate-Do Indonesia pada saat itu tidak memiliki personil berupa Kepengurusan Organisasi terkecuali Bpk. H. Moch. Ramli, SH sendiri secara personal, untuk selanjutnya surat tersebut sah-sah saja diterima oleh PB. FORKI, kemudian disusul dengan surat No.002/AMR/XI/89 tertanggal 10 Nopember 1989 yang ditujukan langsung kepada PB. FORKI juga, perihal afiliasi teknik Karate Perguruan Amura Karate-Do Indonesia yaitu menggunakan Aliran Wado (Wado Ryu). Kemudian mengenai Susunan Kepengurusan Pusat sejak dikeluarkannya surat tersebut secara teknis Perguruan Amura Karate-Do Indonesia telah diserahkan langsung kepada Sensei Tadjuddin Mustadjab dan Sensei J. Bram Polana .

 

Adapun aliran yang dipakai oleh Perguruan Amura Karate-Do Indonesia adalah Aliran Wado (Wado Ryu). Karena duet Sensei J. Bram Polana dan Sensei Tadjuddin Mustadjab merupakan Representatif (Perwakilan) dari Wado International Karate-Do Federation (WIKF) untuk Indonesia yang dipimpin langsung oleh Sensei Professor Tatsuo Suzuki DAN 8 Hanshi sebagai Chief Director of WIKF.

 

Atas dasar surat tersebut secara praktis Perguruan Amura Karate-do Indonesia dilanjutkan oleh Trio Pendiri Amura Karate-do Indonesia yaitu :

 

¯ H. Moch. Ramli, SH sebagai Ketua Umum

 

¯ J. Bram Polana sebagai Ketua Harian/KAKOMTEK Pusat

 

¯ Ir. Tadjuddin Mustadjab sebagai Ketua Dewan Guru

 

Untuk melihat perkembangan Karate-Do aliran WADO (WADO RYU) khususnya WIKF (Wado International Karate-Do Federation) Indonesia yang di percayakan/di pimpin oleh duet Sensei J. Bram Polana dan Sensei Tadjudin Mustadjab. Pada tanggal 7 Maret 1990 Sensei Tatsuo Suzuki (Chief Director of WIKF) menyempatkan diri singgah di Indonesia dalam kunjungannya ke Negara-negara Eropa dan Australia, serta membuka Gashuku Nasional 1 (pertama), Amura (WIKF) Karate-Do Indonesia Cibubur pada tanggal 10 – 11 maret 1990, yang di hadiri sebanyak 690 Karate-Ka dari DKI, Jawa Barat dan Sumatera Selatan (Palembang).

 

 

Gambar : Sensei Suzuki (tengah) bersama J. Sensei Bram Polana (kedua dari kanan) dan para atlet KOSGORO Cup 1.

 

Selama di Indonesia Sensei Tatsuo Suzuki melatih Karate-Ka-Karateka-Ka Amura dalam persiapannya menghadapi KOSGORO CUP 1 yang diadakan pada tanggal 12 – 15 Maret 1990 dan menguji Karate-Ka sabuk cokelat serta sabuk hitam untuk kenaikan tingkat, serta meresmikan keberadaan aliran Wado (WADO RYU) diperguruan Amura tersebut.

 

Untuk meyakinkan PB. FORKI bahwa Perguruan Amura Karate-Do Indonesia adalah beraliran Wado (Wado Ryu) dengan Logo / Lambang berupa gambar BURUNG MERPATI yang melambangkan Perdamaian dengan LINGKARAN BERWARNA MERAH melambangkan Dunia sehingga Wado Ryu bertujuan untuk mendamaikan dunia melalui olah raga seni beladiri Karate. Kemudian Sensei J. Bram Polana dan Sensei Tadjuddin Mustadjab mengundang Pimpinan Wado International Karate-Do Federation (WIKF) Yaitu Sensei Professor Tatsuo Suzuki DAN 8 Hanshi sebagai Chief Director of WIKF untuk meresmikan Perguruan Amura Karate-Do Indonesia yang dipimpin oleh Sensei J. Bram Polana dan Sensei Tadjuddin Mustadjab adalah berafiliasi teknik kepada WIKF yaitu Aliran Wado (Wado Ryu). Pada tanggal 10 Maret 1990 kunjungan kehormatan Pakar Karate-DO dari JEPANG Aliran Wado (WADO RYU) yaitu Sensei Prof. Tatsuo Suzuki menyempatkan diri untuk memberikan beberapa buku Karate Sensei Tatsuo Suzuki dan berupa vandal perguruan Amura Karate-Do Indonesia dan diterima dengan sangat baik oleh Ketua Harian PB. FORKI yaitu Bpk. Adam Saleh untuk meminta restu bahwa Perguruan Amura Karate-Do Indonesia beraliran Wado (Wado Ryu). Dengan didampingi oleh Sensei J. Bram Polana dan Sensei Tadjuddin Mustadjab serta beberapa Pengurus Pusat Amura Karate-Do Indonesia Lainnya. Tetapi sangat disayangkan bahwa pada acara tersebut tidak dapat dihadiri oleh Ketua Umum Amura Karate-Do Indonesia Yaitu Bpk. H. Moch. Ramli, SH.

 

Gambar : Bpk. Adam Saleh selaku Ketua Harian PB. FORKI dan Sensei Prof. Tatsuo Suzuki DAN 8 Hanshi bersama Pengurus Pusat Amura Karate-do Indonesia.

 

Gambar : Sensei Suzuki memberikan kenang-kenangan berupa buku-buku karate versi Tatsuo Suzuki dan juga berupa vandal perguruan Amura Karate-Do Indonesia kepada Bpk. Adam Saleh selaku Ketua Harian PB. FORKI.

 

Pada kesempatan itu pula Sensei Tatsuo Suzuki banyak memberikan nasehat dan saran yang membangun bagi perguruan Amura Karate-Do Indonesia serta latihan bersama sehingga dapat menambah wawasan didunia perkaratean aliran Wado (Wado Ryu) kepada dewan guru, pelatih, atlet dan khususnya Sensei J. Bram Polana dimana secara pribadi beliau sering berkomunikasi dengan Sensei Tatsuo Suzuki dalam mengikuti perkembangan Karate Aliran Wado (Wado Ryu) bahkan Sensei J. Bram Polana diterima dengan sangat baik dan ditunjuk sebagai Authorized Representative (perwakilan) of WIKF in Indonesia oleh Sensei Tatsuo Suzuki.

 

 

 

Gambar :

 

Sensei J. Bram Polana merupakan Authorized Representative of WIKF di Indonesia yang ditunjuk langsung oleh Sensei Prof. Tatsuo Suzuki DAN 8 Hanshi.

 

Prestasi Amura (WIKF) Karate-Do Indonesia didunia perkaratean Nasional cukup meningkat tajam, terbukti dengan berkembangnya dan terbentuknya dojo-dojo baru di daerah-daerah serta lahirnya atlit-atlit berbakat sehingga Amura (WIKF) karate-Do Indonesia merupakan salah satu perguruan Karate-Do anggota FORKI yang sebelumnya tidak di kenal bahkan dinyatakan tidak aktif, tapi saat sekarang dapat di perhitungkan terutama dalam ajang turnamen kejuaraan daerah, terbuka maupun nasional.

 

Sensei J. Bram Polana dan Sensei Tadjuddin Mustadjab harus bekerja keras menjalankan Roda Organisasi Amura Karate-Do Indonesia, disebabkan PB. FORKI akan menerima dan menyatakan Perguruan Amura Karate-Do Indonesia adalah sebagai anggota FORKI apabila dapat memiliki minimal 5 (lima) Pengurus Daerah dalam jangka waktu 3 bulan. Sejak saat itu Sensei Tadjuddin Mustadjab mulai membuka Pengda – Pengda (Pengurus Daerah) antara lain : Pengda Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan kalimantan Selatan sedangkan Sensei J. Bram Polana menata kembali Pengda – Pengda yang sudah berdiri dikala itu antara lain : Pengda DKI Jakarta meliputi Dojo (Tempat Latihan) di BAPINDO, Kampus LPT YAI, PSKD – I, BPK (jl. Gatot Soebroto), Balai Krisda, SMP 87 Grogol, Kanisius (Goganza), Departemen Perhubungan METEO (Meteorologi dan Geophisika), SMP Fransiskus II, SMP 59 (jl. Bendungan Jago Kemayoran), SD Ports Serdang Kemayoran, SMP 89 Tanjung Barat – Jakarta Barat dan Pengda Jawa Barat meliputi Dojo PT. INS (Indonesia Nihon Seima) Tangerang, Perum Bumi Bekasi Baru, Rindam III Siliwangi (jl. Manado Baru), dan Perum Total Persada Tangerang.

 

Dalam kurun waktu tidak terlalu lama terbentuklah Pengda – Pengda di seluruh daerah berkat ketekunan dan keuletan Sensei J. Bram Polana. Atas usaha beliau yang tidak mudah menyerah, akhirnya dalam waktu singkat beliau dapat mendirikan beberapa Pengda di seluruh Indonesia antara lain : Pengda Jawa Tengah, Bali, Sumatera Barat ,Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, Sumatera Selatan (Palembang), Kalimantan Tengah, Sulawaesi Tenggara, Sulawaesi Utara, terakhir Kalimantan Barat.

 

Sejak terbentuknya Amura Karate-Do Indonesia yang dipimpin oleh Trio H. Moch. Ramli, SH sebagai Ketua Umum, J. Bram Polana sebagai Ketua Harian/KAKOMTEK Pusat, Ir. Tadjuddin Mustadjab sebagai Ketua Dewan Guru. H. Moch. Ramli, SH selaku Ketua Umum Amura Karate-Do Indonesia tidak banyak terlibat aktif dalam Roda Organisasi baik Internal maupun External (yaitu kegiatan FORKI) sehingga terjadi dilema dan kemelut didalam tubuh organisasi Amura Karate-Do Indonesia sendiri terutama pada pengurus pusat maupun pengurus daerah. Akibatnya banyak pengurus pusat maupun pengurus daerah beralih keperguruan lain atau menon-aktifkan diri (tidak mengaktifkan diri) dan mengundurkan diri secara lisan tanpa surat tertulis.

 

Namun karena kesibukan Sensei Tadjuddin Mustadjab selaku Ketua Dewan Guru Amura Karate-Do Indonesia lebih banyak berpartisipasi pada organisasi PB. FORKI sebagai Dewan Wasit PB. FORKI, sehingga kesehatan beliau mulai terganggu dan sering sakit-sakitan. Akhirnya pada awal tahun 2006 beliau wafat dengan damai. Secara teknis Roda Organisasi Amura Karate-Do Indonesia diambil alih dan digerakkan sendiri oleh Sensei J. Bram Polana. Sampai saat ini Pengda Amura Karate-Do Indonesia yang masih aktif dan diketahui keberadaanya antara lain sebagai berikut : Pengda DKI Jaya, Pengda Jawa Barat, Pengda Jawa Timur, Pengda Banten, Pengda Kalimantan Tengah, Pengda Kalimantan Barat, Pengda Sumatera Selatan, Pengda Sumatera Barat, Pengda Jambi, Pengda Bangka Belitung (Ba-Bel) dan Pengda Papua.

 

Atas dorongan beberapa pengurus pusat maupun daerah agar Sensei J. Bram Polana secara terus menerus meminta kepada Bpk. H. Moch. Ramli, SH untuk aktif dan dapat meluangkan waktunya sebagai Ketua Umum agar dapat memberikan perhatiannya terhadap organisasi Amura Karate-Do Indonesia serta tidak melepas tanggung jawabnya sebagai Ketua Umum. Akibat tindakan Bpk. H. Moch. Ramli, SH selaku Ketua Umum sampai sedemikian rupa, Sensei J. Bram Polana meminta kepada pengurus Daerah untuk langsung menghubungi Ketua Umum baik dengan surat-menyurat maupun melalui telepon namun tidak ada jawaban yang diharapkan. Karena masa kepengurusan sudah kadaluarsa (habis masa waktunya) mulailah pengurus-pengurus daerah menanyakan dan merencanakan untuk mengadakan MUNAS atau KONGRES/RAKERNAS dan kemudian ditujukan langsung kepada Bpk. H. Moch. Ramli, SH selaku Ketua Umum akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali ketika itu. Kondisi perguruan Amura Karate-Do Indonesia semakin rumit disusul dengan terbentuknya Amura Karate-Do Indonesia yang baru dan diperkuat dengan sebuah pernyataan adanya perubahan pengurus organisasi dan logo/lambang Amura Karate-Do Indonesia yang ternyata Bpk H. Moch. Ramli, SH selaku Ketua Umum telah membentuk kepengurusan organisasi Amura Karate-Do Indonesia dengan beranggotakan personil dari Ex. / Mantan FKTI ( Federasi Karate-Do Tradisional Indonesia ) dengan nama Perguruan Amura Karate-Do Indonesia disingkat AKSI dengan lambang/logo yang sekarang terdaftar di FORKI yaitu Gambar Burung Merpati Putih dan Lingkaran Merah diubah menjadi Bulan Sabit berwarna merah.

 

Secara mengejutkan, PB. FORKI mengeluarkan SK. pengesahan Pengurus Pusat dan Dewan Guru Amura Periode 2007-2012 dengan SK. no. 29/KPTS/PBFK/KU/IX//07 tertanggal 11 September 2007 yang ditanda tangani oleh Luhut B. Pandjaitan, MPA selaku Ketua Umum PB. FORKI dan Sekretaris Jenderal Drs. H. Hendardji S, SH (surat terlampir) dan surat edaran mengenai pergantian logo/lambang Amura No. 205/PB.FORKI-Sekjen/XI/07 tertanggal 14 September 2007 yang ditandatangani oleh Drs. H. Hendardji S, SH (surat terlampir). Awalnya Sensei J. Bram Polana menerima kabar justru dari daerah – daerah bahwa telah diturunkan SK. FORKI mengenai Susunan Kepengurusan, logo, dan Afiliasi Teknik yang baru (Multi Aliran – 4 Aliran antara lain Shotokan, Wado Ryu, Shito Ryu dan Goju Ryu) kemudian berdasarkan berita yang telah dimuat pada salah satu media elektonik serta media cetak, AKSI (New AMURA) mempublikasikannya. Bahwa telah diturunkan SK. FORKI mengenai Susunan Kepengurusan, logo, dan Afiliasi Teknik yang baru (Multi Aliran – 4 Aliran). 14 Pengda AMURA (WIKF) KARATE-DO INDONESIA yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia pada saat itu sangat kaget dan terkejut mendengar berita tersebut dan langsung mengkonfirmasi dan memohon klarifikasi kepada beliau bagaimana hal ini bisa terjadi dan kenapa seluruh Pengda Amura tidak mendapat konfirmasi sebelumnya mengenai perubahan / pergantian Susunan Kepengurusan, logo, dan Afiliasi Teknik yang baru (Multi Aliran – 4 Aliran). Sensei J. Bram Polana juga sangat terkejut bahwa beliau tahu berita tersebut justru dari seluruh Pengda di Indonesia, sedangkan beliau sendiri tidak diberi tahu, tidak dikonfirmasi dan tidak diinformasikan oleh Bpk. H. Moch. RAMLI, SH selaku Ketua Umum Amura Karate-do Indonesia akan hal ini. Secara tiba-tiba SK. FORKI mengenai Susunan Kepengurusan, logo, dan Afiliasi Teknik yang baru (Multi Aliran – 4 Aliran) diturunkan dan dipublikasikan. Kemudian 14 pengda AMURA (WIKF) KARATE-DO INDONESIA sangat geram atas tindakan otoriter yang telah dilakukan oleh Bpk. H. Moch. RAMLI, SH selaku Ketua Umum Amura Karate-do Indonesia secara sepihak, “ TANPA ADANYA MUNAS, TANPA ADANYA KONFIRMASI dan MUSYAWARAH KEPADA SENSEI J. BRAM POLANA SELAKU KETUA HARIAN dan SENPAI ALBERTUS NICO SELAKU SEKRETARIS UMUM AMURA KARATE-DO INDONESIA”. Bpk. H. Moch. RAMLI, SH selaku Ketua Umum Amura Karate-do Indonesia bertindak sendiri dan secara sepihak untuk mengambil alih seakan-akan beliau yang memiliki perguruan ini sendiri. Oleh karena itu seluruh Pengda Amura Karate-do Indonesia mengajukan permohonan penolakan kepada Sensei J. Bram Polana untuk membuat SK. penolakan terhadap SK. FORKI yang secara sepihak telah dikukuhkan untuk kemudian ditembuskan kepada PB. FORKI dan Ketua Perguruan – perguruan. Menurut Sensei J. Bram Polana hal ini tidak dapat diselesaikan tanpa adanya surat pernyataan mengenai sikap penolakan tersebut dan dukungannya atau penunjukannya, selain itu pula harus ada pembenahan pengurus didalam tubuh organisasi, terutama di pusat yang pada saat itu tidak lengkap. Terutama dalam hal ini yang paling geram dan sakit hati adalah Amura Pengda JABAR disebabkan mereka tidak mendapat informasi maupun konfirmasi dari H. Moch. RAMLI, SH selaku KETUA UMUM AMURA PENGDA JABAR, justru mereka mendapat informasi dari mass media. Padahal Bpk. H. Moch. RAMLI, SH selaku KETUA UMUM AMURA PENGDA JABAR berdomisili sama-sama di Bandung, tapi mereka tidak mendapat konfirmasi secara langsung dari beliau. Akan tetapi FORKI Pengda JABAR masih tetap mengakui Amura Wadoryu.

 

Hal ini menimbulkan kekecewaan yang sangat luar biasa terhadap pengurus organisasi yang ada dan tidak mengetahui sebelumnya, dimana menurut beberapa pengurus pusat maupun daerah mengenai keputusan perubahan ini tidak dilaksanakan secara organisatoris serta tidak sesuai dengan AD/ART perguruan Amura Karate-Do Indonesia yang seharusnya melalui hasil MUNAS. Apakah tindakan PB. FORKI dapat dibenarkan? Anehnya lagi khususnya Amura Karate-Do Indonesia Pengda Jawa Barat “ menurut Sensei J. Bram Polana Pengda Jawa Barat merupakan salah satu Pengda yang sangat aktif dan pengurusnya mengerti akan organisasi ” dimana susunan pengurus daerah Jawa Barat termasuk Bpk H. Moch. Ramli, SH selaku Ketua Umum Pengda Jabar (merangkap juga sebagai Ketua Umum Amura Pusat) diubah juga susunan pengurus Amura Pengda Jabar tanpa sepengetahuan pengurus yang aktif lainnya.

 

Mengenai peristiwa tersebut Sensei J. Bram Polana dan seluruh pengurus, khususnya pengurus Amura Pengda Jawa Barat, menganggap bahwa Sdr. H. Moch. Ramli, SH selaku Ketua Umum telah memisahkan diri dari kepengurusan Amura Karate-Do Indonesia yang beraliran Wado dikarenakan telah membentuk kepengurusan baru bersama-sama dengan putranya yaitu Soni Ramli, SH, LLM selaku Sekretaris Umum dan Ex./mantan anggota FKTI (Federasi Karate-Do Tradisional Indonesia) diantaranya adalah ;

 

– Sdr. Abdul Latief – Sdr. Suyana

 

– Sdr. Ucok Marisi, SH, MM – Sdr. Anang Kadriansyah

 

– Sdr. Syahril Ossen, SE – Sdr. Nurief Muda’af

 

– Sdr. Tengku Adisyam

 

Dengan nama Amura Karate-Do Indonesia (AKSI) berlambangkan bulan sabit merah dan memiliki konsep multi aliran antara lain : Shotokan, Shito Ryu, Goju Ryu dan Wado Ryu. Hal tersebut menurut AD/ART FORKI seharusnya tidak didukung / diterima begitu saja sebagai anggota baru oleh PB. FORKI yang jelas tertera pada ART FORKI BAB III perihal Keanggotaan Pasal ke-5 yang berbunyi ;

 

Pasal 5.2. “ Perguruan Karate-Do anggota FORKI harus mempunyai minimal 5 (lima) pengurus daerah”

 

Pasal 5.3. “ FORKI tidak lagi menerima penambahan keanggotaan Organisasi perguruan Karate-Do yang baru.

 

Sampai saat ini Perguruan Amura Karate-Do Indonesia yang menganut konsep Aliran Wado (Wado Ryu) dibawah kepemimpinan Sensei J. Bram Polana masih berjalan seperti sediakala. Ada beberapa daerah seperti Pengda Amura Kalimantan Barat dan Pengda Sumatera Barat. Pada akhirnya secara mengejutkan kedua pengda tersebut mengekor kepada AMURA (AKSI), sehingga kondisi Perguruan Amura Karate-Do Indonesia saat ini dapat diasumsikan memiliki 2 kelompok / kubu / grup (istilahnya bisa disebut seperti itu) yaitu AMURA (WADO RYU) dan AMURA (AKSI) yang memiliki konsep multi aliran. Perlu diketahui bahwa kedua Pengda tersebut diatas merupakan gabungan dari perguruan lain melainkan bukan Karate-ka Wado asli seperti Amura Pengda Sumatera Barat awalnya berasal dari Perguruan GOKASI dan Amura Pengda Kalimantan Barat berasal dari Perguruan KKI. Kemudian Sensei J. Bram Polana dikejutkan kembali dengan bermunculan pengda baru yaitu Amura (Wado Ryu) Pengda Nangroe Aceh Darussalam, mereka berafiliasi teknik ke Wado Ryu tetapi menggunakan logo / lambang Amura (AKSI).

 

Inilah sekilas perjalanan Perguruan Amura Karate-Do Indonesia berafiliasi teknik kepada aliran Wado (Wado Ryu), hanya tinggal menunggu hasil MUNAS / MUNASLUB Perguruan Amura (WIKF) Karate-Do Indonesia yang akan segera direncanakan .

 

“ Kami Keluarga Besar Amura (WIKF) Karate-Do Indonesia mengharapkan agar PB. FORKI dapat meninjau kembali atas tindakannya terhadap SK. tersebut diatas sesuai dengan Anggaran Dasar (AD) Anggaran Rumah Tangga (ART) FORKI atau menyimpang dari AD maupun ART FORKI serta dapat merenungkan bagaimana tugas PB. FORKI yang seharusnya dapat membina, mengayomi dan menjembatani seluruh perguruan-perguruan anggota FORKI di Indonesia”.

3) SEJARAH KARATE AMURA KEDIRI:

AMURA KEDIRI :

Didirikan Pada Tanggal 24 Desember 2010. Didirikan Oleh Ahamad Yani di SMP GROGOL KEDIRI.

Amura Kediri Terletak di Kecamatan Grogol,Kabupaten Kediri. Ini Ketika Kepala Sekolah SMP GROGOL KEDIRI. Menyetujui Surat Proposal dari Amura Kediri yang Disetujui Oleh Kepala Sekolah Smp GROGOL KEDIRI. Maka Berdirilah AMURA KEDIRI Sampai Saat Ini.

 

 

 

 

 

About karateamurakediribersemi

amura = sebuah perguruan karate, yang merupakan salah satu aliran karate didunia.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s